Minggu, 25 Juli 2010

Belahan Jiwa

Ini sudah hari ketujuh Fahri menghilang. Tidak ada sms,,..,tidak ada telepon. Laras sudah berusaha mencari, mulai dari tempat kos, kampus sampai ke sekretariatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Hasilnya tetap nihil..,tidak ada satu pun orang yang tau kemana Fahri pergi. “ Sudahlah ras..,ngapain mikirin dia terus..,belum tentu dia mikirin kamu.” “Kok kamu ngomongnya gitu sih Jeng..” “Aku nggak mau lihat kamu sedih terus.” “Ajeng,.kamu nggak ngerti perasaanku. Aku itu kepikiran, aku takut Fahri kenapa-kenapa.” Ajeng menghela nafas panjang. Dia bingung, dia nggak mau melihat Laras terus-menerus bersedih. Tapi dia nggak tau apa yang harus dia lakukan. Sejak awal dia tidak setuju kalau Laras berpacaran dengan Fahri. Firasatnya mengatakan kalau Fahri tidak serius pada Laras.

Perkenalan Laras dan Fahri terjadi sejak dua tahun lalu. Saat itu mereka berdua sama-sama aktif di organisasi kampus. Mereka tergabung dalam satu departemen yang sama, departemen sosial dan politik. Mereka semakin dekat karena pernah terlibat dalam satu acara kepanitiaan, dimana Fahri menjadi ketua umum dan Laras sekretarisnya. Saat itu Laras tidak memiliki perasaan apapun pada Fahri, karena saat itu dia masih berstatus sebagai pacar Dimas. Perasaan itu muncul ketika Laras melihat Fahri presentasi di depan kelas. Laras merasa jatuh cinta saat melihat performance Fahri. Gaya bicaranya dan body language Fahri saat presentasi benar-benar memukau. Sejak hari itu dan hari-hari setelahnya, pikiran dan hati Laras hanya ada Fahri.

“Ya ampun jeng, belum pernah aku merasa seperti ini, hmm...mungkin aku sudah benar-benar jatuh cinta pada Fahri.” “Sadar...,kamu kan sudah punya Dimas.” “Aku tau jeng, perasaan ini nggak seharusnya. Tapi aku nggak bisa mencegahnya. Siapa yang bisa mencegah hati.” “Harusnya bisa kalau kamu benar-benar setia dengan komitmen kamu pada Dimas.” Laras diam, dia merasa apa yang Ajeng katakan adalah benar. Harusnya dia sadar kalau sudah ada Dimas dalam kehidupannya. Harusnya dia bisa menjaaga komitmennya pada Dimas yang sudah terjalin selama hampir dua tahun. Dia sadar kalau perasaannya pada Fahri adalah sebuah bentuk pengkhianatan. Tapi dia tidak berdaya, dia tidak sanggup mencegah hatinya yang mulai terbagi. Pesona Fahri benar-benar memikatnya.

Di mata Laras dan mata perempuan-perempuan lainnya, Fahri adalah laki-laki yang begitu sempurna. Dia tampan, cerdas, aktifis kampus dan penuh kharisma. Tidak hanya Laras yang tergila-gila padanya, ada beberapa perempuan yang telah terjerat pesona Fahri. Muhammad Fahri Al-Faridzi adalah mahasiswa jurusan hubungan internasional semester tujuh. Dia dikenal sebagai mahasiswa yang vokal, cerdas dan punya banyak prestasi walaupun sibuk dengan aktifitas organisasi yang padat, maklum sekarang dia menjabat sebagai presiden BEM.

Semakin hari perasaan Laras pada Fahri semakin mengakar. Hingga dia berani meninggalkan Dimas hanya demi Fahri. Laras rela meninggalkan Dimas, orang yang nyata-nyata mencintainya selama dua tahun ini. “Aku nggak bisa terus menerus membohongi Dimas, suadah tidak ada lagi cinta untuknya. Semua sudah aku serahkan pada Fahri. Semua ruang dalam hatiku sudah terisi oleh Fahri. Tidak ada lagi tempat yang tersisa, termasuk untuk dimas.” “Semua itu terserah kamu ras, sebagai sahabat aku Cuma ingin melihat kamu bahagia. Kalau keputusan ini bisa membuat kamu bahagia ya aku setuju aja.” “Makasih ya jeng, kamu mang best fren ku banget.”

Setahun setelah Laras memutuskan Dimas, dia memilih untuk sendiri. Memilih untuk mencintai Fahri, bertahan dengan perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Tidak ada yang berubah antara Laras dan Fahri. Semuanya masih sama, tidak ada yang istimewa. Bahkan hubungan mereka semakin renggang sejak Laras memutuskan untuk tidak aktif lagi dalam BEM. Laras dan Fahri juga tidak pernah satu kelas lagi. Maklum, semakin banyak semester semakin sedikit kelas lintas jurusan. Laras dan Fahri memang berbeda jurusan. Laras jurusan ilmu politik sedangkan Fahri jurusan hubungan internasional.

Kedekatan mereka terjalin lagi saat keduanya terpilih sebagai duta kampus untuk mengikuti acara pekan ilmiah mahasiswa tingkat nasional. Acara yang berlangsung selama sepuluh hari itu mampu membuat mereka berdua dekat kembali. Laras begitu bahagia karena selama acara berlangsung Fahri begitu perhatian padanya. Setiap hari ponsel Laras tidak pernah absen mendapat sms dari Fahri. Menjelang malam sebelum tidur Fahri tidak pernah absen untuk menelpon Laras. Laras berharap acara ini tidak akan berakhir, sebab dia takut kalau acara ini berakhir hubungannya dengan Fahri juga ikut berakhir.

Ketakutan Laras tidak terbukti, selesainya acara itu tidak membuat ceritanya dan Fahri ikut selesai. Mereka semakin dekat bahkan terlihat semakin mesra. Tiap hari Fahri selalu mengantar jemput Laras ke kampus. Ajeng yang awalnya meragukan keseriusan Fahri sedikit-sedikit mulai berubah pikiran. Dia mulai mempercayai Fahri, karena dia tahu bahwa hanya Fahri yang bisa membuat Larasa bahagia.

Penantian Laras berakhir sejak enam bulan lalu. Laras tidak lagi berada dalam cinta yang beretepuk sebelah tangan. Enam bulan lalu Fahri membalas cinta Laras. Itu adalah hari yang paling membahagiakan bagi Laras. Hari yang telah lama ia nantikan, cintanya telah terbalas. Laras tidak lagi hidup dalam harapan kosong. Kini ia bisa mencintai dan dicintai oleh Fahri. Laki-laki paling sempurna yang pernah ia lihat.

Selama ini hubungan Laras dan Fahri berjalan lancar. Semua berjalan baik-baik saja. Laras merasa sangat bahagia karena Fahri tidak pernah surut menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya. Disela-sela kesibukannya Fahri selalu menyempatkan diri untuk menemanai Laras. Sekalipun tidak selama tujuh kali dalam seminggu mereka bersama, itu sudah cukup membuat Laras bahagia. Laras paham, itu adalah resikonya berpacaran dengan seorang aktivis.

Tetapi semua itu mulai berubah selama sebulan terakhir. Fahri mulai jarang sms, tidak pernah lagi ada telepon. Fahri sulit untuk ditemui, kalau bisanya seminggu dua kali mereka pergi bersama, sekarang hanya ada satu hari dalam seminggu untuk Laras. Ingin rasanya Laras protes, tapi niat itu selalu ia urungkan, ia takut Fahri marah. Laras tidak mau ada pertengkaran diantara waktu yang tersisa. Cintanya pada Fahri begitu besar, hingga ia rela mengorbankan perasaanya.

Fahri sering menghilang tanpa kabar. Tidak ada telepon tidak ada sms. Dia menghilang begitu saja. Itu sangat menyakitkan bagi Laras. Seperti saat ini, sudah seminggu Laras tidak beretemu dengan Fahri. Sudah seminggu tidak ada kabar dari Fahri. Ini bukan pertama kali Fahri menghilang tiba-tiba seperti ini. Sudah kali ketiga Fahri menghilang seperti ini. Laras sangat cemas, karena biasanya tidak selama ini Fahri menghilang. Biasanya hanya dua sampai tiga hari Fahri menghilang.

Siang ini udara kota Malang terasa sangat sejuk. Banyak warga yang menghabiskan akhir pekannya di alun-alun kota Malang. Tidak terkecuali bagi Fahri. Hari ini ia memilih mengahabiskan waktunya dengan bersantai di alun-alun sambil tak berhenti menatap layar laptopnya. Fahri gundah, hatinya berkecamuk tak karuan. Sudah seminggu ini hari-hari nya menjadi kacau. Makan tidak teratur, tidur tidak nyenyak. Sudah sebulan terakhir ini hatinya terjebak dalam dilema yang tak berujung. Kini dia dihadapkan pada dua pilihan, Sakinah, perempuan yang pernah sangat ia cintai dan Laras, perempuan yang sudah enam bulan terakhir ini mengisi hari-harinya.

Semua ini berawal dari kedatangan Sakinah satu bulan yang lalu. Selama empat tahun ini Fahri tidak pernah bertemu dengan Sakinah. Sejak lulus SMA mereka tidak pernah bertemu, karena Sakinah memilih kuliah di Jakarta dan Fahri pergi ke Surabaya. Hubungan yang pernah mereka jalin saat masa SMA terpaksa berakhir karena jarak yang memisahkan keduanya. Tidak pernah ada kontak lagi, karena Sakinah juga sudah memilih orang lain untuk menjadi pendamping hidupnya. Sejak lulus SMA, Sakinah memutuskan untuk bertunangan dengan Rifky yang usianya jauh lebih tua. Selisih umur tujuh tahun tak membuat Sakinah ragu untuk menerima Rifky. Dimatanya Rifky terlihat lebih baik dibandingkan Fahri, pria yang selama dua tahun telah mendampinginya. Kenyataan ini membuat hati Fahri remuk redam. Ia tak menyangka kalau Sakinah tega berbuat seperti itu terhadapanya.

Setelah kepergian Sakinah, Fahri menutup hatinya. Bertahun-tahun ia memilih untuk sendiri, padahal tak sedikit perempuan yang menaruh hati padanya. Kesendirian itu berakhir sejak Fahri bertemu dengan Laras. Fahri jatuh cinta sejak pandangan pertama, tapi ia tak berani menunjukkan perasaannya karena saat itu Laras sudah ada yang memiliki. Sekuat hati Fahri mencoba membunuh perasaannya terhadap Laras. Tapi ia tak bisa, bayangan Laras terus memenuhi hati dan pikirannya. Ayudya Larasati adalah mahasiswi jurusan ilmu politik. Perempuan yang enerjik, cerdas dan periang. Meskipun tak sesempurna Sakinah, Laras mampu mencuri perhatian Fahri. Laras adalah perempuan pertama yang berhasil membuka pintu hati Fahri yang sempat tertutup selama beberapa tahun.

Fahri sangat bahagia karena pada akhirnya ini bisa memiliki Laras. Cinta dan kasih sayang yang Laras berikan mampu mengobati luka hati yang ditorehkan Sakinah. Semua berjalan dengan baik, sampai Sakinah datang lagi. “Aku tau nggak sepantasnya aku kembali. Aku tahu kalau aku sudah terlalu menyakitimu. Tapi aku masih berharap kamu mau memaafkan aku. “ “Aku sudah memaafkanmu.”, ucap Fahri datar. Sakinah menceritakan semuanya, bahwa sebenarnya ia terpaksa menerima pinangan Rifky. Dia sangat menyesal karena telah meninggalkan Fahri. Ia juga mersa ditipu oleh Rifky, ternyata Rifky tidak benar-benar mencintainya. Dua tahun setelah pertunangan, Rifky meninggalkan Sakinah begitu saja. “Fahri, apakah masih ada ruang dihatimu untuk aku?” “Maaf, aku belum bisa menjawabnya.” “Kenapa? apa sudah ada perempuan lain?” “Ya, saat ini sudah ada Laras dalam kehidupanku.” “Apa kamu benar-benar mencintainya?” Fahri hanya bisa diam, dia bingung apa yang harus dikatakannya. Sejak saat itu hatinya dirajai dilema yang berkepanjangan.

Selama ini memang ia sudah bisa mencintai Laras tapi ia juga belum bisa sepenuhnya melupakan sakinah. Selama ini Laras sudah memberikan semua cinta dan kasih sayangnya. Laras selalu menerima Fahri apa adanya. Laras selalu sabar menghadapi keegoisan Fahri. Sungguh tidak adil kalau Fahri harus mencampakkannya hanya untuk Sakinah, penggalan kisah masa lalunya. Tapi ia juga tidak bisa membohongi perasaannya. Dalam hatinya masih ada sepenggal perasaan untuk Sakinah, cinta pertamanya.

“Sayang, kamu ada dimana?kok nggak ada kabar sama sekali?aku kepikiran ni..,apa kamu sakit?atau lagi ada masalah?apa aku punya salah?ayolah sayang,jangan seperti ini. Bicaralah biar semua jelas, biar nggak ada salah paham. Aku akan selalu menunggu kamu. Aku sayang kamu.”

Yours..

Email dari Laras, Fahri semakin merasa bersalah. Dia merasa sangat jahat, karena sudah mempermainkan perasaan Laras. Ia tidak mau mengalami sakit lagi, dia harus segera memilih. Dia tidak mau kehilangan cinta lagi, sekarang dia sadar bahwa Laras lah cinta sejatinya. Cuma Laras yang benar-benar sayang padanya. Sore ini ia memutuskan untuk kembali ke Surabaya, kembali pada Laras.

Malam ini Laras termenung seorang diri di taman belakang rumahnya. Bantalnya basah, karena dari tadi ia tidak berhenti menangis. “Sayang..,” ucap Fahri lembut seraya membelai rambut Laras. Laras sangat terkejut, ia tak menyangka kalau sekarang Fahri ada dihadapannya. “Kamu..” “Ya sayang, aku datang, maaf...” Fahri tak kuasa melanjutkan perkataanya, ia memeluk Laras. Laras membalas pelukannya, tidak ada kata yang terucap. Pelukan hangat itu telah mampu menjelaskan semuanya. Laras tidak peduli apapun, yang penting sekarang Fahri telah kembali. Fahri juga demikian, sekarang semuanya tidak penting lagi. Hanya Laras yang penting. Ia sudah tidak peduli lagi dengan Sakinah, baginya Sakinah hanyalah kepingan masa lalu yang harus dilupakan. Saat ini ia hanya ingin Laras. Hanya ingin bisa besrama dengan Laras. Dia sudah menemukan belahan jiwanya, Laras lah orangnya.

1 komentar: