Rabu, 16 April 2014

Aku Bangga Menjadi Ibu

Saya tak henti-hentinya merasa bahwa menjadi ibu itu adalah sebuah proses pembelajaran sepanjang hayat. Ibu, sebuah status yang seringkali dimarginalkan dalam kehidupan yang semakin modern. Perempuan yang memilih menjadi ibu rumahtangga seringkali dicibir, tak memiliki bergaining power yang kuat di masyarakat. Dahulu saya juga berpikir demikian, tak pernah terlintas dalam benak saya untuk menjadi seorang ibu rumahtangga. Impian saya adalah menjadi wanita karir yang sukses. Tak sudi jika saya harus dibatasi dengan hanya berperan di sektor domestik. Bagi saya kita sudah lama merdeka, emansipasi adalah suatu keniscayaan. Perempuan juga punyak hak meniti karir di sektor publik.
Wajarlah jika pemikiran saya seperti ini, lingkunganlah yang membentuk saya. Walaupun saya dibesarkan dalam lingkungan yang sangat patriakhi, saya tinggal dengan kakek yang notabene adalah keturunan timur tengah sejak umur sepuluh tahun namun jiwa-jiwa emansipatoris itu mampu tumbuh dalam benak saya. Mengapa? Karena sebelum berusia sepuluh tahun, orangtua saya sudah membekali saya nilai-nilai yang mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan itu kedudukannya setara. Saya benar-benar yakin bahwa sosiologi primerlah yang mampu membentuk pola pikir seorang anak. Saya adalah buktinya, jadi walaupun lebih lama tinggal dengan kakek, saya tidak tergerus dengan pemikiran-pemikiran yang patriarkhis. Selain itu sejak di bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi saya selalu bersekolah di sekolah negeri yang lokasinya juga di pusat kota, maka nilai-nilai patriarkhi itu tak banyak yang sukses membentuk pikiran saya. Apalagi saya kuliah di fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, yang pastinya di kampus saya dijejali nilai-nilai modern, emansipasi dan kesetaraan gender menjadi kudapan sehari-hari.
Setelah menikah selama empat belas bulan, rumahtangga kami dikarunia seorang putri cantik. Putri pertama kami bernama Dissa Zahra Firdausi, lahir pada tanggal 24 April 2014. Sejak itulah saya menyandang status baru, ibu. Sebuah status akan selalu diikuti oleh sebuah peran. Saya memiliki peran baru, merawat seorang anak. Disinilah semua nilai-nilai tentang emansipasi terjun bebas, cita-cita menjadi wanita karir padam sudah. Bisa dikatakan pendangan hidup saya berubah 180 derajat. Saya sudah tak ingin lagi menjadi wanita karir, bekerja delapan sampai sepuluh jam di kantor. Saya tak kuasa meninggalkan anak saya dalam waktu yang lama. Tapi tentunya saya tetap bekerja, Cuma sekarang saya hanya seorang freelancer. Saya memilih menjadi pengajar freelen, yang hanya bekerja 2-3 jam per hari. Jadi saya tetap bisa mengaktualisasikan ilmu saya tanpa meninggalkan kewajiban saya sebagai seorang ibu.
Setelah hampir satu tahun menjadi ibu, yang lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah. Barulah saya menyadari, bahwa jadi ibu itu jauh lebih sulit daripada menjadi seorang wanita karir. Dari segi waktu dan tenaga, tentu lebih banyak yang harus dikeluarkan oleh seorang ibu rumahtangga daripada wanita karir. Dari segi ilmu juga demikian. Jika kita menjadi ibu tak hanya satu ilmu yang harus kita miliki, sebab merawat dan membesarkan anak dengan sukses itu harus didukung oleh banyak ilmu.
Awal-awal saya harus belajar tentang menyusui, mencari informasi bagaimana bisa menyusui hingga usia dua tahun. Bagaimana agar asi (air susu ibu) keluar banyak dan berkualitas. Bagaimana caranya agar tetap sukses menyusui walaupun bekerja, dan segudang pernak-pernik yang menunjang suksesnya menyusui. Sumpah, itu lebih ribet daripada harus melafalkan teori-teori yang saya dapat saat kuliah. Setelah anak saya berusia 6 bulan, fase belajar saya berganti. Tak lagi seputar asi tapi berganti mempelajari mpasi (makanan pendamping asi). Jatuh bangun saya mencari info tentang bagaimana menyediakan mpasi homemade. Tiap hari melototi grup facebook yang bahas mpasi, tiap hari nggak lupa untuk googling resep-resep mpasi. Memang lebih menyita banyak waktu dibandingkan dengan membuat mpasi instan. Tapi kepuasannya itu lho, masak mpasi serempong apapun pasti capeknya akan hilang saat melihat anak lahap makannya. Selain itu kesehatan anak lah reward  paling berharga dalam pemberian mpasi homemade. Anak tidak gampang sakit, pertumbuhan dan perkembanganya menjadi normal sesuai dengan standar gizi.
Sekarang tak hanya ilmu tentang memberikan asupan gizi, tapi juga tentang mendidik anak. Tentunya seorang ibu harus bisa memahami psikologi anak. Mendidik dengan cinta dan berilmu. Alhamdulillah sekarang banyak seminar tentang parenting yang sangat membantu saya sebagai seorang ibu baru. Mengajari anak berjalan, bersikap, dan berkomunikasi tentu tidak mudah bila ibunya tidak berilmu. Maka saya tak lagi rendah diri, sebagai seorang sarjana yang memilih untuk memperioritaskan karir di dalam rumah. Tak  merasa kuliah saya sia-sia hanya karena saya Cuma seorang ibu rumahtangga. Bahkan saya ingin bersekolah lagi, menambah ilmu agar anak saya menjadi generasi pilihan.

Perempuan itu tetap harus berpendidikan tinggi apalagi jika memilih sebagai seorang ibu rumahtangga. Seorang yang lebih banyak dirumah bersama anak-anaknya. Perempuan harus berilmu, agar dia juga mampu mendidik anaknya dengan ilmu. Sebab ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sekolah yang baik tentu akan menghasilkan lulusan yang baik. Saya ingin menjadi sekolah yang baik bagi anak-anak saya. Saya tak akan berputus asa untuk terus belajar menjadi ibu. Dan saya bangga menjadi seorang ibu rumahtangga.... J

1 komentar:

  1. Assalamualaikum...
    Mbak menurut mbak, batesan dalam hubungan pria dan wanita itu bagaimana?

    BalasHapus