Senin, 27 Juli 2015

Poligami : Antara Syahwat dan Sunnah



“jeritan para wanita yang belom bersuami!! Wahai bapak-bapak yang belum sadar BERPOLIGAMI !! Anda diciptakan Allah ta’ala sebagai imam yang mampu memimpin 4 orang istri,kenapa anda tidur dipelukan satu istri saja? Anda mampu !! Allah ta’ala Maha Kaya, apakah anda tidak sadar bahwa perbandingan kami dengan anda sudah 1:7 ?? kami mau dikemanakan? Mana sunnah Nabimu? Mana imanmu? Mana ilmumu? Mana rasa ibamu? Takut istri syirik !! Takut miskin itu syirik !! Kami perlu imam, Allah ta’ala member makan kami, bukan anda, semoga anda sadar dan menjadi renungan. “

Aduh, mendidih saya membaca tulisan diatas, tulisan diatas saya dapat dari status seseorang di Facebook. Ada dua hal yang menjadi penilaian saya terhadap empunya status tersebut. Pertama, sebagai seorang istri jelas saya sangat marah dengan pemilik status tersebut. Kenapa saya marah? Ya wajar lah,solidaritas sesama perempuan yang bersuami, mana rela suaminya dibagi dengan orang lain apalagi sampai diambil. Kedua, saya merasa sangat kasihan. Sebegitu nggak lakunya kah perempuan tersebut, sampai-sampai harus rela di poligami? Menurut saya mungkin dia lelah menjomblo, lelah menunggu jodoh yang tak kunjung datang. Dari dulu sikap saya sangat jelas, saya menolak dipologami. Bukan berarti saya tidak setuju dengan ajaran islam. Menolak bukan berarti tidak setuju, tolong bedakan !!
Biar saya tidak terkesan terlalu emosional dalam menanggapi isu poligami ini, maka tetaplah membaca tulisan saya. Saya akan jelaskan poligami secara lebih luas, tidak hanya seputar emosi saya saja. So keep reading yaa..
Pengertian Poligami
Poligami secara etimologi atau asal katanya berasal dari bahasa Yunani, polus : artinya banyak dan gamos : artinya perkawinan. Jadi bila digabungkan, poligami adalah perkawinan yang banyak. Pengertian poligami menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang bersamaan. Secara sosiologis, poligami merupakan bentuk perkawinan jamak tunggal. Poligami dibedakan menjadi tiga jenis. Pertama, poligini ; merupakan perkawinan antara seorang laki-laki dengan wanita yang jumlahnya lebih dari satu orang dalam waktu bersamaan. Kedua, poliandri ; merupakan bentuk perkawinan antara seorang wanita dengan laki-laki yang jumlahnya lebih dari satu dalam waktu yang bersamaan. Poliandri banyak dilakukan oleh suku-suku bangsa yang ada di daerah Tibet. Ketiga, conogami ; merupakan perkawinan dari dua atau lebih laki-laki dengan dua atau lebih perempuan dalam perkawinan kelompok. Bentuk perkawinan ini dapat ditemukan pada kelompok di kepulauan Pasifik di Marqueses. Secara istilah seharusnya perkawinan yang dilakukan oleh satu laki-laki dengan lebih dari satu wanita disebut poligini, namun dalam kesehariannya masyarakat memakai istilah poligami mungkin karena praktek poliandri dan conogami jarang ditemukan di Indonesia.
Sejarah Poligami
Bila kita berbicara tentang poligami,maka kebanyakan dari kita berpikiran bahwa poligami adalah produk dari ajaran Islam.  Padahal poligami sudah hadir jauh sebelum kedatangan Islam. Poligami menjadi praktek social sejak masa kuno. Hampir seluruh bangsa di dunia mengenal praktek poligami. Poligami menjadi hal yang di benci oleh orang-orang yang ada di dunia barat. Orang-orang barat beranggapan bahwa poligami adalah suatu perbuatan yang tercela. Namun dalam prakteknya banyak tokoh-tokoh besar di barat seperti Hendrik II, Hendrik IV, Lodeewijk XV, Rechlieu, dan Napoleon I yang melakukan poligami, mereka melakukannya secara illegal. Orang-orang Hindu juga melakukan poligami, seperti raja-raja di Indonesia pada masa berkembangnya kerajaan hindu. Raja-raja tersebut selain memiliki seorang permaisuri biasanya juga memiliki beberapa selir. Di kalangan bangsa Israil, poligami telah berjalan sejak sebelum zaman nabi Musa a.s. yang kemudian menjadi adat kebiasaan yang dilanjutkan tanpa ada batasan istri.
Poligami Dalam Pandangan Islam
Setelah kedatangan Islam, poligami mulai diatur. Ada pembatasan dalam jumlah istri dan juga syarat-syarat yang harus dipenuhi bila seorang laki-laki ingin berpoligami.  Poligami yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, menjadi rujukan dalam Islam. Perlu kita ingat bahwa Nabi Muhammad selama hidupnya lebih lama melakukan monogami daripada poligami. Nabi Muhammad melakukan monogami selama 25 tahun. Beliau baru melakukan poligami saat istrinya Khadijah meninggal dunia.
Tujuan Nabi Muhammad melakukan poligami tentu bukan semata orientasi seksual. Bila kita membaca kisah istri-istri Nabi Muhammad, ada dua hikmah poligami yang dilakukan oleh beliau. Pertama, poligami yang dilakukan bertujuan untuk politik dan dakwah. Nabi Muhammad menikahi putri-putri ketua kabilah, agar kabilah tersebut menerima Islam dan semakin menguatkan posisi umat Islam di tanah Arab. Kedua, poligami yang dilakukan bertujuan untuk kemanusiaan. Nabi Muhammad menikahi janda-janda untuk bisa memelihara anak yatim.
Islam adalah agama yang sempurna, menjadi rahmatan lil alamin bagi semesta. Poligami yang sudah ada sebelum datangnya Islam tidak serta merta di hilangkan. Islam mengakomodasi adanya poligami, namun dengan aturan-aturan tertentu yang tujuannya untuk memuliakan kedudukan wanita. Sebelum kedatangan Islam, seorang laki-laki tidak memiliki batasan tentang berapa jumlah perempuan yang bisa dinikahi. Setelah datangnya Islam, jumlah wanita yang boleh dinikahi hanya sebatas empat orang bila lebih dari itu maka poligami tersebut menjadi haram. Hal ini didasarkan firman Allah Swt. berikut:
ﻓَﺎﻧْﻜِﺤُﻮﺍ ﻣَﺎ ﻃَﺎﺏَ ﻟَﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﻣَﺜْﻨَﻰ ﻭَﺛُﻼَﺙَ ﻭَﺭُﺑَﺎﻉَ ﻓَﺈِﻥْ ﺧِﻔْﺘُﻢْ ﺃَﻻَّ ﺗَﻌْﺪِﻟُﻮﺍ ﻓَﻮَﺍﺣِﺪَﺓً ﺃَﻭْ ﻣَﺎ
ﻣَﻠَﻜَﺖْ ﺃَﻳْﻤَﺎﻧُﻜُﻢْ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺩْﻧَﻰ ﺃَﻻَّ ﺗَﻌُﻮﻟُﻮﺍ
Artinya:
Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi masing- masing dua, tiga, atau empat—kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja—atau kawinilah budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat pada tindakan tidak berbuat aniaya. (QS an-Nisa’ [4]: 3).
Dalam Islam poligami dilakukan dengan syarat, yaitu harus berlaku adil. Surat An Nisa ayat 3, selain menjelaskan tentang batasan jumlah istri juga menjelaskan bahwa laki-laki yang berpoligami harus mampu berbuat adil. Kalau tidak bisa berbuat adil maka lebih baik monogami saja. Dengan demikian bisa kita ketahui bahwa tidak semua orang boleh melakukan poligami, karena hanya yang mampu berbuat adil sajalah yang boleh melakukan poligami.
Poligami Menurut Undang-Undang Perkawinan
Definisi perkawinan dalam Undang Undang No 1 tahun 1974 pasal 1 adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Berdasarkan definisi tersebut, jelaslah bila perkawinan di Indonesia berasaskan monogami. Penegasan tentang asas monogami ini dipertegas kembali dalam pasal 3 (1) UU Perkawinan yang mengatakan bahwa pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri. Di mana seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami. Ini berarti sebenarnya yang disarankan oleh undang-undang adalah perkawinan monogami.
Undang-Undang Perkawinan juga mengakomodasi perkawinan poligami, namun dengan beberapa syarat tertentu. Menurut Pasal 3 ayat 2 Undang-Undang Perkawinan, Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Dalam hal seorang suami akan beristeri lebih dari seorang, maka si suami wajib mengajukan permohonan kepada Pengadilan di daerah tempat tinggalnya (Pasal 4 ayat 1 Undang-Undang Perkawinan). Dalam Pasal 4 ayat 2 Undang-Undang Perkawinan dijelaskan lebih lanjut bahwa Pengadilan hanya akan memberikan izin kepada si suami untuk beristeri lebih dari satu jika:
a.    istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri;
b.    istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;
c.    istri tidak dapat melahirkan keturunan.
 Selain hal-hal di atas, si suami dalam mengajukan permohonan untuk beristeri lebih dari satu orang, harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut (Pasal 5 ayat 1 Undang-Undang Perkawinan):
a.    adanya persetujuan dari istri/istri-istri
b.    adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup istri-istri dan anak-anak mereka
c.    adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak mereka.
Persetujuan istri/istri-istrinya tidak diperlukan jika istri/istri-istrinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari istrinya selama sekurang-kurangnya dua tahun, atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian dari Hakim Pengadilan (Pasal 5 ayat 2 Undang - Undang Perkawinan).
Dengan demikian, seorang laki-laki tidak bisa serta-merta dapat melakukan poligami. Negara hanya mengakui poligami bila memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang. Hendaknya seorang lelaki berpikir panjang terlebih dahulu sebelum melakukan poligami. Jika istri sakit, bukankah lebih baik dirawat daripada harus di poligami. Bayangkan bila yang terjadi sebaliknya, jika suami yang sakit apa bisa istri poligami? Jawabannya tentu tidak bisa. Maka sungguh egois bila suami memilih menikah lagi ketika istrinya sakit. Tindakan tersebut tidak mencerminkan kemanusiaan. Soal istri mandul, lalu suami menikah lagi. Bagaimana jika yang mandul suaminya? Terlebih lagi punya atau tidaknya keturunan itu telah ditetapkan oleh sang Pencipta. Anak itu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawabanya nanti. Kalau memang tidak dikarunia keturunan, bisa jadi karena kita dianggap belum mampu mengemban amanah tersebut.
 Antara Syahwat dan Sunnah
Kembali ke status facebook yang telah kita bahas diatas, kalau kita cermati ada dua argumen empunya status bahwa poligami adalah suatu keharusan. Argumen tersebut adalah bahwa poligami adalah sunnah rasul dan jumlah perempuan yang lebih banyak daripada laki-laki. Poligami adalah sunnah rasul, adalah senjata pamungkas bagi laki-laki untuk memperoleh ijin menikah lagi dari istrinya. Surat An Nisa ayat 3 dijadikan sandaran untuk memperkuat dalil bahwa poligami adalah sunnah. Padahal dalam surat An Nisa ayat 129 dijelaskan bahwa sekali-kali laki-laki tidak bisa berbuat adil kepada semua istrinya. Poligami yang dimaksud dalam surat An Nisa ayat 3 ini sebenanya bukan sebagai motivasi laki-laki untuk melakukan poligami. Poligami yang dimaksudkan dalam surat tersebut adalah untuk melindungi anak-anak yatim dan janda-janda korban perang. Lalu apakah poligami yang terjadi saat ini sesuai dengan tuntunan surat An Nisa? Kebanyakan pelaku poligami menikahi perempuan yang masih perawan ataupun jika janda,yang di pilih adalah janda-janda muda. Indikator pemilihan istri kedua terlihat jelas hanya dari sisi fisik semata.
Sunnah secara fikih di artikan sebagai tindakan yang baik untuk dilakukan, mengacu pada perilaku Nabi. Poligami yang dilakukan Nabi menjadi ssesuatu yang distorsif. Jika memang sunnah kenapa tidak dilakukan oleh Nabi sejak pertama kali. Sepanjang hidupnya Nabi lebih lama melakukan monogamy dibandingkan poligami. Nabi baru melakukan poligami setelah dua tahun meninggalnya Siti Khadijah. Istri kedua Nabi bernama Saudah binti Zam’ah adalah seorang wanita Quraisy dari Bani ‘Amir. Saat dinikahi oleh Nabi, umurnya 69 tahun dengan status janda beranak lima. Jika benar laki-laki berpoligami untuk mengikuti sunnah rasul, maka carilah perempuan yang berusia lanjut dan memiliki anak banyak. Bukankah perempuan yang seperti itu yang pantas untuk di tolong, karena dia tidak mampu menghidupi dirinya dan anak-anaknya.
Laki-laki yang melakukan poligami dengan alasan mengikuti sunnah rasul,apakah sudah melakukan amalan-amalan sunnah lainnya? Seperti menjahit bajunya sendiri, membersihkan terompahnya sendiri, menyapu kamarnya sendiri dan beberapa pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan oleh Nabi. Sunnah kok milih yang enak-enak saja, kan konyol itu. Jika sunnah yang sederhana saja belum diikuti buat apa melakukan sunnah yang syaratnya berat?
Argumentasi  kedua yang dijadikan pembenar untuk melakukan poligami adalah bahwa jumlah perempuan lebih banyak daripada jumlah laki-laki, bahkan katanya perbandingannya 1:7. Saya bingung, dapat darimana data perbandingan 1:7 itu. Berikut akan saya sajikan data bjumlah penduduk Indonesia berdasarkan jenis kelamin dan usi menurut sensus BPS tahun 2010.












Tabel : Jumlah Penduduk Indonesia Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin
USIA

LAKI-LAKI
PEREMPUAN
LAKI-LAKI + PEREMPUAN
0-4
11 662 369
11 016 333
22 678 702
5-9
11 974 094
11 279 386
23 253 480
10-14
11 662 417
11 008 664
22 671 081
15-19
10 614 306
10 266 428
20 880 734
20-24
9 887 713
10 003 920
19 891 633
25-29
10 631 311
10 679 132
21 310 443
30-34
9 949 357
9 881 328
19 830 685
35-39
9 337 517
9 167 614
18 505 131
40-44
8 322 712
8 202 140
16 524 852
45-49
7 032 740
7 008 242
14 040 982
50-54
5 865 997
5 695 324
11 561 321
55-59
4 400 316
4 048 254
8 448 570
60-64
2 927 191
3 131 570
6 058 761
65-69
2 225 133
2 468 898
4 694 031
70-74
1 531 459
1 924 872
3 456 331
75-79
842 344
1 135 561
1 977 905
80-84
481 462
661 708
1 143 170
85-89
182 432
255 529
437 961
90-94
63 948
106 951
170 899
95+
36 095
68 559
104 654
Jumlah
119 630 913
118 010 413
237 641 326
Sumber : BPS, sensus penduduk 2010

Berdasarkan tabel diatas, maka dapat kita lihat secara jelas bahwa anggapan bahwa jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki adalah salah. Dari usia produktif yaitu antara 15-44 tahun jika di total, jumlah laki-laki lebih banyak daripada jumlah perempuan. Jumlah laki-laki usia 15- 44 tahun adalah 58.742.916 jiwa, sedangkan jumlah perempuan usia 15–44 tahun adalah 58.200.562 jiwa. Jika menjadikan perbandingan jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki, maka argumentasi keharusan untuk berpoligami sudah terpatahkan. Faktanya jumlah laki-laki lebih banyak dari perempuan.
Lantas bagaimanakah kita seharusnya bersikap terhadap poligami? Apakah kita harus mengharamkannya? Apakah kita harus menolaknya? Saya akan memberikan gambaran bagaimana kita menyikapi persoalan poligami ini, baik untuk laki-laki maupun untuk perempuan. Pertama yang akan saya bahas adalah dari sisi laki-laki. Pada dasarnya poligami diperbolehkan dalam islam, namun juga harus disadari bahwa syaratnya juga harus anda patuhi. Jika anda belum bisa berbuat adil baik secara materi maupun kasih sayang, poligami yang anda lakukan jatuhnya bukan bersifat ibadah, melainkan menambah dosa. Sikap yang terlalu condong terhadap salah satu istri bisa menjurus pada tindakan penelantaran. Melakukan penelantaran baik secara ekonomi maupun psikologis berarti termasuk melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Secara hukum anda akan dihukum, karena melanggar Undang - Undang No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Secara agama, jelas anda berdosa. Al Qur’an dalam surat An Nisa ayat 19 :
“Hai orang-orang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi wanita dengan cara paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut.  Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
Menurut Tafsir Al-Manar menerangkan makna  ”muasyarah bil ma’ruf” dalam Surat An Nisa ayat 19 adalah, “Wajib atas orang beriman berbuat baik terhadap istri mereka, menggauli dengan cara yang baik, memberi mahar dan tidak menyakiti baik ucapan maupun perbuatan, dan tidak bermuka masam dalam setiap perjumpaan, karena semua itu bertentangan dalam pergaulan yang baik dalam keluarga.” Di antara bentuk perlakuan yang baik adalah melapangkan nafkah, meminta pendapat dalam urusan rumah tangga, menutup aib istri, menjaga penampilan, dan membantu tugas-tugas istri di rumah. Maka jika poligami membuat anda menelantarkan istri, maka NERAKA lah balasannya.
Bila anda berlindung di balik kalimat “poligami adalah sunnah” maka bercerminlah terlebih dahulu. Apakah semua amalan wajib sebagai seorang suami sudah anda lakukan semuanya dengan baik apa tidak. Apakah anda juga sudah melakukan sunnah-sunnah nabi yang lain seperti memelihara jenggot dan membantu melakukan pekerjaan rumah tangga. Jika melakukan sunnah,jangan pilih-pilih.
Poligami yang tidak bisa memenuhi prinsip keadilan akan membawa banyak mudharatnya. Poligami yang tidak semakin memperlakukan istri secara baik, sama dengan melanggar sunnah nabi. Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (Tirmidzi)
Sekarang bagaimana perempuan harus bersikap tentang poligami. Sebagai wanita muslimah, anda harus mengimani bahwa poligami itu diperbolehkan dalam islam. Kita tidak berhak mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah. Kita tidak boleh membenci poligami, membenci poligami berarti membenci ayat Allah.
Jika anda tidak setuju bila suami anda berpoligami anda tidak perlu merasa berdosa, tidak perlu merasa melawan ajaran agama. Anda berhak menolak jika suami anda berpoligami. Saya rasa seorang istri berhak mencegah suaminya untuk berpoligami jika poligami yang dilakukan lebih banyak mudharatnya. Dalam islam tujuan sebuah perkawinan termasuk perkawinan poligami adalah membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warohmah (SAMAWA). Jika rumah tangga poligami lebih banyak mendatangkan masalah, lebih banyak menyakiti maka bukanlah SAMAWA yang di dapatkan.
Menurut ajaran Islam, seorang istri yang rela di poligami akan mendapatkan balasan surga. Namun perlu diingat bahwa poligami membuka salah satu pintu surga, artinya masih banyak pintu surge yang lain. Anda yang tidak setuju untuk dipoligami tidak perlu khawatir untuk tidak bisa mendapatkan surga. Masih banyak jalan lain menuju surga. Allah itu Maha Pengasih, tidak mungkin tidak ada jalan lain menuju surga selain rela di poligami.
Sekarang bagi perempuan-perempuan yang belum memiliki jodoh, introspeksilah apa penyebabnya hingga Allah belum memberikan jodoh untuk anda. Perbaiki diri terlebih dahulu, sehingga nanti akan diberi jodoh yang baik. Dekatkan diri kepada yang Maha Cinta, maka cinta Nya akan anda dapatkan. Tak perlu merendahkan diri, mengobral diri untuk memikat suami orang lain. Berpuasalah bila memang belum ditakdirkan untuk menikah. Ingatlah bahwa jodoh, maut dan rezeki itu sudah ditetapkan oleh Allah. Ingatlah bahwa Allah menciptakan manusia secara berpasang-pasangan, jadi tidak perlu semangat mengambil pasangan orang lain.
Penutup
Tulisan saya ini adalah cerminan sikap saya terhadap poligami. Saya tidak membenci ataupun mengharamkan poligami. Ingat tidak setuju suami berpoligami bukan berarti membenci poligami. Sebagai seorang perempuan dan seorang istri saya punya hak untuk menolak jika suami saya melakukan poligami
Bagi para suami agama secara utuh, jangan setengah-setengah. Janganlah gegabah melakukan poligami bila tidak tau ilmunya. Janganlah latah jika melihat laki-laki lain melakukan poligami. Juga jangan iri bila ada laki-laki yang berbahagia dengan poligaminya. Jika ingin mendapatkan pahala dan menuruti sunnah, jadilah suami yang baik. Lakukan kewajiban-kewajiban sebagai seorang suami dengan baik. Kerjakan tugas rumah secara bersama-sama dengan istri, maka anda juga telah mengikuti sunnah nabi.
Bagi para istri, tidak perlu mengharamkan poligami, sebab poligami itu halal. Tidak perlu takut berdosa jika anda tidak mengijinkan suami anda untuk berpoligami. Anda juga tidak perlu sewot jika melihat laki-laki lain berpoligami, toh itu bukan suami anda. Jangan takut tidak mendapat surge jika anda menolak di poligami, ingat Allah Maha Penyayang.
Pada dasarnya sebuah pernikahan adalah jalan untuk beribadah kepada Allah. Sebuah pernikahan bertujuan untuk memberikan kebahagian kepada masing-masing pihak yang ada dalam pernikahan tersebut. Mau monogami ataupun poligami dasarnya adalah ajaran agama. Jika ingin pernikahan bahagia baik itu monogami ataupun poligami harus mengerti ilmunya. Jadi poligami itu menjadi sunnah atau hanya syahwat semata, semuanya kembali kepada diri kita masing-masing. Siapa yang menanam, dia yang akan memetik hasilnya.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar