Jumat, 22 April 2016

Ibu Menyusui, Perjuangan Kartini Masa Kini

setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Penetapan 21 April sebagai Hari Kartini dimulai sejak tahun 1964. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia no. 108 tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Kartini dikenal sebagai pahlawan bagi perempuan, ia juga merupakan inspirasi bagi perempuan Indonesia. Ia memperjuangkan agar perempuan memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan.
Bila dulu perempuan harus berjuang untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan, perempuan sekarang memiliki perjuangannya sendiri. Perjuangan perempuan masa kini adalah menjadi mama perah.  Mama Perah adalah istilah untuk para ibu-ibu menyusui yang juga bekerja tapi  tetap ingin memberikan ASI (Air Susu Ibu) secara penuh kepada bayinya.

Ibu menyusui anak itu tidak mudah, ada beberapa faktor penghambat, yaitu:
1. Tidak adanya ruang laktasi di tempat kerja. Sebagai ibu yang menyusui, keberadaan ruang laktasi di tempat kerja adalah sesuatu yang mutlak diperlukan. Ibu menyusui membutuhkan ruang laktasi untuk bisa memerah ASI nya. Sayangnya tidak semua tempat kerja memiliki ruang laktasi. Padahal keberadaan ruang laktasi di tempat kerja sudah dijamin oleh Undang-Undang. Sebagaimana yang tercantum dalam pasal 128 Undang-Undang No 36 Tentang Kesehatan ; “Selama pemberian ASI, keluarga, pemerintah dan masyarakat harus mendukung penuh penyediaan waktu dan fasilitas khusus di tempat kerja dan sarana umum. Perusahaan wajib memberikan waktu dan tempat bagi karyawannya yang sedang menyusui. Biasanya ibu menyusui membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam untuk memerah ASI. Tidak adanya ruang laktasi ditempat kerja membuat mama perah seringkali harus memerah ASI nya di tempat-tempat yang tidak sesuai dengan standar yang ditentukan. Mereka terpaksa harus memerah ASI di mushola, gudang, toilet bahkan di bawah kolong meja.
2. Tidak adanya kesempatan atau waktu bagi ibu menyusui untuk bisa memerah ASI. Masih banyak tempat kerja yang membatasi bahkan tidak memberikan waktu bagi pekerjanya yang menyusui. Perusahaan menganggap bahwa kegiatan memerah ASI dapat menghambat produktivitas pekerja. Padahal jika perusahaan memberikan waktu kepada pekerjanya untuk memerah ASI, maka akan meningkatkan produktivitas pekerja.
Mengapa demikian? kesempatan kepada  para ibu untuk menyusui bayi-bayi mereka pada periode awal kehidupan bayi-bayi tersebut akan membawa dampak pada para bayi yang lebih sehat dan bahagia, yang kemudian  akan berdampak pada penurunan tingkat absensi yang  di kalangan kaum ibu bekerja yang disebabkan oleh keperluan untuk merawat bayi-bayi mereka yang sakit, dan tingkat kekhawatiran yang lebih rendah dari kaum ibu yang bekerja, dan menjadi lebih produktif.
Dua faktor penghambat tersebut pada akhirnya membuat ibu menyusui gagal dalam memberikan ASI Eksklusif pada bayinya. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa kegagalan pemberian ASI Eksklusif  pada ibu yang bekerja lebih tinggi daripada ibu yang tidak bekerja. Lantas apa yang seharusnya dilakukan oleh ibu menyusui? apakah ibu menyusui harus menyerah pada keadaan? jawabannya tentu tidak. Ada tiga hal yang harus dimiliki oleh Ibu Bekerja untuk dapat sukses menyusui bayinya.
1. Langkah pertama yang harus dimiliki oleh ibu bekerja untuk tetap bisa sukses menyusui adalah memiliki niat yang kuat. Saat mengetahui kehamilannya, seorang ibu bekerja harus sudah memiliki niat bahwa kelak ketika bayinya lahir, ia akan memberikan ASI.
2. Langkah kedua yang harus dimiliki oleh ibu bekerja agar sukses menyusui adalah informasi. Selama masa kehamilan hendaknya ibu bekerja mulai membekali dirinya dengan segala informasi yang berkaitan dengan ASI. 
Ada dua informasi utama yang harus diketahui ibu bekerja untuk sukses menyusui, yaitu:
a. Segala informasi yang berkaitan dengan ASIP (Air Susu Ibu Perahan). Selama bekerja tentu ibu tidak bisa menyusui bayinya secara langsung, oleh karena itu ASIP menjadi solusinya. Bekali diri tentang bagaiman cara memerah ASI, bagaimana manajemen penyimpanan ASI, apa media yang tepat untuk memberikan ASIP dan apa saja peralatan tempur dalam menyiapkan ASIP.
b. Informasi kedua yang tak kalah penting adalah ibu bekerja sadar bahwa hak nya untuk menyusui dilindungi secara hukum. Ibu bekerja tetap bisa menjalankan haknya untuk menyusui, hal ini dijamin oleh Undang-Undang No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan pasal 83: “ Pekerja atau Buruh Perempuan yang anaknya masih menyusui harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu bekerja.” Aturan hukum ini menjamin ibu bekerja untuk bisa memerah ASI.
3. Langkah ketiga adalah adanya dukungan dari orang-orang sekitar. Bagi ibu bekerja pihak yang paling perlu untuk mendukung adalah orang yang membantu pengasuhan bayinya ketika ditinggal bekerja. Siapapun yang membantu tugas pengasuhan bayinya harus memiliki niat dan informasi yang sama tentang pemberian ASI. Misalnya tentang bagaimana menyajikan ASIP dan media apa yang dipakai dalam memberikan ASIP. Dengan demikian saat bekerja ibu tetap tenang dan fokus. Tak perlu khawatir apakah bayinya akan memperoleh ASI atau tidak
Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa menjadi ibu menyusui adalah hal yang tidak mudah. Butuh kesabaran dan perjuangan yang luar biasa. Ibu menyusui adalah wujud dari perjuangan Kartini di era masa kini. Selamat berjuang para Kartini masa kini. Semangat memberikan ASI untuk generasi yang lebih baik.

Dimuat di Ummi Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar