Sabtu, 08 Oktober 2011

Sebuah pilihan....

Laras sedang membereskan buku-buku yang telah dibacanya, tiba-tiba Rini datang. “Ras, kamu nggak daftar les?”. “Iya, tapi aku masih bingung milih LBB yang mana, kamu sendiri gimana?”. “Aku sudah daftar di LBB Cita Prestasi, yang deket sekolah kita, kamu daftar disitu aja, kan enak ntar kita bisa barengan”. Tanpa pikir panjang Laras menuruti saran Rini.

Hari ini hari pertama mereka les, tanpa Laras sadari dia sudah punya pemuja rahasia. Namanya Randy, anak SMA Don Juan, yang sudah sejak lama mengagumi Laras. Pertama kali Randy melihat Laras saat Laras dan teman-temannya datang ke pentas seni (pensi) SMA Don Juan. Tapi saat itu Randy belum berani mendekati Laras, karena dia masih menjadi pacar orang. Sekarang Randy resmi menjomblo dan dia merasa saat ini adalah saat yang tepat untuk mendekati Laras.

Saat istirahat Randy menghampiri Laras yang sedang sendirian, karena Rini asyik menelpon gebetan barunya. “Hai Laras, aku boleh duduk disini?”. “Silahkan”, jawab Laras. “Kamu anak SMA Pelita ya?”. “Ya, kamu anak SMA Don Juan, yang kemarin bikin pensi yang keren itu kan?”. Randy merasa gayung telah bersambut dan setelah setengah jam ngobrol, mereka saling bertukar nomor hp. Kemudian Randy mengantar Laras pulang.

“Hm..hm yang baru dapat gebetan baru”. “Apa an sih Ver, pasti Rini yang cerita ya..!!”. Vera Cuma tersenyum. “Gebetan apaan, aku baru kenal sama dia, jadi masih terlalu cepat kalau dibilang gebetan.” “By the way kalau ternyata dia beneran suka ma kamu gimana?.” “Ih apaan sih kamu Rin, jangan suka membayangkan hal yang nggak jelas gitu.” “Ras, jujur deh, kalau yang dibayangin Rini bener-bener terjadi apa kamu bakalan ninggalin Vicky?.” Laras memilih diam, karena baginya omongan kedua temannya sudah terlalu ngelantur. sekarang yang paling penting baginya adalah sekolah, ia tidak mau gagal mengikuti PMDK di PTN terfavorit di kotanya hanya karena makhluk yang bernama cowok. Saat ini memang Laras masih berstatus sebagai pacar Vicky. Tapi bagi kebanyakan orang hubungan mereka sudah tidak layak bila masih disebut pacaran. Sudah setahun mereka menjalin hubungan, tapi sudah empat bulan terakhir ini hubungan mereka mengambang. Vicky sudah tidak pernah mengantar jemput Laras. Jarang mengirim sms, telepon hampir tidak pernah. Mereka pun bertemu hanya sekali dalam dua pekan. Sebuah keadaan yang tidak normal bila masih disebut pacaran.

Malamnya Vicky menelpon Laras, setelah dua minggu menghilang. “Lagi apa yank?.” sapanya tanpa perasaan bersalah. “Lagi beres-beser diktat les, selama ini kamu kemana aja?.” “Aku lagi sibuk ngurusin mata kuliah yang mau aku ambil, selain itu aku juga sibuk latihan ngeband. Aku punya grup band baru yank, namanya THE LOVERS. Rencananya minggu depan mau ikut festival di luar kota, makanya aku jadi sibuk banget sampai nggak sempat telpon kamu.” “Kenapa hp mu selalu nggak aktif?.” “Aku lupa bilang ke kamu kalau hp ku sudah aku jual, untuk tambahan beli gitar baru.” Dua jam penuh mereka mengobrol di telepon. Entah apa yang dirasakan Laras. Di satu sisi dia senang bisa mendengar suara Vicky, tapi di sisi yang lain dia merasa kecewa dengan sikap Vicky yang selalu datang dan pergi sekehendak hatinya.

Randy mengajak Laras pergi nonton ke bioskop. Laras menerima ajakan Randy dengan syarat Vera dan rini juga ikut. Randy memenuhi syarat Laras, baginya bisa jalan bareng Laras adalah sesuatu yang menggembirakan walaupun harus jalan rame-rame. Sengaja Laras mengajak Rini dan Vera, karena ia tidak mau menganggap ajakan Randy sebagai ajakan kencan. Seburuk apapun sikap Vicky, Laras tidak akan lari dari kenyataan, dengan cara melampiaskan kesepian hatinya pada cowok lain. Bagi Laras kesetiaan adalah hal yang paling penting untuk dijaga.

Pulang nonton Rini dan Vera menginap di rumah Laras. Dan sudah menjadi ciri khas cewek, bila suda berkumpul akan ngobrol sampai lupa waktu. Seperti saat ini meskipin jam di kamar Laras sudah menunjukkan pukul 12 malam, mereka masih belum tidur. “Kenapa sih kamu masih mempertahankan hubunganmu dengan Vicky?padahal jelas-jelas itu menyakiti hatimu.” “Iya, kenapa masih sayang sama cowok nggak jelas seperti Vicky, dia sudah nggak sayang lagi sama kamu ras, jadi buat apa kamu masih sayang sama dia?.” “Sudahlah, jangan membahas Vicky lag, biarkan aku menajalani ini semua. Aku hargai kekhawatiran kalian, tapi aku mohon jangan terlalu mencampuri urusan pribadiku.” Setelah perkataan Laras itu, kedua temannya hanya bisa pasrah dan terus berharap semoga Laras sadar.

Vicky tidak bisa tidur, pikirannya kacau, setiap ia memejamkan mata, bayangan wwajah Laras selalu memenuhi hati dan pikirannya. Vicky sangat menyayangi Laras dan tidak ingin kehilangan Laras. Kalau empat bulan ini dia menjauhi Laras, bukanlah atas kemauannya sendiri. Keadaanlah yang memaksaanya untuk berbuat demikian. Ia merasa tersiksa karena dia tau tindakannya telah membuat hati Laras sakit dan terluka. Ketidakberdayaannya membuat dia merasa menjadi seorang pecundang.

Hari minggu ini Laras pergi ke rumah Vicky. dia rasa inilah saat yang tepat untuk menjelaskan sermuanya. Dia melakukan ini semua bukan karena teman-temannya atau karena kehadiran Randy. Tapi karena dia sangat menyayangi Vicky dan dia tidak ingin kehilangan orang yang sangat dia sayangi. Seperti biasa kehadiran Laras disambut hangat oleh kedua orang tua Vicky, tidak ketinggalan Ferdy adik bungsu Vicky. “Kesini sama siapa nak?” tanya ibu Vicky ramah. “Sendirian bu, Vicky ada di rumah kan?’ “Ada kok, tapi masih tidur, biar Ferdy yang membangunkannya.”: giliran Ayahnya yang berbicara. Setelah menunggu selama lima belas menit, barulah mereka pergi keluar.

“Kenapa nggak bilang kalau mau main ke rumah, kan nanti bisa aku jemput.” “Aku sengaja nggak bilang, karena aku yakin kamu pasti punya 1001 alasan untuk tidak mengijinkan aku main ke rumahmu.” “Sudahlah ras, jangan mulai pertengkaran. Saat ini aku sudah punya banyak masalah. Jadi aku mohon kamu jangan menambahnya lagi.” “Bagaimana aku tau kamu ada masalah, kalau kamu sendiri Cuma diam.” “Aku tidak ingin kamu ikut merasakan masalahku. Aku nggak mau mengganggu konsentrasi belajarmu, kan sebentar lagi kamu akan menghadapi ujian nasional, jadi..” “Sudah cukup! Aku tidak mau mendengar semua omong kosongmu! Sekarang ceritakan yang sebenarnya, kenapa selama empat bulan terakhir ini kamu menjahuiku?” “Bukannya aku sudah cerita kalau sekarang aku sedang sibuk dengan kuliah dan grup band ku, please jangan banyak menuntut.” “Menuntut? Kamu bilang aku banyak menuntut? Selama empat bulan ini aku mencoba bersabar menghadapi semua sikapmu. Aku nggak pernah marah walaupun kamu sudah jarang sms ataupun telepon. Aku mencoba bersabar melewati malam minngu ku sendiri tanpa kamu. Apa aku pernah marah dengan semua perlakuanmu? Aku nggak butuh kamu antar jemput, karena aku sudah punya sopir, aku nggak minta terus-terusan diperhatikan, tapi...” Laras tidak sanggup melanjutkan perkataannya, air matanya menjebolakan semua ketegarannya. Vicky merengkuhnya dan memeluknya erat-earat. Kini hatinya semakin hancur, saat melihat Laras menangis karena perbuatannya. Setelah tangisannya reda, Laras memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Vicky. “Lebih baik kita berpisah daripada kebersamaan ini hanya membuat kita saling menyakiti. Aku tidak akan mengganggumu lagi, nikmatilah semua waktumu. Aku harap dengan kepergianku kamu bisa berhasil dengan kuliahmu dan semoga di festival nati grup bandmu bisa menjadi juara. Selamat tinggal, terima kasih atas semua yang pernah kamu berikan. Itu adalah kenangan terindah yang tidak akan pernah aku lupakan.”

Akhirnya apa yang selama ini Vicky takutkan terjadi juga. Laras telah pergi meninggalkannya. Kini ia merasa seperti seonggok sampah yang tidak berguna. Ia merasa bagaikan seorang pecundang sejati, karena tidak bisa mempertahankan sesuatu yang seharusnya patut ia pertahankan.

Kabar putusnya Laras dengan Vicky sangat menggembirakan bagi kedua sahabatnya. Karena bagi mereka hal ini akan mengakhiri penderitaan Laras, ia tidak akan menangis lagi. “Ras, kamu nggak pergi les sayang?” “Nggak ah ma, Laras lagi malas.” “Kenapa?kamu sakit?” “Nggak, kemari Laras baru aja putus dengan Vicky. Laras yakin pasti Vera dan Rini sudah menceritakan masalah ini ke Randy, Laras nggak mau Randy salah sangka.” “Terus sampai kapan kamu mau menghindar dari Randy? Ingat sayang, menghindar bukan cara yang baik untuk menyelesaikan masalah.” “Laras tau ma, tapi untuk saat ini Laras belum ingin menyelesaikan masalah ini.”

Seminggu setelah putusnya Laras dengan Vicky, randy menjemput Laras disekolahnya. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi nanti. Apakah Laras akan menolaknya ataupun menerimanya, baginya yang terpenting adalah mengungkapkan semua isi hatinya. Setelah Laras mendengarkan semua perkataan Randy, dia pun mulai berbicara. “Sebenarnya aku sudah tau semua perasaan kamu jauh sebelum kamu mengungkapkannya. Tapi maaf untuk saat ini aku hanya bisa berteman dengan kamu. Aku baru seminggu putus, jadi aku belum siap untuk menerima seseorang lagi.” “Tapi sampai kapan kamu akan berbuat seperti ini? Kehidupan akan tetap berjalan dengan ataupun tanpa Vicky. Aku mohon beri aku kesempatan untuk bisa membuat kamu bahagia.” “Ren, memang aku yang memutuskan Vicky, tapi aku masih sangat menyayanginya. Aku minta maaf, tolong lupakan perasaan kamu, kita berteman saja.” Randy pasrah, dia pergi meninggalkan rumah Laras dengan segudang kekecewaan. Bukan karena Laras menolakknya, tapi karena ia melihat orang yang disayanginya menderita karena kehilangan cinta. Rendy telah berjanji untuk membahagiakan Laras dan satu-satunya cara untuk membahagiakan Laras adalah mempersatukannya kembali dengan Vicky. Sekalipun itu sangat melukai hatinya, tapi kebahagiaan Laras adalah hal terpenting dalam hidupnya. Demi Laras ia abaikan rasa sakit hatinya.

Tidak sulit bagi Randy untuk menemui Vicky. sekarang dia sudah bersama Vicky. “Kamu nggak perlu tau siapa aku, yang jelas aku tidak rela melihat kamu menyakiti Laras.” “Tanpa kamu ingatkan, aku sudah sadar kalau aku telah membuat Laras tersakiti dan itu jauh lebih menyakiti hatiku.” “Kalau kamu juga terluka apakah itu berarti kamu masih menyayangi Laras?” “Aku tidak pernah bisa berhenti untuk menyayangi Laras.” “Lalu kenapa kamu tidak mempertahankan hubungan kalian?” “Tidak semudah itu, rintanganku terlalu berat untuk bisa mempertahankan Laras.” “Maksudmu?” “Aku tidak seperti kamu, Raden Randy Kusumaatmaja. Kamu adalah seorang bangsawan dan juga dari anak pengusaha terkenal di kota ini. Tidak sulit bagi kamu untuk bisa diterima oleh ayah Laras yang seorang walikota.” “Terus terang aku semakin tidak mengerti dengan perkataanmu.” “Aku mulai menajuhi Laras setelah ayahnya memperingatkan aku untuk menjahui Laras. Tentu kamu hanya akan semakin menganggap aku sebagai seorang pencundang. Tapi alasan utamaku untuk menjauh dari Laras bukanlah karena ayahnya, melainkan karena aku sadar kalau aku memang tidak pantas untuk Laras. “Kenapa semudah itu kamu menyerah? Tindakanmu yang seperti itu akan membuat kamu semakin tidak berharga dihadapan ayah Laras. “Aku sadar, tapi aku sudah tidak tau lagi harus berbuat apa.” “Kejarlah Laras, raihlah kebahagian kalaian, aku akan membantu.”

Setelah menemui Vicky, Randy menghampiri Laras dan menceritakan semua hal yang telah ia bicarakan dengan Vicky. “Apa? Jadi semua yang dilakukan Vicky terjadi karena ulah Ayahku?” “Ya, sekarang hal yang harus kamu lakukan adalah meyakinkan papamu bahwa Vicky tidak sejelek yang beliau pikirkan. “ “Tentu, Ren makasih banyak ya. Kenapa kamu mau lakukan semua ini?” “Kamu ras, aku lalukan semua ini karena kamu. Aku Cuma ingin kamu bahagia.” “Makasih ya ..”

Setelah makan malam, Laras menemui ayahnya yang masih sibuk di ruang kerjanya. “Ayah, Laras mau bicara.” “Ya bicara saja sayang, ada apa?” “Apa yang Ayah lakukan pada Vicky adalah hal yang tidak pantas. Apa ayah nggakj sadar, tindakan Ayah sudah sangat menyakiti hati Laras.” “Jadi laki-laki tak bermasa depan itu mengadu padamu? Dasar pecundang!” “Ayah nggak berhak menvonis Vicky seperrti itu, memangnya siapa Ayah? Ayah bukan Tuhan yang dapat menentukan masa depan seseorang!” “Laras! Kamu belum tau siapa Vicky sebenarnya, dia hanya seorang mahasiswa perguruan tinggi pinggiran yang terancam di DO! Kerjanya hanya balapan liar di jalan! Kamu nggak tau betapa malunya Ayah saat teman ayah tau kamu pacaran dengan laki-laki seperti itu. Laras, ayah ini seorang walikota! Semua tindak tanduk ayah akan disorot oleh semua orang, termasuk kehidupan anak-anak ayah.” “Tapi Laras juga punya hak untuk bahagia kan? Masa remaja Laras tidak , akan kembali lagi, jadi Laras mohon sama Ayah, berilah Laras kesempatan untuk bahagia.” “Tapi kamu tidak boleh bergaul dengan Vicky. Carilah kebahagiaan dengan orang lain, orang yang lebih pantas.

Laras pergi meninggalkan Ayahnya dengan penuh air mata. Ditengah-tengah tangisnya, hp nya berdering. “Hallo..” sapanya. “Sayang, maafin aku..,karena ketidakberdayanku kamu jadi terluka.” “Ini bukan salahmu, akulah yang seharusnya minta maaf akan semua tindakan Ayahku.” “Sudahlah, jangan membahas itu lagi. Aku sangat menyayangi kamu dan aku akan berusaha untuk mempertahankan kamu apapun resikonya.” “Aku percaya, sekarang aku mohon kamu berubah menjadi lebih baik lagi. Jangan suka bolos kuliah lagi, menangkan festival band itu.” “Tentu! Aku akan lakukan apapu yang bisa buat kamu bangga karena telah menjadi pacarku. Aku sayang kamu.” “Aku juga.”

Enam bulan berikutnya, semua telah berubah. Vicky tidak jadi di DO, grup bandnya keluar sebagai juara umum dalam festival itu dan sudah dikontrak selama satu tahun untuk mengisi acara di Good’s Cafe, cafe yang paling terkenal di kota Surabaya. Laras diterima di perguruan tinggi negeri yang terbaaik dan terfavorit di Indonesia, yang terletak di ibukota. Kini mereka terpisah jarak yang jauh tapi janji mereka tetap terukir dengan indah. Mereka tetap berpacaran walaupun harus long distance. Ayah Laras mulai menerima vicky dan menyetujui hubungan mereka.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar