Senin, 02 Mei 2016

HARI PENDIDIKAN NASIONAL


Pada tahun 1901, pemerintah kolonial Belanda mulai menerapkan kebijakan politik etis. Adalah Van de Venter sebagai pencetus kebijakan tersebut. Menurutnya, pemerintah kolonial Belanda telah banyak berhutang budi kepada rakyat Indonesia, maka sudah sepatutnya pemerintah colonial Belanda membalas budi. Politik Etis atau politik balas budi dilakukan dengan memberikan tiga hal kepada rakyat Indoesia, yaitu edukasi, irigasi dan emigrasi. 
Walaupun pada akhirnya kebijakan tersebut disalahgunakan dan menjadi bentuk eksploitasi baru bagi bangsa Indonesia, kebijakan memberikan edukasi memiliki pengaruh yang besar. Dengan adanya kebijakan tersebut, pemerintah kolonial Belanda mendirikan beberapa sekolah yang kemudian menghasilkan para cendikiawan pelopor pergerakan nasional.
Salah satunya adalah Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara. Selain sebagai pendiri Indische Partij, Ki Hajar Dewantara juga berjasa dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Pada 3 Juli 1922 Ki Hajar Dewantara mendirikan Sekolah Taman Siswa di Yogyakarta. Taman Siswa hadir untuk memberikan kesempatan bagi para pribumi agar memperoleh pendidikan sesuai dengan kebijakan politik etis. Melalui Taman Siswa pribumi yang dibatasi bersekolah di sekolah milik pemerintah Belanda, akhirnya bisa mengenyam pendidikan.
Atas jasanya terhadap pendidikan di Indonesia, sejak tahun 1959 hari kelahiran Ki Hajar Dewantara yaitu tanggal 2 Mei dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Sesuai dengan Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959 tertanggal 28 November 1959.
Lantas bagaimanakan kondisi pendidikan bangsa Indonesia saat ini? Apakah pendidikan di Indonesia sudah mampu mencetak manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, merdeka lahir batih, luhur budi pekertinya serta cerdas dan dibekali ketrampilan, sebagiman yang menjadi tujuan berdirinya Taman Siswa?

Dimuat di UmmiOnline

Tidak ada komentar:

Posting Komentar