Sabtu, 28 Januari 2017

.

*Prinsip Mendidik Fitrah Bakat*


قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖ  ؕ  فَرَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ اَهْدٰى سَبِيْلًا❤
Katakanlah (Muhammad), "Setiap orang berbuat sesuai dengan bakat pembawaannya masing-masing." Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.
[QS. Al-Isra': Ayat 84]

*Setiap anak lahir dengan membawa fitrah*. Secara garis besar, yang pertama, fitrah ada yang terkait dengan *Ketuhanan dan Keagamaan* yaitu potensi serta dorongan bawaan manusia untuk menerima Ketuhanan atau Keagamaan. Yang kedua, fitrah ada yang terkait dengan *kemanusiaan* itu sendiri yaitu potensi bawaan manusia (innate goodness atau innate character) untuk menjalani peran peran terbaik di muka bumi. Diantara fitrah itu adalah *Fitrah Bakat*.

1. *Jangan Sia-Siakan Bakat*. Ibnul Qayyiem dalam bukunya Tuhfatul Maudud  mewanti wanti agar kita janganlah sampai melalaikannya sehingga anak kehilangan perannya. Banyak bersyukurlah (optimis dan tenang) atas fitrah bakat tiap anak dan yakinlah bahwa tiap anak kita dengan fitrah bakatnya pasti punya peran spesifik istimewa di muka bumi yang ditunggu-tunggu dunia di masa depan.

2. *Bakat untuk mencapai Maksud Penciptaan*. Jika peran spesifik istimewa atas fitrah bakat ini dicapai atau "accomplished" maka maksud penciptaan untuk menjadi Hamba Allah dan Khalifah Allah akan juga tercapai. Maka mendidik fitrah bakat adalah menemani anak-anak kita untuk menemukan jatidirinya sesuai tahapan usianya (lihat no 7,9,10) dan menghantarkan mereka untuk menjalani peran spesifik peradaban di dunia yang sesuai dengan fitrah bakat atau sifat uniknya itu dalam rangka memenuhi maksud penciptaan itu.

3. *Temukan Peran Unikmu Sendiri*. Mendidik tiap aspek fitrah harus berujung kepada peran spesifik terbaik dan adab mulia sesuai atas aspek fitrah bakatnya itu. Mendidik fitrah bakat harus berujung kepada agar anak-anak kita memiliki peran peradaban spesifik di dalam bidang kehidupan di masyarakat dengan kemauan memberi sebanyak-banyak manfaat atau memberi adab mulia bagi kehidupan. Peran spesifik ini bisa jadi belum ada contohnya pada saat ini, tugas kitalah mendorong anak-anak kita menemukan peran uniknya sendiri atas fitrah bakatnya itu. Jangan pernah menyuruh anak kita menjadi versi kedua dari orang lain. Sebagai catatan bahwa fitrah bakat ini ada yang terkait dengan keistimewaan sifat (suka memimpin, suka mengatur, suka meneliti, suka merancang dll) dan ada yang terkait dengan keistimewaan fisik (olahraga, memasak, dll).

4. *Dipandu Kitabullah*. Mendidik fitrah bakat harus dipandu dengan nilai-nilai Kitabullah agar menjadi peran yang menebar rahmat (rahmatan lil alamin) dan kabar gembira serta peringatan (bashiro wa nadziro).

5. *Bakat itu Karakter Unik Bawaan*. Diantara makna kata "Fithrah" adalah Al-Ibtida atau diciptakan tanpa contoh alias unik. Jadi makna fitrah bakat adalah sifat unik atau fitur unik manusia, tentu yang positif. Fitrah bakat merupakan karakter unik yang merupakan bawaan lahir (nature character) yang melekat pada personaliti manusia sehingga membuatnya unik dalam berfikir, merasa dan bertindak. Karena ini nature character maka sudah keren tanpa membutuhkan banyak kursus atau training. Hanya memerlukan aktivasi dan penguatan. Karenanya Bakat disebut karakter kinerja (performance character).

6. *Bakat itu Passion*, Hebat belum tentu Bakat. Jangan tergesa menganggap sesuatu yang nampak hebat dari anak kita itu bakat, karena bakat memerlukan passion atau enjoy ketika melakukannya. Fitrah bakat atau Sifat unik ini Allah instal sejak lahir agar kelak manusia memiliki peran peradaban spesifik dalam satu atau beberapa bidang dalam kehidupan masyarakat atau peradabannya pada sebuah zaman dimana mereka ditakdirkan hidup. Fitrah bakat adalah panggilan hidup yang terlihat dari bagaimana manusia menjalaninya dengan ghairah, passion dan bahagia.

7. *Pada tahap usia 0-6 tahun, fitrah bakat akan nampak sebagai sifat unik*, maka amati dan buatlah jurnal aktivitas yang dapat merekam sifat uniknya, yaitu aktivitas yang relevan dengan sifat uniknya dengan ciri antusias, bahagia, keren dalam melakukannya.

8. *Jangan Benturkan dengan Adab/Akhlak*. Beberapa sifat unik di bawah 7 tahun bisa jadi terlihat *_tidak beradab_*, misalnya keras kepala, cerewet, cengeng, penakut dan sebagainya. Maka jangan tergesa dibenturkan dengan adab atau akhlak, banyak bersyukurlah bahwa Allah tidak mungkin menciptakan anak yang jahat dan tidak punya masa depan. Lihatlah bahwa anak keras kepala itu sesungguhnya berbakat sebagai pemimpin, tidak ada pemimpin yang mudah diatur bukan? Anak cerewet itu sesungguhnya adalah komunikator atau orator atau presenter yang handal, bukankah semua peran itu bukan peran pendiam?

9. *Pada tahap usia 7-10 tahun, berikan aktivitas yang relevan dengan sifat unik*. Ajak untuk "tour de talents" untuk membuka wawasan aktivitas atau peran yang relevan dengan sifat uniknya itu. Jika sifat uniknya, misalnya suka memimpin, maka berikan aktivitas dimana ananda selalu mendapat kesempatan untuk memimpin. Ingat setiap anak bisa memiliki sifat unik lebih dari satu, sehingga aktivitas yang relevan juga bisa banyak. Buatlah portfolio anak untuk merekam pencapaiannya.

10. *Pada tahap usia 11-14 tahun, pastikan bakat anak sudah jelas atau sudah ditemukan pada usia 10 tahun*, jika belum maka prosesnya diulang seperti pada tahap di no 7, 8 dan 10 di atas. Lakukan talents mapping jika masih ragu. Jika sudah yakin maka kembangkan bakat itu dengan konsisten dan disiplin sehingga menjadi peran peradaban terbaik. Berikan Maestro Bakat untuk pemagangan bakatnya dan berikan Murobby/Chaperon untuk menggembleng adab / akhlaknya. Ingat bahwa peran ananda kelak bisa jadi belum ada pada zaman ini. Buatlah personalized curriculum berbasis fitrah bakat untuk memandu pengembangannya.

Tahapan diatas adalah tahapan Ideal, bisa jadi tiap anak berbeda kesempatan untuk mengembangkannya, maka yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan mempersiapkan yang terbaik.

Salam Pendidikan Peradaban

Harry Santosa

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah
#fitrahbakat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar