Sabtu, 01 Agustus 2015

SUKSES MENYUSUI BAGI IBU BEKERJA *

Setiap tahunnya pada pekaan pertama di bulan Agustus yakni mulai tanggal 1 – 7 Agustus diperingati sebagai Pekan ASI Sedunia. Sejarah mencatat, pada tahun 1990 di Florence Italia berlangsung Deklarasi  Innocenti yang mengamanatkan pentingnya mengkampanyekan pentingnya Air Susu Ibu (ASI) sebagai bagian dari upaya “perlindungan, promosi dan dukungan menyusui”. WHO dan UNICEF pada bulan Agustus tahun 1990, menetapkan pekan asi sedunia  untuk melindungi, mengampanyekan, dan mendukung pemberian ASI bagi bayi. Pada tahun 2002 WHO dan UNICEF mencanangkan strategi  Global Peningkatan Pemberian Makan Bayi dan Anak pada tahun 2002 yang meliputi :
  • Inisiasi Menyusu Dini (IMD) segera setelah lahir dalam satu jam pertama, dilanjutkan dengan rawat gabung
  • Memberikan hanya air susu ibu saja sejak lahir sampai bayi berumur 6 bulan
  • Memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) mulai umur 6 bulan
  • Menyusui dilanjutkan sampai anak berumur 24 bulan atau lebih.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2013 menunjukkan cakupan ASI di Indonesia hanya 42 persen. Angka ini jelas berada di bawah target WHO yang mewajibkan cakupan ASI hingga 50 persen.  Dengan angka kelahiran di Indonesia mencapai 4,7 juta per tahun, maka bayi yang memperoleh ASI, selama enam bulan hingga dua tahun, tidak mencapai dua juta jiwa. Tahun ini Pekan ASI Sedunia mengambil tema “Menyusui dan Bekerja, Mari Kita Sukseskan “. Ibu bekerja menjadi perhatian yang utama dalam perayaan tahun ini. Mengapa ibu bekerja? Menurut Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan RI, Dedy Izwardi, rendahnya cakupan ASI dipengaruhi fasilitas yang ada di lingkungan kerja para ibu. Ibu bekerja menjadi lebih terhambat untuk memberikan ASI kepada bayinya.
Kemudian apa yang harus dilakukan oleh ibu bekerja ? Apakah mereka harus menyerah pada keadaan? Jawabannya tentu tidak. Tulisan ini selanjutnya akan membahas tentang kunci sukses menyusui bagi ibu bekerja. Ada tiga hal yang harus dimiliki oleh Ibu Bekerja untuk dapat sukses menyusui bayinya.
Niat Yang Kuat
Langkah pertama yang harus dimiliki oleh ibu bekerja untuk tetap bisa sukses menyusui adalah memiliki niat yang kuat. Saat mengetahui kehamilannya, seorang ibu bekerja harus sudah memiliki niat bahwa kelak ketika bayinya lahir, ia akan memberikan ASI. Setiap hari selama masa kehamilannya, seorang ibu bekerja harus meyakinkan dirinya dan mewujudkan niatnya bahwa kelak ia akan memberikan ASI. Dia akan terus bertekad agar niatnya bisa terlaksana. Niat tersebut terus dipupuk dengan meyakini bahwa ASI adalah hal yang terbaik untuk bayi. “Air Susu Ibu adalah hadiah yang sangat berharga yang dapat diberikan pada bayi.. Dalam keadaan miskin mungkin hadiah satu-satunya.. Dalam keadaan sakit mungkin merupakan hadiah yang menyelamatkan jiwanya.”
Informasi Holistik
Langkah kedua yang harus dimiliki oleh ibu bekerja agar sukses menyusui adalah informasi. Selama masa kehamilan hendaknya ibu bekerja mulai membekali dirinya dengan segala informasi yang berkaitan dengan ASI. Cari segala informasi tentang ASI mulai dari apa yang pertama kali dilakukan saat bayi lahir, bagaimana melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini), posisi pelekatan yang benar, segala fakta dan mitos tentang menyusui, dan lain sebagainya.
Selain itu ada dua informasi utama yang harus diketahui ibu bekerja untuk sukses menyusui. Pertama, adalah segala informasi yang berkaitan dengan ASIP (Air Susu Ibu Perahan). Selama bekerja tentu ibu tidak bisa menyusui bayinya secara langsung, oleh karena itu ASIP menjadi solusinya. Bekali diri tentang bagaiman cara memerah ASI, bagaimana manajemen penyimpanan ASI, apa media yang tepat untuk memberikan ASIP dan apa saja peralatan tempur dalam menyiapkan ASIP. Pengetahuan seputar ASIP yang telah dimiliki sebelum melahirkan akan mempermudah ibu bekerja untuk tetap bisa menyediakan ASI walaupun telah bekerja kembali. Ibu bekerja akan menggunakan masa cutinya secara maksimal untuk nyetok ASI.
Kedua, informasi kedua yang tak kalah penting adalah ibu bekerja sadar bahwa hak nya untuk menyusui dilindungi secara hukum. Ibu bekerja tetap bisa menjalankan haknya untuk menyusui, hal ini dijamin oleh Undang-Undang No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan pasal 83: “ Pekerja atau Buruh Perempuan yang anaknya masih menyusui harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu bekerja.” Aturan hukum ini menjamin ibu bekerja untuk bisa melakukan pumping agar bisa mengumpulkan ASIP bagi bayinya.
Tempat kerja wajib mendukung ibu bekerja dalam memenuhi hak menyusui, dengan cara menyediakan fasilitas khusus ibu menyusui. Sebagaimana yang tercamtum dalam pasal 128 Undang-Undang No 36 Tentang Kesehatan ; “Selama pemberian ASI, keluarga, pemerintah dan masyarakat harus mendukung penuh penyediaan waktu dan fasilitas khusus di tempat kerja dan sarana umum. Perusahaan wajib memberikan waktu dan tempat bagi karyawannya yang sedang menyusui. Biasanya ibu menyusui membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam untuk memompa ASI. Pada umumnya di beberapa perusahaan masih banyak yang belum dilengkapi ruang laktasi. Sehingga seringkali ibu bekerja memompa ASI nya di toilet atau bahkan di gudang. Sungguh berjuangan yang luar biasa.
Dengan memiliki semua informasi tersebut, ibu bekerja akan mudah melakukan hak menyusui bayinya. Ia akan dengan mudah menangkis informasi-informasi yang cenderung negatif tentang ASI. Ia akan tetap gigih memperjuangkan haknya untuk menyusui. Bila lingkungan kerjanya mempersulit pemberian ASI, ia akan tetap berjuang. Undang-Undang Kesehatan Tahun 2009 dalam pasal 200 menyebutkan bahwa setiap orang yang menghalangi pemberian ASI bisa dipenjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda maksimal Rp. 100.000.000. Sanksi bagi perusahaan yang menghalangi karyawannya untuk memberikan ASI adalah pencabutan izin usaha, dan / atau pencabutan status badan hukum, hal ini sesuai dengan pasal 201 Undang-Undang Kesehatan.
Dukungan Orang Sekitar
Dukungan dari orang-orang sekitar juga menjadi penentu kesuksesan bagi ibu bekerja untuk sukses menyusui. Suami, orangtua, rekan kerja ataupun semua pihak yang ada disekitarnya wajib memberikan dukungan. Bagi ibu bekerja pihak yang paling perlu untuk mendukung adalah orang yang membantu pengasuhan bayinya ketika ditinggal bekerja. Tentuanya saat bekerja, ibu tidak bisa mengasuh anaknya sendiri, tugas tersebut dilimpahkan kepada pihak lain. Biasanya pihak lain tersebut adalah orangtua, mertua, pengasuh bayi ataupun day care(tempat penitipan anak). Siapapaun yang membantu tugas pengasuhan bayinya harus memiliki niat dan informasi yang sama tentang pemberian ASI. Misalnya tentang bagaimana menyajikan ASIP dan media apa yang dipakai dalam memberikan ASIP. Dengan demikian saat bekerja ibu tetap tenang dan focus. Tak perlu khawatir apakah bayinya akan memperoleh ASI atau tidak.
Demikian kunci sukses yang harus dimiliki oelh ibu bekerja untuk tetap sukses menyusui. niat, informasi dan dukungan harus dimiliki oleh ibu bekerja agar dia tetap bisa menyusui bayinya. Menyusui dan Bekerja, Mari Kita Sukseskan. Ayo semangat ngASI karena ASI for better generation. Selamat memperingati Pekan ASI Se-Dunia untuk seluruh ibu (menyusui).
*Dimuat dalama Cakrawarta.com, pada 1 Agustus 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar