Kamis, 21 Januari 2016

Anakku Harapanku



“Niatmu Kekuatanmu”, tulisan pertama dalam buku 5 Guru Kecilku Bagian 1 karangan Teh Kiki Barkiah langsung menohok di hati saya. Saya benar-benar merasa ditampar. Sungguh tulisan tersebut menyadarkan saya tentang pandangan saya terhadap anak. Selama ini saya menjadi perempuan yang terkadang  lupa mensyukuri karunia Allah berupa keturunan. Maklum karunia tersebut hadir di waktu yang menurut saya kurang tepat. Di luar perencanaan saya, jadi kesannya karunia tersebut “mengganggu” rencana-rencana lain saya.
Saya menikah pada tanggal 26 Februari 2012, setelah menikah saya dan suami harus terpisah jarak Surabaya dan Jakarta. Kami bersepakat menjalain LDR (Long Distance Relationship) sampai kontrak perjanjian kerja saya selesai. Selama menjalani LDR kami berdua bersepakat untuk menunda mempunyai momongan. Saya nggak sanggup bisa menjalani kehamilan jika harus berjauhan dengan suami. Begitu pula suami, dia tidak tega jika saya harus hamil saat sendirian merantau di Jakarta.
Juli 2012 saya kembali ke Surabaya berkumpul bersama suami, setelah terpisah jarak selama 4 bulan. Soal momongan saya berharap bisa memilikinya di tahun pertama setelah pernikahan kami. Saya masih ingin mendapatkan pekerjaan yang tepat saat kembali ke Surabaya. Namun apa daya sepertinya rencana itu harus tertunda. Sebulan setelah hidup bersama, ternyata saya positif hamil.
Jujur saya shock saat dokter kandungan membenarkan hasil testpack saya. Ternyata saya benar-benar hamil. Padahal saya belum mendapatkan pekerjaan yang tepat. Padahal kami masih belum punya rumah sendiri, masih harus menumpang di rumah orangtua.
Tapi suami meyakinkan saya, bahwa rencana Allah itu jauh lebih indah. Suami meyakinkan bahwa setiap anak pasti ada rejekinya masing-masing. Saya tak perlu risau soal pekerjaan, sebab masalah nafkah adalah tanggungjawabnya.
Maka sejak itu saya lebih banyak menghabiskan waktu dirumah, menjadi ibu rumah tangga. Namun di sore hari saya kembali mengajar di bimbingan belajar. Saya yang awalnya sedikit kurang mensyukuri kandungan saya, lambat laun mulai menerimanya dan menjalani hari-hari saya sebagai seorang ibu.
Setelah membaca tulisan Teh Kiki, pandangan saya terhadap anak pun berubah. Dulu saya sempat menganggap anak sebagai penghambat karir saya. Sekarang saya menyadari bahwa anak adalah prioritas dalam hidup saya. Mendidik anak menjadi manusia yang berguna bagi agama dan negaranya merupakan cita-cita saya saat ini, tujuan karir yang hendak saya capai.
Setiap hari saya akan berusaha memperbaiki niat saya. Sebab saya percaya setiap kali kita berusaha memperbaiki niat saya, Allah akan memperbaiki keadaan hidup saya. Ketika saya mulai lelah dan sedikit frustasi dalam menjalani peran saya sebagai seorang ibu, saya akan mengingat kembali niat saya. Seperti yang Teh kiki katakan, “Niatmu Kekuatanmu”.

Saya boleh gagal dalam menggapai karir impian saya. Namun saya tidak boleh gagal mengasuh dan mendidik anak saya. Saya ingin anak saya lebih baik dari saya. Berguna bagi agama dan negaranya. Anakku harapanku. **


** Alhamdulillah tulisan ini dipilih sebagai salah satu pemenang oleh Teh Kiki, sehingga bisa muncul di buku 5 Guru Kecilku Bagian 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar