Kamis, 22 Juli 2010

SOCIAL ENTREPRENEURSHIP SEBAGAI USAHA PENGENTASAN KEMISKINAN LINGKUNGAN KUMUH DI KOTA SURABAYA

SOCIAL ENTREPRENEURSHIP SEBAGAI USAHA PENGENTASAN KEMISKINAN LINGKUNGAN KUMUH DI KOTA SURABYA


Surabaya merupakan kota besar ke dua di Indonesia, dengan luas wilayah seluas 326,37 km2 dan jumlah penduduk sebanyak + 2,7 juta jiwa pada tahun 2006. Kepadatan penduduk sebesar 333.531 jiwa/km2 . Pertumbuhan penduduk kota Surabaya dalam dua dasawarsa terakhir memperlihatkan kecenderungan menurun, dimana periode tahun 1980-1990 mengalami pertumbuhan sekitar 2,06% per tahun, sedangkan pertumbuhan tahun 1990-2000 (sesuai dengan Sensus 2000) mengalami peningkatan sekitar 0,5% per tahun. pertumbuhan plenduduk yang tidak diikuti dengan pertumbuhan lapangan pekerjaan menimbulkan beberapa masalah baru bagi kota Surabaya, salah satunya adalah tumbuhnya daerah kumuh (slum area). Kawasan utara kota Surabaya teridentifikasi lebih banyak titik-titik kawasan kumuhnya dibandingkan dengan kawasan lainnya. Berdasarkan identifikasi yang dilakukan oleh tim penyusun RTRW Kota Surabaya Tahun 2004, kelurahan-kelurahan yang memiliki kawasan kumuh ada 23 buah yaitu: Ujung, Bulak Banteng, Wonokusumo, Sidotopo Wetan, Tanah Kali Kedinding, Bulak, Gading, Dupak, Bongkaran, Sukolilo, Gebang Putih, Medokan Semampir, Keputih, Gununganyar, Rungkut Menanggal, Wiyung, Waru Gunung, Benowo, Moro Krembangan, Romo Kalisari, Sumberejo, Sememi dan Kandangan.

Slum area melingkupi beberapa persoalan sosial yang harus segera ditanggulangi, yaitu rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya akses terhadap pemenuhan kesehatan dan kondisi lingkungan yang tidak sehat. Semua hal itu bermuara pada satu tema besar, yakni KEMISKINAN. Dalam beberapa kasus, kemiskinan acapkali didefinisikan semata hanya sebagai fenomena ekonomi, dalam arti rendahnya penghasilan atau tidak dimilikinya mata pencaharian yang cukup mapan untuk tempat bergantung hidup. Pendapat seperti ini, untuk sebagian mungkin benar, tetapi diakui atau tidak kurang mencerminkan kondisi riil yang sebenarnya dihadapi keluarga miskin. Kemiskinan sesungguhnya bukan semata-mata kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok atau namun lebih dari itu esensi kemiskinan adalah menyangkut probabilitas orang atau keluarga miskin itu untuk melangsungkan dan mengembangkan usaha serta taraf kehidupannya.

Berangkat dari permasalahan ini maka perlu adanya program pemberdayaan bagi masyrarakat miskin khusnya yang tinggal di slum area, pemberdayaan yang dilakukan adalah melalui social entrepreneurship. Pengertian sederhana dari Social Entrepreneur adalah seseorang yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan dan kesehatan (healthcare) (Santosa, 2007). Pendekatan social entrepreneurship sengaja dipilih karena persoalan kemiskinan di wilayah kumuh tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperbaiki kondisi ekonomi saja, tapi juga harus memperhatikan masalah sosial lainnya seperti peningkatan taraf pendidikan, perbaikan taraf kesehatan dan perbaikan kualitas lingkungan tempat tinggal.

Social entrepreneurship diwujudkan dalam pembentukan sebuah lembaga sosial yang bergerak dalam bidang sosial dan ekonomi bagi masyarakat miskin di daerah kumuh. Lembaga ini memiliki beberapa program antara lain pembentukan koperasi simpan pinjam bagi masayrakat pemukiman kumuh yang mayoritas memiliki pekerjaan di sektor informal (pemulung, pedagang asongan, tukang becak). Koperasi ini bertujuan untuk mengajarkan masyarakat tersebut untuk sadar menabung demi kepentingan hari esok. Selain itu koperasi ini juga akan memberikan pinjaman tanpa agunan dan berbunga rendah kepada masyrakat yang digunakan untuk modal kerja. Selain itu lembaga ini juga akan memberikan pelatihan kewirausahaan bagi kaum perempuan. Perempuan di kawasan pemukiman kumuh diberi keterampilan berwirausaha, yang meliputi pelatihan membuat produk, pelatiahan strategi pemasaran hingga pelaitihan pengelolaan keuangan. Sedangkan program lembaga dalam hal meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat adalah melalui sosialisasi cara hidup sehat, seperti permasalahan sanitasi dan pemilihan makanan yang bergizi. Selain itu juga akan mengadakan penghijauan dan perbaikan kebersihan di daerah pemukiman kumuh. Untuk perbaikan pendidikan dilakukan dengan program bimbingan belajar gratis bagi anak usia sekolah yang ada di kawasan pemukiman kumuh, selain itu juga akan ada beasiswa bagi siswa yang memiliki prestasi. Sedangkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat disediakan perpustakaan dengan beberapa buku seri pengetahuan yang dapat memberikan informasi dan pengetahuan. Dengan demikian maka masyarakat di daerah pemukiman kumuh dapat meningkatkan taraf kesejahteraannya, mereka akan berdaya secara ekonomi maupun secara sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar