Jumat, 04 November 2016

NHW 3 : MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH



NHW 3 : MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH


Bismillah
Mengungkapkan rasa cinta bukanlah ha lasing bagi saya. Saya sering mengungkapkan rasa cinta kepada suami. Baik secara langsung atau melalui pesan lewat WA ataupun BBM. Sebenarnya saya yang selalu inging menerima surat cinta dari suami, eh kok ternyata saya yang harus mengirim surat cinta padanya. Inginnya sih nulis tangan, tapi apa daya sepertinya waktu dan kondisi tidak memungkinkan. Alhasil saya kirim surat cinta melalui pesan WA. Pesan saya lumayan panjang, dan seperti biasa suami membalas secara singkat. Balasannya “Alhamdulillah, aku mencintaimu karena Allah” ditambahi emoticon yang menunjang perasaannya. Hmm begitulah suami saya, dia memang kesulitan bila harus mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Rasa cintanya lebih sering berwujud perbuatan.
Setiap malam, ketika berada disampingnya sebelum tidur saya selalu mengungkapkan rasa  cinta padanya. Saya selalu suka memandang wajahnya ketika dia sudah terlelap. Setiap memandang wajahnya saya selalu merasa jatuh cinta lagi padanya. Lelapnya menunjukkan betapa setiap hari dia berjuang tanpa lelah mencari rezeki yang halal bagi keluarga kami.
Berikut ini adalah potensi yang dimiliki oleh suami saya, yang membuat saya selalu bersyukur dan selalu jatuh cinta padanya. Dimata saya suami saya itu :

1. Konseptor terbaik, suami saya adalah imam yang baik bagi keluarga. Dia sudah memikirkan kemana arah rumahtangga kami. Dia membangun keluarga kami berdasarkan syariat yang diharuskan.
2. Suami penyayang, suami saya adalah suami penyayang atau istilah kerennya family man. Selalu mengutamakan kepentingan keluarga dibandingkan kepentingan pribadi. Dia akan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya.
3. Perfeksionis,terkadang sering terjadi pertengkaran bila berkaitan dengan sikap perfeksionisnya ini. Dia selalu total bila mengerjakan sesuatu. Bila satu pekerjaan belum selesaikan secara sempurna, dia tidak akan beranjak mengerjakan yang lainnya. Mencapai kesempurnaan memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, ini membuat saya tidak sabar, dan ini yang jadi penyebab pertengkaran, he he he.
4. Ayah yang baik, suami saya adalah partner terbaik dalam mengasuh dan mendidik anak-anak. ketika anak pertama lahir, dia sudah cekatan dalam memandikan bayi. Saya saja baru berani memandikan anak ketika sudah berusia dua bulan. Setiap malam selalu membantu mengganti popok anak. menemani saya pumping ASI di malam hari. Telaten bila harus memandikan atau menyuapi anak-anak.
5. Taat aturan, sebagai seorang sarjana hukum suami saya tentu paham dengan aturan dan bagaimana harus menaati aturan. Dalam menjalani pekerjaan sebagai seorang PNS dia selalu taat pada aturan. Menghindari penyalahgunaan jabatan yang disandangnya. Alhamdulillah dia selalu memegang teguh prinsip bahwa hanya akan memeberikan rezeki yang halal bagi keluarganya.

Potensi Chacha (3 Tahun 6 Bulan)
Dissa Zahra Firdausi atau yang biasa kami panggil Chacha, adalah sulung kami yang sangat luar biasa. Banyak potensi yang dimilikinya, yang selalu membuat kami bersyukur memilikinya. 

1. Mandiri, diusianya sekarang Chacha memiliki kemandirian yang kuat. Tidak sekedar bisa mengganti pakaian atau makan sendiri. Tetapi dia juga mandiri dalam mengambil keputusan-keputusan yang penting dalam kehidupannya. Di usia 2 tahun kami sudah mulai mengajrkan toilet training padanya. Namun tak kunjung berhasil. Tetapi ketika menjelang usia 3 tahun, dia memutuskan tidak mau pakai popok lagi. Dan hanya dengan 3 hari setelah keputusannya itu dia sudah tidak pakai popok dan tidak pernah mengompol. Saya masih terus memberikan ASI padanya walaupun sudah lebih dari 3 tahun, bahkan sempat tandem nurshing saat adiknya lahir. Dan baru dua bulan kemarin, dia menyapih dirinya sendiri. Dia yang memutuskan bahwa sekarang dia sudah tidak mau menyusu lagi. Dan ketika dia berusia 3 tahun, ia mau bersekolah. Dia minta sendiri kalau dia ingin sekolah. Kami tidak pernah memaksanya.
2. Suka Belajar, dari usianya 6 bulan saya sudah memperkenalkan buku padanya. Bukan untuk mengajarinya membaca, tapi untuk mendongenginya. Sampai sekarang dia selalu antusias dengan buku. Suka belajar melalui berbagai buku yang kami sediakan di rumah. Bahkan tak jarang kami melakukan percobaan sains sederhana, dan dia selalu antusias melalukukan percobaan tersebut.
3. Kecerdasan berbahasa yang tinggi, Chacha sudah bisa berbicara lancar sejak usia 1 tahun. Dan ketika usianya sekarang begitu banyak kosa kata yang dimilikinya. Bahkan tidak jarang dia bisa bercerita di muka umum.
4. Memiliki rasa ingin tau yang tinggi, Chacha selalu merasa kepo untuk hal-hal yang ditemuinya. Tak pernah berhenti bertanya terhadap hal baru yang dihadapinya. Kadang saya sampai kehabisan akal untuk menjawab pertanyaa-pertanyaannya.
5. Aktif, Chacha adalah anak yang sangat aktif. Dia tidak pernah berhenti bergerak, mungkin diamnya kalau lagi tidur aja, he he. Selalu antusias dengan segala aktivitas yang berbau fisik. Bahkan setiap acara senam pagi disekolahnya, dia sering mendapat bintang dari gurunya, karena paling aktif bergerak.

Potensi Aluna (7 Bulan)
Aluna Zahra Firdausi, puteri kedua kami ini berusia 7 bulan. Diusia yang baru tujuh bulan perkembangannya sudah pesat, dan kami begitu bersyukur dan bahagia mengamati setiap perkembangan yang dia capai.

1. Tenang, berbeda dengan Chacha, Aluna ketika di awal kelahirannya tidak pernah membuat kami begadang di malam hari. Dia tidak pernah rewel di malam hari. Kalaupun menangis itu hanya karena kami harus mengganti popok ataupun dia ingin ASI. Jarang menangis.
2. Kecerdasan Bahasa, walaupun belum bisa bicara secara jelas, sejak usia 4 bulan dia sudah aktif mengoceh. Sekarang kata-kata yang bisa dia ucapkan, “Ndaa”, “Maaa” “Haaa” “Maem”,, he he membuta kami gemas melihat kelucuannya saat mengoceh.
3. Suka tersenyum, saya benar-benar merasakan dampak positif IMD (Inisiasi Menyusui Dini), Aluna menjadi lebih tenang dan jarang menangis. Dia sering tersenyum . bayi yang murah senyum.


Potensi Saya
Sudah 3 tahun 6 bulan saya menjalani profesi sebagai seorang ibu. Alhamdulillah kami sudah dikaruniai dua puteri yang cantik dan cerdas. Saya memang bukan ibu yang sempurna, tapi saya selalu berusaha belajar agar mampu menjalani peran saya sebagai ibu dengan baik. Berikut adalah potensi yang saya miliki :
1. Jujur, saya selalu jujur dan terbuka kepada suami. Bagi saya suami adalah teman curhat utama, tidak ada hal yang saya sembunyikan dari suami.
2. Suka belajar, saya adalah orang yang haus ilmu. Sejak menjadi seorang ibu, saya tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan peran saya sebagai ibu. Ilmu tentang ASI dan parenting adalah hal yang saya tekuni saat ini. Saya sering membaca dua buku yang berkaitan dengan kedua topik tersebut. Bahkan saat ini saya juga bergabung menjadi pengurus dua organisasi yang berkaitan dengan dua hal tersebut. Saya aktif di AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) cabang Jawa Timur dan IIP (Institut Ibu Profesional) Surabaya Raya. Selain dari buku, saya juga belajar melalui berbagai kegiatan komunitas yang berhubungan dengan ASI dan parenting.
3. Konseptor ulung, sejak dulu saya terkenal sebagai orang yang pandai membuat rencana. Bahkan saya selalu menyiapkan plan A, plan B tak jarang sampai plan C, he he he. Saya sudah siap dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.
 Potensi Lingkungan
Alhamdulilah sejak bulan Ramadhan tahun ini kami sudah menempati rumah sendiri. Berhenti menjadi kontraktor, he he he. Saya suka dengan lingkungan rumah kami. Kebanyakannya kedua orangtua bekerja. Banyak ibu yang menjadi wanita karir, ini yang membuat lingkungan kami bersi dari forum gossip. Terus terang saya tidak suka dengan lingkungan yang ibu-ibunya sering ngumpul untuk bergosip, he he. Saya buka tipe orang yang sering nonggo.
Ibu-ibu baru berkumpul saat ada kegiatan PKK, ini lebih produktif. Berkumpul untuk kegiatan positif. PKK dilingkungan kami sangat aktif. Ibu-ibu PKK juga aktif mengelola posyandu, taman toga bahkan kami punya bank sampah.
Lingkungan kami juga memiliki kegiatan pengajian yang rutin dilakukan. Bapak-bapaknya juga rutin bertemu untuk membahas program kampong bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar