Senin, 31 Maret 2014

Suamiku, suami juara... J

Tak terasa tahun ini tahun kedua kami membina rumahtangga. Alhamdulillah ditengah-tengah kami sudah ada Chacha, putri kecil kami. Usia dua tahun mungkin masih bisa dibilang baru, dan sebagian orang banyak yang bilang kalau awal-awal pernikahan adalah masa yang rentan. Di bawah usia lima tahun kata sebagian orang adalah masa-masa yang paling banyak konflik.
Wajar kalau banyak yang bilang awal pernikahan adalah masa yang rentan. Ya mungkin karena masa-masa awal adalah masa penyesuaian bagi sepasang suami istri. Begitu juga bagi kami, kami masih dalam proses penyesuaian, mencoba untuk terus berkompromi dengan segala perbedaan yang kami miliki. Sebelum menikah memang kami sudah berpacaran selama empat tahun. Empat tahun tentu bukan waktu yang sebentar bagi kami untuk bisa mengetahui karakter kami masing-masing. Tapi tentu juga bukan waktu yang cukup untuk meleburkan segala perbedaan kami.
Buat saya pernikahan itu tidak harus menjadikan kami pasangan yang sama persis. Tidak harus membuat kami kehilangan karakter masing-masing. Perbedaan dalam rumahtangga adalah hal yang lumrah dan harus ada agar perjalanan kami tidak membosankan. Dengan perbedaan kami bisa belajar untuk bertoleransi. Dengan perbedaan kami belajar mencintai secara tulus, menerima segala kekurangan dan kelebihan kami masing-masing.
Dalam waktu dua tahun bukan berarti biduk rumahtangga ini aman-aman saja. Kami juga punya berbagai masalah yang tak jarang membuat kami bertengkar. Mungkin sebagian masalah yang kami hadapi adalah persoalan ekonomi. Sebagai suami istri yang memulai semuanya dari nol, tentu kami tidak punya apa-apa saat menikah. Rumah kami belum punya, atau lebih tepatnya belum bisa kami tempati. Alhamdulillah sebelum menikah suami sudah membeli rumah secara kredit. Tapi entah kenapa sampai sekarang rumah itu belum terbangun juga. Ya mungkin karena suami hanya mampu membeli rumah dengan budget dibawah 150 juta. Sehingga developer  nya pun juga masih yang baru, tidak punya banyak modal. Persoalan rumah ini lah yang kadang membuat kami bertengkar. Ya mungkin karena saya yang kurang sabar untuk menunggu.
Setelah menikah kami tinggal di pondok mertua indah. Tinggal di rumah suami. Sebab tak mungkin tinggal di rumah orangtua saya, orangtua saya tidak punya rumah. Sepeninggalan papa, mama tinggal di rumah petak bersama dua adik lelaki saya. Kurang lebih lima belas bulan kami tinggal di rumah ibu. Setelah itu kami pindah ke rumah kontrakan, karena sudah ada chacha. Tepat setelah masa cuti hamil saya habis, kami pindah ke rumah kontrakan yang letaknya tidak jauh dari kantor suami. Kami pindah karena saat saya bekerja, tidak ada yang menjaga Chacha. Ibu mertua saya sudah dititipi dua anak dari kakak perempuan suami. Kami memboyong mama dan adik-adik. Ya karena mama lah yang nantinya akan menjaga Chacha saat saya harus bekerja.
Suami saya mungkin memang tidak romantis. Jarang sekali kasih saya surprise. Tapi dia adalah lelaki yang luar biasa. Kenapa luar biasa? Karena dia benar-benar menerima saya apa adanya. Sebagai anak sulung, otomatis sejak kepergian papa pada tahun 2009 lalu, saya lah yang menjadi kepala keluarga. Saya harus menghidupi mama dan ketiga adik saya. Setelah memiliki anak, suami melarang saya untuk kerja fulltime. Saya hanya boleh bekerja secara freelance. Tentunya pendapatan saya berkurang cukup signifikan. Tapi suami tahu resikonya, dia tidak pernah hitung-hitungan untuk membiayai keluarga saya. Semua uang yang dia dapatkan langsung dia berikan ke saya. Bahkan amplop gaji selalu masih tersegel rapi. Dia percaya pada saya sepenuhnya untuk mengelola ekonomi keluarga kami, tak hanya untuk keluarga keci kami tapi juga untuk orangtua dan adik-adik saya.
Terkadang saya merasa kasihan dengan suami, tak seharusnya dia yang memikul semua tanggungjawab ini. Ini adalah tanggungjawaba saya sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Ingin saya bekerja secara penuh agar punya penghasilan yang penuh juga. Agar saya bisa membiayai keluarga saya dengan jerih payah saya sendiri. Tapi apa boleh buat, saya tidak mau melanggar perintah suami dan saya juga nggak tega kalau harus terlalu lama meninggalkan chacha.
Setiap hari saya selalu bersyukur dengan takdir yang Tuhan beikan. Mempertemukan saya dengan lelaki yang sangat luar biasa ini. Dalam setiap sujud saya selalu berdoa agar Tuhan selalu melindunginya dalam setiap langkahnya berjihad membiayai keluarga kami. Saya akan terus berusaha menjadi istri yang baik untuknya. Menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Saya sangat mencintainya, suami saya adalah suami yang luar biasa. Terimakasih Tuhan, lindungi keluarga kami dari segala mara bahaya. Beri kami kekuatan untuk selalu bersama menghadapi setiap cobaan yang kau berikan. Berkahilah rumahtangga kami dengan kasih Mu yang tulus dan abadi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar