Minggu, 20 Maret 2016

Sukses ASI dengan Dukungan Keluarga
Sembilan bulan berjuang dalam mempertahankan kandungan. Kemudian bertaruh nyawa saat proses melahirkan. Maka perjuangan selanjutnya bagi seorang ibu adalah pemberian ASI. Dari awal kehamilan saya bertekad untuk memberikan ASI bagi buah hati saya. Maka sejak hamil saya banyak follow twitter yang membahas soal asi, join beberapa grup facebook yang bahas soal ASI. Satu hal yang paling saya syukuri sebagai manusia abad ini adalah adanya internet. Internet jadi sumber informasi utama dan pertama dalam memperkaya pengetahuan saya akan ASI.
Alhamdulillah ASI saya keluar di hari pertama. Saat si kecil pertama kali menyusu pada payudara saya, saya merasa begitu bahagia. Saya merasakan nikmatnya jadi ibu, terimakasih Allah. Selama sehari semalan si kecil menyusu pada saya, ASI saya lancar. Keesokan harinya saat pulang ke rumah, nggak tau kenapa si kecil rewel terus. Padahal sudah saya susui, dari sore sampai ba'dah maghrib tangisannya tak mau berhenti. Usut punya usut ternyata saat di cek payudara saya tidak keluar ASI, ternyata dia haus. Sontak saya menangis, menyesal nggak sesnsitif akan tangisannya. Akhirnya suami segera pergi ke swalayan terdekat untuk beli sufor dan botol susu.
Detik-detik melihat 30ml sufor masuk ke mulut Chacha membuat saya merasa berdosa.. Seperti melihat anak saya diracun di depan mata. Mungkin bagi sebagian orang ini terlalu berlebihan, tapi bagi saya itu tidak berlebihan, itu kenyataannya. Maklum saya sudah khatam tentang kandungan sufor, tentang baiknya ASI daripada sufor. Jadi saya paham apa yang terkandung dalam sufor lengkap dengan dampak-dampak yang ditimbulkan. Semalaman saya nangis, mengutuki diri sendiri. Tapi suami terus menguatkan, katanya saya nggak boleh putus asa. Mungkin besok ASI saya da keluar. Dukungan dari suami membuat saya bangkit.
Keesokan harinya saya lakukan beberapa cara agar ASI saya keluar. Pertama-tama yang saya lakukan adalah memotivasi diri sendiri, terus berpikir positif bahwa ASI saya akan keluar. Suami pun sudah membelikan saya suplemen pelancar ASi. Dan ibu mertua saya pun turut andil, beliau memasak lalapan daun ketela. Ya karena daun katuk sulit di dapat, daun ketela pun bisa jadi asupan untuk memperbanyak produksi ASI. Selain itu, mertua juga menyediakan jamu gepyok an, konon jamu itu bisa menyegarkan ASI. Saya terharu dan sekaligus bersyukur, karena orang-orang disekitar sangat mendukuh saya untuk memberikan ASI pada bayi saya.
Alhamdulillah, segala usaha dan doa kami di ijabah sama Allah. Siangnya ASI saya keluar, melimpah ruah. Anak saya tidak menolak payudara saya. Dia lahap menyusu pada saya. Dan saat sore saya coba kasih sufor, dia menolak. Maka sejak saat itu saya bertekad untuk selalu berusaha agar bisa terus-menerus memberikan ASI kepada Chacha. Saya rutin minum suplemen pelancar ASI. Banyak makan kacang-kacangan.. Melahap sayur-sayuran yang bisa mempelancar ASI (walaupun rasanya nggak enak,,he..he). Dan yang paling penting terus berpikiran positif serta selalu gembira dalam menjalani peran saya sebagai ibu.
Saya seorang ibu bekerja, maka perjuangan selanjutnya ketika memasuki  habisnya masa cuti adalah menyiapkan ASIP (Air Susu Ibu Perahan). Perlengkapan ASIP pun sudah saya miliki; pompa ASI, botol penyimpanan ASIP, cooler bag. Memompa ASIP ternyata lebih sulit daripada menyusukan kepada bayi secara langsung. Pertama pumping, payudara rasanya sakit semua, dan hasilnya Cuma sedikit. Satu kali mompa yang menghabiskan waktu 30 menit hanya menghasilnya ASIP 10ml. Seperti biasanya, saya langsung nangis, frustasi melihat hasil perahan saya. Tapi selalu ada suami saya yang menyemangati, dia selalu memberikan dukungannya. Akhirnya saya mulai mencari informasi tentang bagaimana sukses memerah ASI.
Saya menemukan rahasianya, pertama soal waktu perahan.  Setelah beberapa kali mencoba memerah, ternyata hasil perahan saya lebih optimal adalah saat dini hari. Sekitar jam 02.00-04.00, maka saya pun memompa pada jam-jam tersebut. Kedua, biasanya memompa juga lancar ketika salah sau payudara sedang disusukan secara langsung. Biasanya saya juga memakai cara ini. Ini akan lebih mudah ketika menggunakan pompa elektrik. Namun karena pompa saya manual, maka saat satu payudara saya disuse, yang sebelahnya di pompakan oleh suami saya. Saya sangat bersyukur, memiliki suami yang juga pro ASI. Suami yang selalu menyemangati untuk tetap kasih ASI. Suami yang membantu memompa ASI. Bahkan setelah ASI dipompa,suami yang menyimpan di botol-botol ASIP, dia juga yang member label tanggal pada botol.
Selain suami, orang yang juga berperan mendukung saya dalam memberikan ASI adalah mama. Ibu saya adalah orang yang akan mengasuh Chacha jika saya pergi bekerja. Maka sejak masa kehamilan, saya selalu mengajak mama untuk mencari informasi soal ASI. Mama awalnya berpikiran bahwa sufor tidak apa-apa, hanya untuk saat saya bekerja. Dulu mama seorang guru, jadi saya dan ketiga adik saya minum sufor jika ditinggal bekerja. Alhamdulillah selama masa kehamilan, mama sudah mau menerima pandangan bahwa hanya ASI yang terbaik bagi bayi. Bahwa ibu bekerja tetap bisa memberikan ASI. Maka saat anak saya lahir, saya dan mama sudah sepaham, bahwa kami akan bersama-sama berusaha memberikan ASI. Mama belajar cara menyajikan ASIP, mulai dari proses keluar dari freezer sampai harus menghangatkannya. Kemudian bagaimana memberikan ASIP ke bayi. Alhamdulillah mama telate n melakukannya. Mama yang awalnya tidak tau bahwa ASI bisa di perah dan di simpan, sekarang mahir memberikan ASIP kepada Chacha melalui sendok.
Hari berganti dengan cepatnya, Chacha tumbuh sehat dengan ASI. Dia lulus S1 hingga S3, bahkan saya masih memberikan ASI kepadanya walaupun usianya sekarang sudah 28 bulan dan saat ini saya juga sedang hamil 3 bulan. Saya bangga, akhirnya saya bisa memberikan hak Chacha atas ASI secara paripurna. Kesuksesan saya juga karena dukungan semua pihak. Suami, mama dan ibu mertua. Perjuangan ASI itu tidaklah mudah, banyak pihak yang turut andil dalam mensukseskannya.

Ada 3 kunci sukses yang saya miliki sehingga saya bisa memberikan ASI sampai usia dua tahun bahkan lebih. Pertama, sejak kehamilan pastikan banyak menggali informasi soal ASI. Kedua, pilih fasilitas kesehatan yang pro ASI. Ketiga, edukasi keluarga tentang ASI sehingga mereka nantinya bisa menjadi pendukung kita dalam proses menyusui. Pengalaman menyusui saya memang tidak mudah, tapi saya berhasil melaluinya. Semangat ngASI because ASI for better generasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar