Rabu, 07 Maret 2012

Menantu & Mertua

Hmmm.., hari ini adalah hari kesebelas saya resmi menjadi seorang istri, dan tentu saja juga sebagai seorang menantu. Setelah pernikahan saya dan pasangan masih tinggal di rumah Ibu (mertua saya), maklum pasangan baru, belum punya rumah.. J . Sebenarnya kami sudah membeli rumah, tapi rumah itu baru akan selesai bulan mei mendatang (semoga g molor.. ). Selain itu saya masih harus bekerja di Jakarta. Alhasil selama masa cuti saya tinggal bersama ibu mertua dan keluarga kakak ipar saya.
26 Februari 2012, akhirnya kami resmi menjadi pasangan suami istri


Sejujurnya ada ketakutan sendiri dalam benak saya. Tentang bagaimana nanti kehidupan saya yang seatap dengan mertua. Mungkin karena saya mulai tersugesti dengan cerita-cerita kebanyakan. Bahwa menantu perempuan itu akan selalu bermasalah dengan ibu mertuanya. So, saya awali hari pertama kali tinggal seatap bersama mertua  dengan perasaan was-was.
foto bareng Ibu (biru) dan mama (pink)



Hari pertama, sedikit shock terapi, why? Saat sedang duduk bertiga (saya, suami & mertua), tiba-tiba mertua berkata “jadi sekarang dia tanggungjawabmu lho, kamu cuci bajunya, setrikain dan masakin”. Dhhuuueeerrr, saya langsung tertohok. Kenapa tertohok? Entahlah, menurut saya tanpa diberitahu pun saya tau, apa kewajiban saya sebagai seorang istri. Sempat ngambek juga ke suami, bahkan belum-belum saya sudah minta pulang ke rumah mama (lebay y?). Suami saya, seperti biasa kesabarannya mampu mendamaikan hati saya. Hmmm, sejujurnya saya dan suami itu adalah pribadi yang sangat bertolak belakang. Saya orang yang suka banyak berbicara dan cenderung emosional, sementara dia orangnya pendiam dan selalu tenang dalam setiap keadaan (i love u darl,, J ).
arif, my lovely husband,,,,

Hari ketiga setelah pernikahan barulah saya memasak untuk suami. Menu pertama yang saya buat adalah tumis cumi asam pedas. Ibu (mertua) tidak tau  kalau saya memasak. Maklum saya masaknya malam, saat beliau sudah tidur. Klo pagi dapur adalah teritorial kakak ipar saya, saya tidak mau mengganggunya. Makanya saya masaknya malam.
Masakan kedua yang saya buat adalah tumis tempe petai. Sengaja cuma masak tumis, karena itu yang paling praktis dan tahan lama. Saya hanya bisa masak malam, jadi wajar klo harus pintar-pintar pilih masakan yang masih tahan untuk besok. Kali ini Ibu tau saya memasak, dan sedikit complain karena menurut beliau saya terlalu banyak memakai minyak goreng. Dan lagi-lagi saya tersinggung.
Hari jum at, suami ijin tidak masuk kerja. Karena dia libur saya memintanya untuk diantar ke pasar. Menu saya kali ini adalah sayur asam, pindang tumis cabai hijau dan tempe goreng. Dan begitu saya sampai rumah ibu sudah menunggu saya di dapur. Awalnya agak canggung, karena saya tidak bisa kalau masak dibantu orang lain, apalagi oleh mertua, bikin grogi. Tapi tentu saja saya tidak mungkin mengusir beliau dari dapurnya sendiri. So akhirnya kami memasak berdua. Hasilnya masakan matang lebih cepat (ya tentu lha, kan kokinya ada dua).
Mulai saat itu ketakutan saya akan tindakan ibu mertua terhadap menantunya berangsur hilang. Saya merasa berterimakasih memiliki mertua seperti ibu. Beliau selalu ingin membantu pekerjaan saya sebagai seorang istri. Perhatiannya sangat luar biasa. Bahkan mungkin terlalu berlebihan, sehingga membuat saya merasa tidak enak. Saya takut ibu sakit akibat kecapekan membantu saya.
Keseokan harinya saya sengaja bangun subuh-subuh, mau goreng ayam soalnya. Namun betapa kagetnya saya ketika di dapur saya lihat Ibu sudah menggoreng ayam. Aduh.., saya jadi tambah nggak enak. Saya mengadu ke suami tentang apa yang ibu lakukan. Kata suami, biarkan saja  selama kita tidak meminta ibu, selama beliau melakukan atas kehendaknya sendiri.
Hari-hari selanjutnya, masih seperti kemarin. Ibu masih banyak membantu saya memasak. Saya mulai menjalani hubungan mertua – menantu dengan aura yang lebih positif. Tidak ada lagi rasa was-was punya mertua galak.
Hari ini saya semakin merasa tidak enak pada Ibu. Saya kaget kenapa ibu memasak, saya terharu mendengar jawabannya “kalau nggak masak nanti kamu makan apa”. Hari ini rencananya saya memang nggak masak yang aneh-aneh, karena kata suami belanjanya ntar sore saja. Rencananya mau masak mie telor cabai hijau dan goreng nugget ayam. Tapi mungkin ibu tidak tau rencana saya sehingga beliau memasak, karena khawatir tidak ada yang bisa saya makan.
Siangnya, ibu memberi tahu kalau saya kurang bersih mencuci seragam suami. Hmm, jadi malu karena ternyata masih ada noda yang belum hilang. Pemberitahuan dari ibu tidak saya anggap sebagai teguran, melainkan memberi info. Saya tidak lagi tersinggung dengan saran-saranya. Saya semakin tidak enak, saya janji akan memperbaiki diri agar bisa menjalankan kewajiban sebagai seorang istri lebih baik lagi. Dan saya berusaha untuk melakukan semuanya sendiri, agar tidak merepotkan Ibu terus.
Semoga cerita saya ini bisa memberi second opinion  bagi menantu-menantu yang lain. Bahwa nggak selamanya ibu mertua itu jahat kepada menantu perempuannya. Bahwa kita tidak boleh berstigma terlebih dahulu kepada orang yang belum kita kenal. Semoga nanti cerita-cerita menantu vs mertua akan berganti dengan menantu cs mertua J .





1 komentar: