Selasa, 26 November 2013

Horeeeee...,Chacha lulus S1...


Setelah melahirkan, saya siap utuk berjuang lagi,,
Berjuang untuk apa? Berjuang untuk memberikan ASI (Air Susu Ibu) kepada putri kecil sya, Chacha.
Saya bertekad memberikan ASI kepada Chacha dari lulus S1 (6bulan), S2 (1 tahun) dan S3 (2 tahun).

Makanya sejak hamil, selain rajin gabung di milis tentang kehamilan, saya juga aktif mengikuti milis ataupun grup yang berkaitan dengan ibu menyusui.
Karena sejak awal sudah banyak menyerap informasi seputar menyusui, maka saya semakin mantap untuk terus bisa memberikan ASI pada Chacha.
Mulai grup Konsultasi Menyusui, AIMI, Tambah Asi Tambah Cinta, adalah grup-grup yang banyak menginspirasi saya untuk tetap semangat ngASI sampai lulus S3.


Saya terharu sekaligus salut, ketika ada cerita seorang bunda yang bisa kasih ASI anaknya sampai S3 (ASI sampai usia dua tahun), padahal bunda tersebut adalah wanita karier yang bekerja selama delapan jam sehari.
Kalau yang pekerja fulltime saja bisa kasih ASI, apalagi yang cuma freelancer seperti saya ini.
Saya harus semangat, nggak boleh kalah dan menyerah.

Makanya sebulan pasca melahirkan saya mulai berburu perlengkapan untuk menyiapkan ASIP (Air Susu Ibu Perahan).
Mulai dari breastpump, coolerbag, dan botol-botol untuk menyimpan ASIP.
breastpump manual untuk perah ASI..
Sebulan menjelang berakhirnya masa cuti, maka saya mulai belajar memerah ASI. 
Saya memilih menggunakan breastpump (BP) manual.
Sengaja pilih BP yang manual karena saya masih takut kalau pake BP yang elektik, selain itu juga dana nya belum mencukupi kalau beli BP yang elektrik, he..he

Pertama kali memerah, rasanya hampir hopeless... gimana nggak putus asa, dalam waktu dua jam merah cuma dapat 30 ml.
Tapi untungnya saya punya suami yang sangat mendukung, suami terus menyemangati,, Katanya "ini kan baru edisi pertama, wajar kalau sedikit, nanti lama-lama juga banyak."
saya dan suami, suami nomor satu di dunia
Menurut artikel yang saya baca, hasil perahan itu tergantung kebutuhan bayinya.
Jadi kalau masih kecil ya wajar sedikit, karena kebutuhan ASI nya juga sedikit. 

Setiap hari sekali saya rajin memerah ASI.
Ternyata benar, lama kelamaan hasil perahan juga meningkat.
ASIP saya simpan dalam botol-botol kaca, dan kemudian di taruh di freezer supaya bisa tahan sampai dua minggu.
botol penyimpanan ASIP buat chacha

Okey, setelah masalah manajemen penyimpanan ASIP, langkah selanjutnya adalah cara memberikan ASIP.
Dan menurut beberapa artikel dari grup menyusui, cara menyajikan ASIP yang baik adalah menggunakan sendok atau dengan cupfeeder. 
Saya memilih menggunakan sendok, berutung saya punya ibu yang sangat membantu saya.
Mama juga semangat membantu saya untuk tetap bisa memberikan ASI.
mama, pendukung terbesar saya untuk tetap ngASI

Awalnya memang tidak serta merta bisa meyakinkan mama bahwa tanpa sufor anak saya tidak apa-apa.
Maklum karena keempat anaknya adalah hasil dari kombinasi sufor dan ASI.
Tapi setelah saya ajak mama membaca artikel-artikel tentang manfaat ASI dibandingkan sufor, akhirnya mama mengerti.
Dan beliau mendukung saya seratus persen!!
Dukungan mama sangat berarti, karena nanti kalau saya sudah bekerja maka Chacha akan diasuh mama.
Dalam sehari maksimal saya meninggalkan rumah selama 5 jam, makanya saya perlu menyiapkan ASIP.
Pertama kali mungkin agak repot bagi mama saat harus memberikan  ASIP dengan sendok, tapi alhamdulillah seiring berjalannya waktu mama mulai biasa dan menikmati perannya sebagai nenek, he,,he
sendok ASIP chacha


Bagaimana dengan keluarga besar? hmmm, mereka nggak percaya kalau saya hanya memberikan ASI untuk anak saya.
Padahal suami saya seorang PNS, ya secara ekonomi kami masih mampu membelikan sufor untuk anak kami.
Mereka justru merasa iba, karena kami hanya memberikan ASI.
Duh ini pola pikir yang keliru, dan parahnya sudah tertanam kuat dalam masyarakat kita.
Bahwa bayi sufor itu keren, kenapa? karena harga sufor itu mahal.
Semakin mahal harga sufor maka kualitasnya semakin baik, bahkan dianggap melebihi ASI, jelas ngawur banget paradigma ini.
Dan semakin orangtua bisa kasih sufor yang mahal, maka prestise yang didapat semakin tinggi, ini ngawur lagi.

Tapi saya cuek-cuek saja, bagi saya ASI adalah yang terbaik bagi anak saya.
Terserah orang mau bilang apa.
Sungguh berat cobaan saat ngASI, kalau cuma dianggap kere karena nggak kasih sufor sih nggak apa-apa, tapi ini yang bikin sakit adalah dibilang bayi kurang gizi.
Cuma karena berat badan Chacha yang mungil, dibandingkan bayi-bayi disekitar saya.
Setelah tau kalau bayi ASI memang nggak segemuk bayi sufor, maka saya tenang-tenang aja.
Saya sudah nggak peduli dengan apa kata orang.
Ya jelas bayi sufor itu gemuk, secara sufor kan mengandung gula.
dan bayi sufor akan cenderung mengalami obesitas.

Akhirnya tepat pada tanggal 24 oktober 2013, Chacha genap berusia enam bulan..
Itu artinya chacha da lulus S1, alhamdulillah.....
Memang tidak mudah memberikan ASI secara eksklusif, karena pola pikir masyarakat yang cenderung bangga dengan sufor.
Wajar, karena setiap hari dijejali iklan sufor segitu banyaknya di tv.
Ibu menyusui juga perlu dukungan orang-orang sekitar agar proses menyusui berjalan lancar.
Alhamdulillah saya punya suami, orang tua dan teman-teman yang setia mendukung dan menyemangati saya untuk bisa tetap kasih ASI.
Sekarang perjuangan selanjutnya adalah mengejar S2 dan S3..
harus tetap semangat, semoga Allah juga senantiasa memberikan ASI yang melimpah untuk saya.
Semoga Chacha terus tumbuh jadi anak yang sehat, pintar dan sholehah karena ASI..
Semangat ngASi for better generAsi....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar