Jumat, 20 April 2012

Refleksi Peringatan Hari Kartini : Melanjutkan Perjuangan Perempuan Indonesia


Sejak tahun 1964, setiap tanggal 21 april di Indonesia diperingati sebagai hari Kartini. Preseiden Soekarno Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Kartini adalah seorang bangsawan, puteri dari bupati Jepara. Kartini merupakan anak dari pasangan R.M Sosroningrat dan M.A Ngarsiah. Sebagai seorang bangsawan, Kartini memperoleh kesempatan pendidikan. Sampai usia 12 tahun, Kartini bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Disana Kartini belajar bahasa Belanda, sehingga sejak dipingit Kartini bisa melakukan korespondensi dengan teman-temannya dari negera Belanda. Rosa Abendanon, adalah salah satu kawan korespondensi Kartini. Melalui Rosa, Kartini banyak mengetahui kondisi Perempuan di Eropa. Di eropa kala itu, perempuan berada dalam kondisi yang maju berbeda dengan kondisi perempuan pribumi. Kartini merasa terpanggil untuk memajukan perempuan pribumi, khususnya melalui pendidikan. Dengan dukungan dari  suaminya, Raden Adipati joyoningrat, Kartini mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang.  Menurut Kartini, salah satu upaya penting yang harus dilakukan untuk meningkatkan derajat perempuan adalah melalui pendidikan.
Lalu bagaimana dengan kondisi perempuan Indonesia saat ini? Apakah mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan?. Menurut data BPS tahun 2010, Perempuan pada umur 7−12 tahun sebanyak 95,27 persen masih sekolah, perempuan pada umur 13−15 sebanyak 85,04 persen masih sekolah. Semakin tinggi umurnya maka semakin kecil persentase masih sekolah. Pada masa umur-umur sekolah (7−24 tahun) sebesar 61,34 persen perempuan masih sekolah. Dengan demikian maka dapat ditarik kesimpulan bahwa lebih dari separuh perempuan Indonesia memiliki akses dalam bidang pendidikan.
Sebagai salah satu perempuan Indonesia, saya merefleksikan  peringatan hari Kartini untuk melanjutkan perjuangan  perempuan Indonesia, khususnya dibidang pendidikan. Mengapa? Dengan pendidikan maka perempuan akan memperoleh ilmu yang dapat ia gunakan untuk berparisipasi dalam kehidupan, baik itu dalam ranah domestik maupun ranah publik. Perempuan yang terdidik akan menjadi tiang utama dalam pembangunan suatu bangsa. Sebagai Ibu,  perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa agar menjadi manusia yang berilmu sekaligus berakhlak mulia. Keluarga memiliki fungsi sosialisasi, yaitu menanamkan nilai dan norma.
Dengan pendidikan perempuan akan mampu meningkatkan perannya dalam masyarakat. Dengan pendidikan perempuan akan menjadi mitra bagi laki-laki untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang berilmu dan berakhlak. Perjuangan perempuan tidak harus dilakukan melalui ranah publik semata. Seorang perempuan yang memilih sebagai Ibu rumah tangga memiliki peran yang tidak kalah penting dari perempuan karier. Ibu yang berpendidikan akan mampu mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara. Bukankah keluarga adalah bagian terkecil dari suatu masyarakat? Keluarga yang terdidik dan berakhlak akan mampu membentuk masyarakat yang madani.
Momentum peringatan hari Kartini marilah kita jadikan sebagai sarana peningkatan perjuangan perempuan Indonesia untuk memperoleh pendidikan. Dimana pendidikan itu tidak hanya didapatkan melalui bangku sekolah semata, tetapi juga didapatkan dalam proses interaksi sosial dalam masyarakat. Bagi perempuan, terlepas dari pilihan menjadi seorang perempuan karier ataupun seorang ibu rumah tangga teruslah berusaha untuk meningkatkan ilmu yang dimiliki. Melalui ilmu kita akan bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai untuk kemajuan bangsa. Majulah perempuan Indonesia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar