Senin, 21 November 2016

Oleh-Oleh Dari Seminar Islami " Cerdas Dalam Pengasuhan" Bersama Kiki Barkiah

Bismillah..
Berikut adalah oleh-oleh saya dari acara Seminar Parenting Islami bersama Teh Kiki Barkiah

" Cerdas Mengelola Konflik Pengasuhan"

Oleh : Kiki Barkiah
Hari/Tanggal : Ahad, 20 November 2016
Pukul : 07.00-11.00
Tempat : Masjid Farma Warta, Jalan Kapasari Surabaya

Dewasa ini begitu banyak permasalahan yang dialami oleh anak-anak di Indonesia.
Mulai dari kecanduan games online, pornografi, pergaulan bebas hingga membolos sekolah.

Berbagai permasalah diatas dialatarbelakangi oleh pola asuh dalam keluarga.
Banyak orangtua yang mati gaya mengungkapkan cinta kepada anak dalam kaitannya mendisiplinkan anak.

Banyak orangtua yang melakukan komunikasi menyimpang, yang dampaknya akan berpengaruh pada kehidupan anak di masa yang akan datang.

Komunikasi menyimpang akan berakibat pada menutunnya kemampuan logika anak, berpengaruh dalam kemampuan kemampuan anak bertindak efektif dan efisien, juga akan membuat anak kesulitan menyelesaikan masalah.

Oleh karena itu, sebagai orangtua harus cerdas mengelola emosi.
Untuk cerdas mengelola emosi, orangtua harus mengenali tipe konflik yang dihadapinya. Dengan demikian, bila tau tipe konfliknya orangtua akan bisa menghadapinya secara solutif bukan secara emosional.

Berikut ada 18 jenis konflik yang biasa terjadi di setiap rumah, beserta solusi untuk mengahadapi konflik tersebut.

1. Anak belum mampu tapi orangtua berharap mampu.
Solusi :
Sesuaikan harapan oarangtua dgn kemampuan anak.

2. Orangtua belum manpu tapi anak berharap orangtua mampu saat ini juga.
Solusi :
* Komunikasi efektif dalam membngun pengertian.
* Orangtua harus kreatif dalam mencari alternatif.

3. Anak mau namun belum mampu. Tapi orangtua tidak mau bersabar melatih anak sampai mampu.
Solusi :
Orangtua bersabar dan istiqomah melatih anak sampai mampu.

4. Orangtua mau dan mampu tapi anak belum mau dan mampu.
Solusi :
*Perhatikan keinginan dan kemampuan anak.
* Pertanyakan seberapa penting keinginan orangtua terhadap anak.
* Perbnyak upaya untuk memotivasi anak.
* Bersabar melatih anak sampai dia mampu.

5. Anak mampu namun masih butuh latihan tapi orangtua ingin proses instan.
Solusi :
* Orangtua mengenali batas kemampuan anak.
* Orangtua bersedia bersabar mendampingi proses perubahan anak.

6. Anak sudah tau, anak sudah mampu namun lupa, tapi orangtua berhatap sempurna.
Solusi :
Orangtua memperbanyak maaf dan toleransi.

7. Orangtua mau, orangtua mampu namun lupa. Tapi anak madih perlu belajar memaafkan.
Solusi :
* Beri anak keteladanan dalam memaafkan sesuatu yang terjadi karena lupa.
* Budayakan dalam keluarga sikap saling mengingatkan dgn santun.

8. Anak mau yang ini dulu tapi orangtua mau yang itu dulu.
Solusi :
* Orangtua beritikad baik untuk bertanya keinginan dan maksud ansk
* Orangtua memberikan kemudahan jika itu bukanlah sebuah dosa.

9. Anak tidak tahu tapi orangtus berpikir sudah sepatutnya tahu.
Solusi :
Ajari anak ilmu, baru kemudian menuntut komitmen pengalamannya.

10. Anak ingin mencoba yg baru tapi orangtua ingin sewajarnya saja.
Solusi :
* Beri anak ruang dan batasan untuk mencoba hal yg baru selama bukan hal yg berdosa.
* Alihkan pada sesuatu yg lebih aman dgn penuh kebijaksanaan.

11. Anak memiliki kebutuhan tapi orangtua tidak memahami kebutuhan anak.
Solusi :
Lebih peka terhadap kondisi anak dgn merespon tanda-tanda yg dimunculkan.

12. Orangtua memiliki kepentingan tapi anak tidak memahami kepentingan orangtua.
Solusi :
* Pastikan kepentingan anak telah terpenuhi saat orangtua mengerjakan kepentingan.
* Siapkan supporting sistem yg dapat bekerjasama.
* Bangun dialog bersama anak agar anak mengetahui seberapa penting yang harus dilakukan orangtua.

13. Anak ingin orangtua memahami dirinya tapi orangtua ingin dipahami anak.
Solusi :
Siapa yang lebih bersikap dewasa akan memahami sebelum minta dipahami.

14. Anak tidak sengaja tapi orangtua tidak mudah memaafkan dan tidak pandai mengelola kekecewaan.
Solusi :
* Orangtua perbanyak  maaf dan toleransi.
* Orangtua berusaha untuk tetap berpikir dan bertindak dgn penuh kebijaksanaan meski tengah mengalami kekecewaan.

15. Orangtua tidak sengaja tapi anak masih perlu untuk memaafkan dan mengelola kekecewaan.
Solusi :
* Orangtua memberikan keteladanan tentang memaafkan terhadap perbuatan yg tidak disengaja.
* Orangtua memberikan keteladanan bersikap mengelola kekecewaan.
* Orangtua menghibur dan memebesarkan hati anak yang  kecewa.

16. Anak bermaksud A tetapi orangtua tidak memahami maksud anak.
Solusi :
* Bangun komunikasi yang efektif. dari hati ke hati.
* Pahamilah motif anak melakukan sesuatu.
* Pahami dan hargai cara berpikirnya.

17. Anak punya kondisi khusus tapi orangtua tidak mengenali kondisi anak.
Solusi :
Semakin kita mengenali anak semakin tepat kita memenuhi kebutuhan mereka.

18. Orangtua bermaksud B tapi anak tidak memahami maksud orangtua.
Solusi :
* Bangun komunikasi efektif yang membuat anak dapat memahami pesan yang ingin kita sampaikan.
* Pastikan maksud kita sesuai dengn kondisi dan kemampuan anak.

Dengan mengetahui jenis konflik yang dihadapi, orangtua akan mampu mengambil sikap yang bijak.

Konflik yang tidak selesai akan menjadi konflik tingkat tinggi, yang akan berakibat :
* Anak tidak mau lagi dekat dengan orangtua.
* Anak tidak mau lagi berbagi dan bercerita dengan orangtua.
* Anak tidak mau lagi mendengar kata-kata orangtua.
* Anak tidak mau menuruti perintah orangtua.

Konflik tingkat tinggi akan memunculkan konflik kelas kakap,yang mengakibatkan :
* Anak semakin jauh dari nilai-nilai kebaikan.
* Anak semakin jauh dari koridor syariat Allah.

Setiap keluarga memiliki perbedaan reaksi dalam mengelola konflik. Orangtua yang seringkali bersikap reaktif bila menghadapi konflik, dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
* Jika orangtua menganggap anak sebagai mikiknya, bukan sebagai titipan. Sehingg orangtua akan memperlakukan anak sesuai kehendaknya.
* Jika orangtua tidak memiliki visi dalam berkekuarga.
* Bila kesibukan kian meningkat. Ibu yang kelelahan akan mudah marah.
* Hubungan suami istri yg tidak harmonis.
* Himpitan persoalan ekonomi.

Dipenghujung sesi, Teh Kiki Barkiah juga membahas sedikit tentang Home Schooling.
Metode Homescholing bisa dipilih oleh orangtua dalam mengembalikan fungsi keluarga.
Dimana keluarga adalah basis pertama dalam perkembangan anak.
Home Schooling menjadikan orangtua sebagai manajer.
Sedangakan untuk persoalan teknis bisa meminta bantuan oranglain.

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan jika memilih Home Schooling, yaitu :
* Pembuatan lesson plan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak.
* Home Schooling sesuai dengan fitran anak.
* Home Schooling dipilih jika anak sudah tidak terpenuhi kebutuhannya disekolah.

Home Schooling atau tidak, ada 9 kurikulum yang wajib diajarkan oleh orangtua, yaitu :
* Ajari anak mengenal Tuhan, sehingga anak akan memiliki tujuan yang jelas.
* Ajari anak mengenal Rasul, sehingga ia akan bisa mengejahwantakan perintah Tuhannya.
* Ajari anak mengetahui tujuan hidup.
* Ajari anak mengetahui dirinya.
* Ajari anak menjadi manusia pembelajar sehingga anak bisa meraih tujuan hidupnya.
* Ajari anak mencintai kebaikan.
* Jaga fitrah kesuciab anak sampai dia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
* Ajari anak kemandirian, sampai ank mandiri menajalani kehidupannya.
* Ajari anak siap berkeluarga.

Dalam memelihara kesucian fitrah anak, ada beberapa hal yang perlu dilakukan :
* Bila usia anak masih dalam tahap copycat, belum mampu diajak berkomunikasi maka orangtua perlu meminimalisir pergaulan dengan nilai-nilai negatif.
* Sirah menjadi kurikulum wajib dalam keluarga. Ajak anak mengenal Rasul, para sahabat agar anak memiliki tujuan hidup yang jelas.
* Pilihan berteman dan bergaul.
* Beri batasan dan alternatif
* Tetap percaya diri menjadi berbeda atau asing.
* Menjadi baik dilingkungan yang buruk.

Demikian resume acara seminar parenting islami bersama Kiki Barkiah hari ini.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengambil pelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar