Senin, 20 Desember 2010

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) Dalam Kajian Sosiologis

PENDAHULUAN

Dalam kajian sosiologi, industri adalah bagian dari satu sistem masyarakat yang terintegrasi bersama unit-unit masyarakat lain dalam satu komunitas. Industri berada dalam suatu matriks sosial yang disebut komunitas. Komunitas adalah kelompok sosial yang padu, individu-individu dipersatukan oleh nilai, kebiasaan dan ketentuan bersama, dimana mereka memiliki status dan peran tertentu, mempunyai perasaan solidaritas dengan kelompok, rasa ikut memiliki dan menjadi anggota. Sebuah industri, apapun bentuknya tetap tidak bisa menghindar dari pengaruh masyarakat disekitarnya.

Proses industrialisasi mau tidak mau membawa perubahan pada keadaan masyarakat. Eksistensi industri di tengah-tengah masyarakat berdampak pada kehidupan masyarakat itu sendiri. Secara ekonomi, keberadaan industri dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberian kesempatan kerja. Secara sosial, adanya industri berdampak pada perubahan nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Secara ekologis, industri dapat merubah infrastruktur masyarakat maupun terjadinya pencemaran lingkungan. Tumbuh dan berkembangnya industri juga tidak terlepas dari peran masyarakat atau komunitas di mana industri itu berada. Komunitas merupakan tempat di mana industri mendapatkan faktor-faktor produksinya seperti bahan baku dan tenaga kerja. Selain itu komunitas adalah pasar bagi industri untuk memasarkan hasil produksinya.

Industrialisasi yang ada disamping telah membawa kemajuan-kemajuan yang diharapkan juga membawa dampak yang cukup menggoncangkan. Dari segi ekonomi industrialiasasi dapat memacu kesenjangan. Kesenjangan itu disebabkan oleh pertumbuhan yang cepat di sektor industri namun tidak dibarengi penyerapan tenaga kerja. Kebutuhan kapital per unit produk meningkat sehingga menyerap sumber kapital yang langka bagi negara berkembang. Kesenjangan lain disebabkan secara fungsional perolehan tenaga kerja (buruh) dibanding pemilik modal (uang, skill, manajerial) tidak seimbang. Kesenjangan tersebut dapat mengganggu stabilitas yang selama ini dijaga. Kerawanan tersebut misalnya terlihat pada huru-hara buruh di Medan, Jakarta dan tempat-tempat lain. Ekonomi yang semakin eliter yang dirasakan karena sektor-sektor modern yang terangkum dalam kebijakan industrialisasi bagaimanapun hanya mengangkut 10-20% rakyat. Sisanya merupakan penonton yang asing dan terasing (Setiaji dalam Thoyibi, 1995).

Pola hubungan yang saling mempengaruhi antara industri dengan masyarakat, bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Artinya, kehadiran industri di tengah-tengah masyarakat akan mempengaruhi perkembangan masyarakat itu sendiri, baik secara ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan lain sebagainya. Demikian juga halnya dengan industri, dimana kelangsungan industri sangat bergantung dari penerimaan masyarakat setempat. Saling keterkaitan sebagaimana penjelasan di atas menunjukkan bahwa sebuah industri haruslah senantiasa menjalin hubungan dengan masyarakat atau lingkungan sekitarnya, karena keberadaan industri dapat dipengaruhi dari keadaan masyarakat disekitarnya, dan hanya industri yang bisa beradaptasi secara tepat terhadap tuntutan lingkungan, masyarakat setempat yang akan dapat mencapai keberhasilan (Lubis; 1987: 6).

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa antara industri dan masyarakat terdapat hubungan yang timbal balik. Oleh karena itu, antara industri dan masyarakat harus menciptakan suatu bentuk hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian, banyak terjadi keberadaan industri memberikan dampak negative pada kehidupan masyarakat seperti adanya bencana lingkungan dan bencana kemanusiaan akibat aktivitas eksploitasi migas juga di Sumatera Selatan, menyebabkan pencemaran sungai maupun sumber air masyarakat oleh minyak mentah, bahkan lumpur minyak, kebakaran hutan dan kebun, kerusakan ekosistem hingga kematian manusia.

Sebuah konsep yang akhir-akhir ini sering dibicarakan dalam usaha untuk menciptakan hubungan yang baik antara industri dan masyarakat adalah CSR (Corporate Social Responsibility) atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. CSR adalah basis teori tentang perlunya sebuah perusahaan membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat setempat.

DEFINISI CSR

Secara teoritis, CSR dapat didefinisikan sebagai tanggung jawab moral suatu perusahaan terhadap para strategic-stakeholders-nya, terutama pada komunitas atau masyarakat di sekitar wilayah kerja dan operasinya. CSR memandang perusahaan sebagai agen moral. Dengan atau tanpa aturan hukum, sebuah perusahaan harus menjunjung tinggi moralitas.

Pada dasarnya belum ada definisi tunggal tentang pengertian CSR itu sendiri. CSR memiliki beberapa definsi, yang selanjutnya akan dijelaskan dibawah ini.

  1. European Union

European Union atau Uni Eropa dalam EU Green Papaer on CSR, mendefinisikan CSR is a concept whereby companies integrate social and evironment concerns in their business operations and in their interactions with their stakeholderss on a voluntary basic.

  1. World Bank

World Bank sebagai lembaga keuangan global mendefinisikan CSR sebagai the commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their representatives, the local community and society at large to improve quality of life, in ways that are both good for business and good for development.

  1. The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD)

(WBCSD) mendefinisikan CSR sebagai komitmen berkesinambungan dari kalangan bisnis untuk berperilaku etis dan memberi kontribusi bagi pembangunan ekonomi, seraya meningkatkan kehidupan karyawan dan keluarganya, serta komunitas lokal dan masyarakat luas pada umumnya.

  1. Canadian Goverment

Canadian Goverment merumuskan CSR sebagai kegiatan usaha yang menginteregasikan ekonomi, lingkungan dan sosial kedalam nilai, budaya, pengambilan keputusan, strategi dan operasi perusahaan yang dilakukan secara transparan dan bertanggungjawab untuk meningkatkan masyarakat yang sehat dan berkembang.

  1. Institute of Chartered Accountans England and Wales

CSR adalah jaminan bahwa organisasi-organisasi pengelola bisnis mampu memberi dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan, seraya memaksimalkan nilai bagi para pemegang saham mereka.

  1. European Commission

European Commission menjelaskan bahwa CSR adalah being socially responsibility means not only fulfiling legal expectations, but also going beyond compliance and investing more into human capital, the environment and relations with stakeholders.

  1. International Finance Corporation

International Finance Corporation merumuskan bahwa CSR adalah komitmen dunia bisnis untuk memberi kontribusi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan melalui kerjasama dengan karyawan, keluarga mereka, komunitas lokal dan masyarakat luas untuk meningkatkan kehidupan mereka melalui cara-cara yang baik bagi bisnis maupun pembangunan.

  1. Bussines for Social Responsibility, USA

Merumuskan CSR sebagai operating a business in a manner that meets or exceeds the ethical, legal,commercial and public expectations that society has of business. Social Responsibility is a guiding principle for every decision made and in every area of a business

  1. CSR Forum

CSR mean open and transparent business practices that are based on ethical values and respect for employeses, communities and environtment.

  1. CSR Asia

CSR adalah komitmen perusahaan untuk beroperasi secara berkelanjutan berdasarkan prinsip ekonomi, sosial dan lingkungan seraya menyeimbangkan beragam kepentingan para stakeholders.

Berdasarkan beberapa definisi yang telah dijelaskan diatas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa CSR adalah sebuah komitmen dari dunia usaha untuk dapat terus mengembangkan aktiftas ekonominya tanpa memberikan efek negatif terhadap masyrakata yang ada disekitarnya. Oleh karena itu CSR mengandung tiga prinsip utama yang saling terkait, yaitu:

1. Profit : Perusahaan tidak bisa lepas dari orientasi utamanya untuk mencari keuntungan

2. People : Perusahaan memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat (pendidikan, kesehatan dan perlindungan sosial).

3. Planet : Perusahaan memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan lingkungan hidup dan keragaman hayati.

SEJARAH dan PERKEMBANGAN CSR

Menilik sejarahnya, gerakan CSR modern yang berkembang pesat selama dua puluh tahun terakhir ini lahir akibat desakan organisasi-organisasi masyarakat sipil dan jaringannya di tingkat global. Keprihatinan utama yang disuarakan adalah perilaku korporasi, demi maksimalisasi laba, lazim mempraktekkan cara-cara yang tidak fair dan tidak etis, dan dalam banyak kasus bahkan dapat dikategorikan sebagai kejahatan korporasi. Beberapa raksasa korporasi transnasional sempat merasakan jatuhnya reputasi mereka akibat kampanye dalam skala global tersebut (Sumbangan Pemikiran BWI pada Penyusunan Peraturan Pemerintah Perihal Tanggung Jawab Sosial Korporasi”, The Business Watch Indonesia, Desember 2007 diakses pada 25 April 2008, pukul: 12.40 WIB).

Hingga dekade 1980-90an, wacana CSR terus berkembang. Munculnya KTT Bumi di Rio pada 1992 menegaskan konsep sustainable development (pembangunan berkelanjutan) sebagai hal yang mesti diperhatikan, tak hanya oleh negara, tapi terlebih oleh kalangan korporasi yang kekuatan kapitalnya makin menggurita. Tekanan KTT Rio, terasa bermakna sewaktu James Collins dan Jerry Porras meluncurkan “Built To Last; Succesful Habits of Visionary Companies” pada tahun 1994. Lewat riset yang dilakukan, mereka menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang terus hidup bukanlah perusahaan yang hanya mencetak keuntungan semata.

Sebagaimana hasil Konferansi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro Brazilia pada tahun 1992, menyepakati perubahan paradigma pembangunan, dari pertumbuhan ekonomi (economic growth) menjadi pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Dalam perspektif perusahaan, di mana keberlanjutan dimaksud merupakan suatu program sebagai dampak dari usaha-usaha yang telah dirintis, berdasarkan konsep kemitraan dan rekanan dari masing-masin stakeholder. Ada lima elemen sehingga konsep keberlanjutan menjadi penting, diantaranya: (1) ketersediaan dana (2) misi lingkungan (3) tangung jawab sosial (4) terimplementasi dalam kebijakan (masyarakat, korporat, dan pemerinah). (5) mempunyai nilai keuntungan/ manfaat.

Pertemuan Yohannesburg tahun 2002 yang dihadiri para pemimpin dunia memunculkan konsep social responsibility. Ketiga konsep ini menjadi dasar bagi perusahaan dalam melaksanakan tanggung jawab sosialnya. Pertemuan penting UN Global Compact di Jenewa, Swiss, Kamis, 7 Juli 2007 yang dibuka Sekjen PBB mendapat perhatian media dari berbagai penjuru dunia. Pertemuan itu bertujuan meminta perusahaan untuk menunjukkan tanggung jawab dan perilaku bisnis yang sehat yang kemudian dikenal dengan corporate social responsibility.

Munculnya konsep CSR didorong oleh terjadinya kecenderungan pada masyarakat industri yang dapat disingkat sebagai fenomena DEAF (yang dalam bahasa Inggris berarti tuli), sebuah akronim dari Dehumanisasi, Equalisasi, Aquariumisasi, dan Feminisasi (Suharto, 2007:103-104):

1. Dehumanisasi industri.

Efisiensi dan mekanisasi yang semakin menguat di dunia industri telah menciptakan persoalan-persoalan kemanusiaan baik bagi kalangan buruh di perusahaan tersebut, maupun bagi masyarakat di sekitar perusahaan. ‘merger mania’ dan perampingan perusahaan telah menimbulkan gelombang pemutusan hubungan kerja dan pengangguran, ekspansi dan eksploitasi dunia industri telah melahirkan polusi dan kerusakan lingkungan yang hebat.

2. Equalisasi hak-hak publik.

Masyarakat kini semakin sadar akan haknya untuk meminta pertanggung jawaban perusahaan atas berbagai masalah sosial yang sering kali ditimbulkan oleh beroperasinya perusahaan. Kesadaran ini semakin menuntut akuntabilitas (accountability) perusahaan bukan saja dalam proses produksi, melainkan pula dalam kaitannya dengan kepedulian perusahaan terhadap berbagai dampak sosial yang ditimbulkan.

3. Aquariumisasi dunia industri.

Dunia kerja kini semakin transparan dan terbuka laksana sebuah akuarium. Perusahaan yang hanya memburu rente ekonomi dan cenderung mengabaikan hukum, prinsip etis, dan filantropis tidak akan mendapat dukungan publik. Bahkan dalam banyak kasus, masyarakat menuntut agar perusahaan seperti ini ditutup.

4. Feminisasi dunia kerja.

Semakin banyaknya wanita yang bekerja, semakin menuntut penyesuaian perusahaan, bukan saja terhadap lingkungan internal organisasi, seperti pemberian cuti hamil dan melahirkan, keselamatan dan kesehatan kerja, melainkan pula terhadap timbulnya biaya-biaya sosial, seperti penelantaran anak, kenakalan remaja akibat berkurang atau hilangnya kehadiran ibu-ibu di rumah dan tentunya di lingkungan masyarakat. Pelayanan sosial seperti perawatan anak (child care), pendirian fasilitas pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak atau pusat-pusat kegiatan olah raga dan rekreasi bagi remaja bisa merupakan sebuah ‘kompensasi’ sosial terhadap isu ini.

MODEL PENERAPAN CSR

Dalam penerapannya, tidak ada satu model baku yang bersifat general untuk menentukan model CSR. Model penerapan CSR bergantung pada kebijakan internal perusahaan itu sendiri. Dimana kebijakan itu juga didasari oleh pengertian dan pemahaman shareholder perusahaan terhadap CSR. Faktor lain yang mempengaruhi penetapan model CSR di suatu perusahaan adalah motivasiperusahaan dalam menerapkan CSR.

Pada dasarnya perusahaan memiliki motivasi yang mendorong untuk melakukan CSR. Said dan Abidin (2004:69) membuat matriks yang menggambarkan tiga tahap atau paradigma yang berbeda. Tahap pertama adalah corporate charity, yakni dorongan berdasarkan motivasi keagamaan. Tahap kedua, adalah corporate philantrophy, yakni dorongan kemanusiaan yang biasanya bersumber dari norma dan etika universal untuk menolong sesama dan memperjuangkan pemerataan sosial. Tahap ketiga adalah corporate citizenship, yaitu motivasi kewargaan demi mewujudkan keadilan sosial berdasarkan prinsip keterlibatan sosial. Jika dipetakan, tampaklah bahwa spektrum paradigma ini terentang dari ‘sekadar menjalankan kewajiban’ hingga ‘demi kepentingan bersama’ atau dari ‘membantu dan beramal kepada sesama’ menjadi ‘memberdayakan manusia’. Meskipun tidak selalu berlaku otomatis, pada umumnya perusahaan melakukan CSR didorong oleh motivasi kariatif kemudian kemanusiaan akhirnya kewargaan (lihat tabel 1).

Tabel 1 :

Motivasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Motivasi

Tahapan/ paradigma

Kariatif

Filantropis

Kewargaan

Semangat/ prinsip

Agama, tradisi, adat.

Norma, etika, dan hukum universal : redistribusi kekayaan.

Pencerahan diri dan rekonsiliasi dengan ketertiban sosial.

Misi

Mengatasi masalah sesaat/ saat itu.

Menolong sesama.

Mencari dan mengatasi akar masalah : memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Pengelolaan

Jangka pendek dan parsial.

Terencana, terorganisasi, terprogram.

Terinternalisasi dalam kebijakan perusahaan.

Pengorganisasian

Kepanitiaan.

Yayasan/ dana abadi.

Profesional : keterlibatan tenaga-tenaga ahli di bidangnya.

Penerima manfaat

Orang miskin.

Masyarakat luas.

Masyarakat luas dan perusahaan.

Kontribusi

Hibah sosial.

Hibah pembangunan.

Bidang sosial maupun pembangunan dan keterlibatan sosial.

Inspirasi

Kewajiban.

Kemanusiaan.

Kepentingan bersama.

Sumber : Suharto (2007:107)

Pada tabel diatas dijelaskan bahwa ada tiga motivasi yang dimiliki perusahaan dalam menerapkan CSR. Perusahaan yang penerapan CSR nya dodorong oleh motivasi kariatif, menerapkan CSR dalam wujud pemberian terhadap kebutuhan masyarakat misalnya pembagian sembako, pengobatan gratis, khitanan masal dan lain sebagainya. CSR dalam model seperti ini sifatnya sekali habis, tidak ada aspek keberlanjutan. Kegiatan karikatif biasanya berbentuk charity dan pelaksanaanya dilakukan pada event-event tertentu saja.

CSR yang dilandasi oleh motivasi filantropis berwujud pemberian hibah pembangunan. Kegiatan-kegiatan filantropi yang biasanya dilakukan oleh perusahaan antara lain pemberian pelatihan bagi masyarakat yang ada disekitar perusahaan, pemberian beasiswa, peningkatan gizi masyarakat dan lain sebagainya. Pelaksanaannya sudah diprogram dan terorganisasi secara jelas.

Sedangkan CSR yang didasari oleh motivasi kewargaan diimplementasikan secara lebih komprehensif. Sasaran program CSR tidak hanya masyarakat sekitar perusahaan, tetapi juga bagi karyawan perusahaan. CSR dianggap sebagai kepentingan bersama bagi masyarakat dan perusahaan. Perusahaan dan masyarakat memiliki keterlibatan secara langsung dalam pelaksanaan CSR. CSR kewargaan ini diwujudkan dalam bentuk coomunuity development dimana pelaksanaannya bersifat keberlanjutan.

Menurut Saidi dan Abidin (2004:64-65) sedikitnya ada empat model atau pola CSR yang diterapkan di Indonesia, yaitu :

1. Keterlibatan langsung.

Perusahaan menjalankan program CSR secara langsung dengan menyelenggarakan sendiri kegiatan sosial atau menyerahkan sumbangan ke masyarakat tanpa perantara. Untuk menjalankan tugas ini, sebuah perusahaan biasanya menugaskan salah satu pejabat seniornya, seperti corporate secretary atau public affair atau menjadi bagian dari tugas pejabat public relation.

2. Melalui yayasan atau organisasi sosial perusahaan.

Perusahaan mendirikan yayasan sendiri di bawah perusahaan atau grupnya. Model ini merupakan adopsi dari model yang lazim diterapkan di perusahaan-perusahaan di negara maju. Biasanya perusahaan menyediakan dana awal, dana rutin, atau dana abadi yang dapat digunakan secara teratur bagi kegiatan yayasan. Beberapa yayasan yang didirikan perusahaan di antaranya adalah Yayasan Coca-cola Company, Yayasan Rio Tinto (perusahaan pertambangan).

3. Bermitra dengan pihak lain.

Perusahaan menyelenggarakan CSR melalui kerja sama dengan lembaga sosial/ organisasi non pemerintah (ornop), instansi pemerintah, universitas, atau media massa, baik dalam mengelola dana maupun dalam melaksanakan kegiatan sosialnya. Beberapa lembaga sosial/ ornop yang bekerja sama dengan perusahaan dalam menjalankan CSR antara lain adalah Palang Merah Indonesia (PMI), Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), Dompet Dhuafa, instansi-instansi pemerintah (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/ LIPI, Depdiknas, Depkes, Depsos), perguruan-perguruan tinggi (UI, ITB, IPB), media massa (Dkk kompas, Kita Peduli Indosiar).

4. Mendukung atau bergabung dalam suatu konsorsium.

Perusahaan turut mendirikan, menjadi anggota, atau mendukung suatu lembaga sosial yang didirikan untuk tujuan sosial tertentu. Dibandingkan dengan model lainnya, pola ini lebih berorientasi pada pihak pemberian hibah perusahaan yang bersifat ‘hibah pembangunan’. Pihak konsorsium atau lembaga semacam itu yang dipercayai oleh perusahaan-perusahaan yang mendukungnya secara proaktif mencari mitra kerjasama dari kalangan lembaga operasional dan kemudian mengembangkan program yang disepakati bersama.

Menurut Said dan Abidin (2004) pada dasarnya CSR memiliki beberapa jenis atau sektor kegiatan. Ada sembilan jenis atau sektor kegiatan CSR, yaitu : (1) Pelayanan sosial; (2) Pendidikan dan penelitian; (3) Kesehatan; (4) Kedaruratan (emergency); (5) Lingkungan; (6) Ekonomi produktif; (7) Seni, olah raga, dan pariwisata; (8) Pembangunam prasarana dan perumahan; dan (9) Hukum, advokasi, dan politik.

URGENSI PENERAPAN CSR

Dewasa ini penerapan CSR bagi perusahaan menjadi semakin penting. CSR sudah menjadi kebutuhan bagi perusahaan. Keberadaan perusahaan ditengah-tengah masyarakat memiiki ketergantungan dengan masyarakat yang ada disekitarnya. Hubungan antara perusahaan dan masyarakat bagikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

Saling ketergantungan antara sebuah perusahaan dengan masyarakat memiliki dua bentuk. Pertama, inside-out linkages, bahwa perusahaan memiliki dampak terhadap masyarakat melalui operasi bisnisnya secara normal. Dalam hal ini perusahaan perlu memperhatikan dampak dari semua aktivitas produksinya, aktivitas pengembangan sumber daya manusia, pemasaran, penjualan, logistik, dan aktivitas lainnya; kedua, outside-in-linkages, di mana kondisi sosial eksternal juga memengaruhi perusahaan, menjadi lebih baik atau lebih buruk. Ini meliputi kuantitas dan kualitas input bisnis yang tersedia-sumber daya manusia, infrastruktur transportasi; peraturan dan insentif yang mengatur kompetisi-seperti kebijakan yang melindungi hak kekayaan intelektual, menjamin transparansi, mencegah korupsi, dan mendorong investasi; besar dan kompleksitas permintaan daerah setempat; ketersediaan industri pendukung di daerah setempat, seperti penyedia jasa dan produsen mesin.

Salah satu aspek atau semua aspek situasi ini dapat merupakan peluang bagi inisiatif CSR. Kemampuan untuk merekrut karyawan yang tepat, contohnya, bisa tergantung pada sejumlah faktor sosial seperti sistem pendidikan setempat, ketersediaan pemukiman, diskriminasi, dan kecukupan infrastruktur kesehatan publik.

MANFAAT CSR

Pada akhirnya pelaksanaan CSR akan bermanfaat bagi perusahaan, masyarakat, pemerintah maupun bagi hubungan antara perusahaan dan masyarakat. Manfaat CSR bagi perusahaan antara lain sebagai penguatan citra perusahaan, penguatan dukungan masyarakat dan jaminan keamanan perusahaan. Hasil Survey “The Millenium Poll on CSR” (1999) yang dilakukan oleh Enuironics International (Toronto), Conference Board (New York) dan Prince of Wales Business Leader Forum (London) diantara 25.000 responden di 23 negara menunjukkan bahwa dalam membentuk opini tentang perusahaan, 60% mengatakan bahwa etika isnis, praktek terhadap karyawan, dampak terhadap lingkungan, tangung jawab sosial perusahaan (CSR) akan paling berperan sedangkan bagi 40% citra perusahaan dan brand image yang akan paling mempengaruhi kesan mereka hanya 1/3 yang mendasari opininya atas faktor-faktor bsnis fundamental seperti faktor finansial, ukuran perusahaan, strategi perusahaan atau manajemen. Lebih lanjut, sikap konsumen terhadap perusahaan yang dinilai tidak melakukan CSR adalah ingin “menghukum” (40%) dan 50% tidak akan membeli produk dari perusahaan yang bersangkutan dan/ atau bicara kepada orang lain tentang kekurangan perusahaan tersebut.

Menurut riset yang dilakukan oleh majalah SWA pada tahun 2005 ada beberapa manfaat pelaksanaan CSR bagi perusahaan, penjelasan lebih lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2 :

Manfaat Pelaksanaan Program CSR Bagi Perusahaan

Manfaat Pelaksanaan Program CSR Bagi Perusahaan

Prosentase

Memelihara dan meningkatkan citra perusahaan

37,38 %

Hubungan yang baik dengan masyarakat

16,82 %

Mendukung operasional perusahaan

10,28 %

Sarana aktualisasi perusahaan dan karyawannya

8,88 %

Memperoleh bahan baku dan alat-alat untuk produksi perusahaan

7,48 %

Mengurangi gangguan masyarakat pada operasional perusahaan

5,61 %

Lainnya

13,5 %

Sumber : Riset majalah SWA tahun 2005

Indonesia Business Links menerangkan manfaat CSR bagi masyarakat dalam tiga tahapan, yaitu :

  1. Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, aktivitas CSR dapat memberikan dua manfaat utama. Pertama, meningkatkan interaksi antar kelompok-kelompok masyarakat. Kedua, tersedianya layanan-layanan sosial/publik yang selama ini sulit diperoleh kelompok masyarakat tertentu. Layanan-layanan ini dapat berbentuk layanan kesehatan dan pendidikan bagi masyarakat miskin.

  1. Jangka Menengah

Dalam jangka menengah, manfaat yang tercipta adalah meningkatkan kemampuan atau kapasitas masyarakat untuk bekerjasama. Ini terwujud melalui program CSR yang berupa kegiatan berkelompok seperti pengembangan koperasi, penyediaan dana bergulir dan lain sebagainya. Manfaat jangka menengah lainnya adalah terciptanya jejaring yang dibutuhkan oleh kelompok-kelompok masyarakat untuk mengembangkan aktivitas ekonominya maupun untuk meningkatkan kondisi kehidupannya.

  1. Jangka Panjang

Dalam jangka panjang, aktivitas CSR tertentu dapat memberi manfaat berupa meningkatnya modal sosial dan kerekatan sosial pada masyarakat. Misalnya, interaksi antar kelompok yang tercipta dengan katalis aktivitas CSR dapat meningkatkan rasa keakraban, kekompakkan, saling percaya dan saling mendukung antar masyarakat. Selain itu kesenjangan antar kelompok juga dapat berkurang sehingga tumbuhlah suasana yang lebih bermoral, beretika, saling menghargai, berbagi dan berkompetisi secara sehat. Semua ini akan memberi kontribusi pada meningkatnya kualitas hidup bermasyarakat yang aman, damai dan sejahtera.

Pelaksanaan CSR juga memberikan manfaat bagi pemerintah. Melalui CSR akan tercipta hubungan antara pemerintah dan perusahaan dalam mengatasi berbagai masalah sosial, seperti kemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan, minimnya akses kesehatan dan lain sebagainya. Tugas pemerintah untuk menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya menjadi lebih ringan dengan adanya partisipasi pihak swasta (perusahaan) melalui kegiatan CSR. CSR yang dapat berperan dalam mengatasi permasalahan-permasalahan sosial adalah CSR yang bersifat communuity development seperti pemberian beasiswa, pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin, pembangunan sarana kesehatan dan lain sebagainya. Hal ini juga diakui oleh Idhawarwan sebagai Kasudep Bidang Pelatihan PT. JAPFA Sidoarjo, “Pemerintah tidak mungkin bisa mengatasi semua permasalahan social. Jadi kita isi. Artinya kita turut membantu pemerintah dalam mengatasi permasalahan social.”

CSR juga memberikan kontribusi positif bagi hubungan antara perusahan dan masyarakat. Pelaksanaan CSR diyakini dapat meredam konflik antara perusahaan dan masyarakat. Perusahaan yang tidak melakukan partisipasi terhadap kehidupan masyarakat, dapat memicu konflik. Penelitian yang dilakukan oleh Aswin Afandy, dkk (2007), mengemukakan bahwa konflik yang muncul dalam masyarakat disebabkan karena kurangnya partisipasi perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar perusahaan. Hal ini disebabkan adanya hubungan yang kuat antara perusahaan, masyarakat dan lingkungan sekitar sehingga dari ketiga elemen tersebut dibutuhkan adanya kerjasama yang baik demi mewujudkan keseimbangan antara ketiganya, jika keseimbangan ini dapat terjaga dan dipertahankan akan mendatangkan manfaat kepada semua pihak baik perusahaan, masyarakat maupun lingkungan. Tidak ada pihak-pihak yag merasa dirugikan. Semua akan dapat meraup keuntungan dari adanya keseimbangan kerjasama tersebut.

Sedangkan menerut Indonesia Business Links, ada empat manfaat CSR bagi hubungan antara perusahaan dan masyarakat. Pertama, sebagai ijin sosial untuk beroperasinya perusahaan. Kedua, tumbuhnya modal sosial dan kerekatan sosial antara perusahaan dan masyarakat. Ketiga, tumbuhnya hubungan usaha di antara kedua pihak. Keempat, keberlanjutan usaha yang lebih tinggi.

IMPLEMENTASI CSR di INDONESIA

Keberadaan CSR di Indonesia memperoleh respon yang positif dari pemerintah. Respon pemerintah ini terlihat dengan terbitnya kebijakan pemerintah melalui Keputusan Menteri BUMN Nomor: Kep-236/MBU/2003, yang mengharuskan seluruh BUMN untuk menyisihkan sebagian labanya untuk pemberdayaan masyarakat yang dikenal dengan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), yang implementasinya ditindaklanjuti dengan Surat Edaran Menteri BUMN, SE No 433/MBU/20033 yang merupakan petunjuk pelaksanaan dari keputusan Menteri BUMN tersebut. Adanya UU No 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yang di dalamnya memuat kewajiban perusahaan yang mengeksplorasi sumber daya alam untuk melakukan CSR menjadi bukti keseriusan perhatian pemerintah terhadap isu CSR.

Di Indonesia konsep CSR bukan lagi menjadi sebuah wacana belaka, melainkan sudah masuk ke dalam tatanan praktis. Sudah ada beberapa perusahaan di Indonesia yang mulai mengimplementasikan program CSR dalam menjalankan kegiatan bisnisnya. Sebagai contoh PT. TELKOM, program CSR PT. TELKOM terfokus pada tujuh bidang utama, yaitu kemitraan, pendidikan, kesehatan, bantuan kemanusiaan dan bencana alam, kebudayaan dan keadapan, layanan umum, dan lingkungan. PT. Riaupulp sebuah perusahaan serat, bubur kertas, dan kertas yang beroperasi di Riau memiliki beberapa program CSR, antara lain Beasiswa 2007, Taman Bacaan Kampung, pembangunan Istana Sayap Pelalawan. Sedangkan CSR yang dilakukan PT. Antam adalah pemberian bantuan modal kerja untuk pengembangan usaha kecil, menengah, dan koperasi bagi masyarakat sekitarnya. Dengan adanya Undang-undang Perseroan Terbatas yang disahkan pada tahun 2007, keberadaan CSR di Indonesia semakin jelas, sebab sudah memiliki payung hukum. Contoh lain adalah CSR yang dilakukan oleh PT. HM Sampoerna. Implementasi program CSR PT.HM Samporna, Tbk. Program CSR yang diterapkan oleh PT.HM Sampoerna tertuang dalam Society Empowerment Program (SEP) yang terdiri dari empat bidang utama, yaitu bidang pendidikan, ekonomi, sosial dan lingkungan (Wibisono, 2007:69).

CSR SEBAGAI STRATEGI PENGENTASAN KEMISKINAN

Perusahaan sebagai bagian dari komunitas memiliki peranan dalam komunitasnya. Peran perusahaan terhadap komunitas diwujudkan dalam bentuk program CSR. Hal ini merujuk pada salah satu manfaat dari program CSR, yaitu membantu pemerintah dalam mengatasi berbagai permasalahan sosial. Salah satu permasalahan sosial adalah kemiskinan.

Kemiskinan adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mempunyai pengasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya, bahkan untuk kebutuhan dasarnya sebagai manusia. Kemiskinan diikuti dengan berbagai permasalahan, misalnya terbatasnya akses pendidikan dan kesehatan bagi kaum miskin, kriminalitas, sulm area dan lain sebagainya.

Menurut Jefry D Sachs (2005) terdapat enam modal utama yang tidak dimiliki oleh masyarakat miskin. Pertama, modal manusia yang mencakup kesehatan, nutrisi, keahlian yang dibutuhkan untuk menjadi produktif dalam ekonomi. Kedua, modal usaha yang meliputi mesin, fasilitas motor elektronik yang dipergunakan dalam bidang pertanian, industri termasuk industri jasa. Ketiga, infrastruktur seperti jalan, listrik, air, sanitasi dan sistem telekomunikasi.

Keempat, modal yang berkaitan dengan alam yaitu tanah yang subur, keanekaragaman hayati, ekosistem yang berfungsi dengan baik yang dapat menyediakan pelayanan lingkungan yang dibutuhkan oleh manusia. Kelima, modal institusi publik, seperti peraturan-peraturan perdagangan komersial, sistem hukum, pelayanan dan kebijakan pemerintah yang mengatur pembagian tenaga kerja yang damai dan adil. Keenam, modal pengetahuan yang terdiri atas ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat meningkatkan produktifitas dalam menghasilkan produk serta meningkatkan modal fisik dan alam.

Kendati pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menanggulangi persoalan kemiskinan, tingkat kemiskinan tetap tinggi bahkan terus mengalami peningkatan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia kini mencapai 13,33 % (sekitar 13,02 juta) dari jumlah populasi. Hasil tersebut terpaut tipis dengan batas tertinggi angka penduduk miskin, yaitu pada level 13,50 % (Jawapos, 13 Desember 2010).

Tentunya kondisi ini harus segera diatasi, disinilah CSR perusahaan memainkan peranannya. Tetapi bagaimanakan bentuk CSR yang dapat mengatasi kemiskinan? Pemberian sembako, pengobatan gratis, khitanan massal dan berbagai program charity lainnya tidak bisa diterapkan. Hal ini karena program-program charity sifatnya sekali saja, tidak berkelanjutan. Ibaratnya hanya memberi ikan, bila ikan sudah habis maka akan lapar lagi. Selain itu program charity tidak mampu memandirikan masyarakat. Program ini hanya akan menjadikan masyarakat untuk terus meminta-minta.

CSR yang efektif dalam mengatasi kemiskinan adalah CSR yang bersifat berkelanjutan atau biasa disebit Communuity Development (CD). CD adalah sebuah program yang mengacu pada pembangunan berkelanjutan. Menurut motovasi dan paradigma CSR yang telah dijelaskan sebelumnya maka CD merupakan bentuk CSR yang dilandasi motovasi kewargaan.

Bila ditelaah secara seksama maka tujuan utama pendekatan CD adalah bukan sekadar membantu memberi barang kepada si penerima. Melainkan berusaha agar si penerima memiliki kemampuan atau kapasitas untuk mampu menolong dirinya sendiri. Dengan kata lain, semangat utama CD adalah pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu kegiatan CD biasanya diarahkan pada proses pemberi kekuasaan, peningkatan kekuasaan atau penguatan kemampuan para penerima pelayanan (Suharto, 2007:110).

Konsep CD dapat dilihat dari 3 aspek. Pertama pemeberdayaan dengan menciptakan susasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat lokal berkembang. Kedua pemberdayaan untuk memperkuat potensi ekonomi yang dimiliki oleh masyarakat lokal di daerah industri. Untuk memperkuat potensi ini, upaya utama adalah peningkatan taraf pendidikan dan derajat kesehatan serta akses terhadap sumber-sumber kemajuan ekonomi seperti modal, teknologi, informasi, lapangan kerja dan pasar. Ketiga, pemberdayaan melalui pengembangan ekonomi rakyat dengan cara melindungi dan mencegah tejadinya persaingan yang tidak seimbang, serta menciptakan kebersamaan dan kemitraan antara yang sudah maju dan belum berkembang. Pemberdayaan masyarakat bukan membuat masyarakat menjadi makin tergantung pada program-program pemberian (charity), sebab tujuan akhirnya adalah memandirikan masyarakat dan membangun kemampuan untuk memajukan diri ke arah yang lebih baik secara berkesinambungan.

Bentuk-bentuk kegiatan CD dapat berupa bantuan pengembangan UKM (Usaha Kecil dan Menengah), pelatihan keterampilan produktif bagi remaja putus sekolah, pemberian beasiswa, bantuan mesin bagi peningkatan produktivitas pertanian, pelatihan agro industri bagi petani, pelatihan diversifikasi produk pertanian dan lain sebagainya. Pada intinya program CD harus bersifat berkelanjutan.

Agar program CD dapat berjalan secara optimal ada beberapa hal yang harus dilakukan terlebih dahulu. Pertama, social mapping yaitu kegiatan pemetaan untuk mengetahui potensi sosial dan ekonomi masyarakat calon sasaran program CD. Melalui social mapping perusahaan akan mengetahui potensi masyarakat yang akan dikembangkan melalui kegiatan CD.

Kedua, public consultative atau konsultasi publik (PC). Secara sederhana, public consultation diartikan sebagai media pertemuan antara pihak perusahaan dan pihak masyarakat dalam rangka sosialisasi. Dalam kegiatan PC perusahaan mengundang masyarakat yang menjadi sasaran CD. Masyarakat diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya dalam program CD, selain itu kegiatan ini juga mensosialisasikan hasil social mapping yang telah dilakukan sebelumnya.

CD yang diawali dengan kegiatan social mapping dan public consultative akan menghasilkan sebuah program yang tepat guna. Tidak ada program yang tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Sehingga pada akhirnya tujuan CD tercapai, masyarakat dapat berdaya. Masyarakat yang berdaya akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada akhirnya persoalan kemiskinan dapat teratasi.

SUMBER BACAAN :

Amri, Mulya dan Wicaksono Sarosa. 2008. CSR untuk Penguatan Kohesi Sosial. Jakarta : Indonesia Business Links.

Budimanta, Arif. 2008. Corporate Social Responsibility; Alternatif Bagi Pembangunan Indonesia. Jakarta: ICSD.

---------, 2003. Metode dan Teknik Pengelolaan Community Development. Jakarta: ICSD

Hikmat, Harry. 2006. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Bandung: Humaniora Utama.

Kusumawardani, Dian, S.Sos. 2009. Corporate Social Responsibility. Skripsi. Surabaya : Universitas Airlangga.

Radyati, Maria R. Nindita. 2008. CSR Untuk Pemberdayaan Ekonomi Lokal. Jakarta : Indonesia Business Links.

Solihin, Ismail. 2008. Corporate Social Responsibility : From Charity to Sustainability. Jakarta : Salemba Empat.

Suharto, Edi, PhD. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. 2005. Bandung: Refika Aditama.

Wahyudi, Isa dan Busyra Azheri. 2008. Corporate Social Responsibility : Prinsip, Pengaturan dan Implementasi. Malang : In-TRANS Institute dan INSPIRE.

Wibisono, Yusus. 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR. Gresik: Fascha Publishing.

2 komentar:

  1. ini kisah nyata saya . . . .
    perkenalkan nama saya zalinah aruf, saya berasal dari kota Bandung saya bekerja sebagai seorang karyawan di salah satu perusaan Yogyakarta.dimana saya sudah hampir kurang lebih tiga tahun lamanya saya bekerja di perusaan itu.
    Keinginan saya dan impian saya yang paling tinggi adalah ingin mempunyai usaha atau toko sendiri,namun jika hanya mengandalkan gaji yah mungkin butuh waktu yang sangat lama dimana belum biaya kontrakan dan utan yang menumpuk justru akan semakin sulit dan semakin lama impian itu tidak akan terwujud
    saya coba" buka internet dan saya lihat postingan orang yg sukses di bantu oleh seorang kyai dari sana saya coba menghubungi beliau, awalnya saya sms terus saya di suruh telpon balik disitulah awal kesuksesan saya.jika anda ingin mendapat jalan yang mudah untuk SOLUSI MUDAH, CEPAT LUNASI UTANG ANDA, DAN MASALAH EKONOMI YG LAIN, TANPA PERLU RITUAL, PUASA DLL. lewat sebuah bantuan penarikan dana ghoib oleh seorang kyai pimpinan pondok pesantren shohibul Qur’an. dan akhirnya saya pun mencoba menghubungi beliyau dengan maksut yang sama untuk impian saya dan membayar hutang hutang saya.puji syukur kepada tuhan yang maha esa melalui bantuan beliau.kini sy buka usaha distro di bandung.
    Sekali lagi Saya mau mengucapkan banyak terimah kasih kepada K.h. Muh. Rasheed atas bantuannya untuk mencapai impian saya sekarang ini. Untuk penjelsan lebis jelasnya silahkan >>>>>>>>KLIK SOLUSI TEPAT DISINI<<<<<<<<<
    Anda tak perlu ragu atau tertipu dan dikejar hutang lagi, Kini saya berbagi pengalaman sudah saya rasakan dan buktikan. Semoga bermanfaat. Amin..

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Data pribadi
    negara: Indonesia
    Nama:Queen Jamillah
    Alamat: Nusa Lembongan
    Telepon:+62 856-9328-4991
    WhatsApp:+62 856-9328-4991
    https://twitter.com/queen_jamillah
    e_mail: queenjamillah09@gmail.com
    Sudah dua tahun sekarang saya telah memberikan kesaksian tentang bagaimana saya meminjam 700 juta dari Perusahaan Pinjaman Iskandar Lestari dan beberapa orang meragukan saya karena tingkat penipu online saya dapat membuktikan kepada Anda semua bahwa Bunda Iskandar bukan pemberi pinjaman yang curang. telah memberi saya satu hal lagi untuk tersenyum karena setelah menyelesaikan angsuran bulanan pinjaman yang saya pinjam sebelum saya memohon kepada ibu bahwa saya ingin pergi untuk ekspansi bisnis saya lebih lanjut sehingga saya menyerahkan 2,7 miliar setelah melalui proses hukum saya transaksi telah disetujui oleh otoritas dan dalam waktu tiga hari proses hukum untuk menyalurkan pinjaman saya ke rekening Bank Rakyat Indonesia saya dicapai dengan mudah. Saya tidak memiliki tantangan dengan Bank Indonesia karena Ms. Iskandar dan tim Manajemen dari ISKANDAR LESTARI LOAN COMPANY telah dianggap sebagai pemberi pinjaman yang sah sehingga tidak ada masalah sama sekali untuk bantuan keuangan, hubungi Pemberi Pinjaman ISKANDAR hari ini
    e_mail: [iskandalestari.kreditpersatuan@gmail.com]

    Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

    BalasHapus