Kamis, 05 Januari 2017

πŸ“‹ *Resume Safari Diskusi (2)*

*"Peran Ayah Membangun Ego Anak"*

πŸ—“ Jumat, 30 Desember 2016
⏰ 13.00-16.30
🏑 Grup HEbAT Surabaya
πŸ‘³‍♀ Safarior: Ayah Marsahid
πŸ•΅πŸ»‍♀ Host : Bunda Juni
πŸ–Š Notulis : Bunda Yardha

πŸš¦πŸš—πŸš™πŸš¦πŸš—πŸš™πŸš¦πŸš—πŸš™πŸš¦πŸš—πŸš™

*Peran Ayah membangun Ego Anak*

πŸ‘³πŸ» : *Marsahid AS*

*"Oleh-oleh dari MAJELIS LUKMANUL HAKIM JINGGA III"*
_27 - 08 - 2016_

Ayah punya banyak peran dalam keluarga. Salah sati peran penting Ayah adalah membangun Ego Anak. Salah satu hal yang penting untuk mendidik anak adalah membangun ego. Dan itu jadi salah satu alasan penting kenapa ayah harus hadir dalam pendidikan anak.

TENTANG EGO

Masyarakat Indonesia selama ini mendengar kata Ego sudah jengah. Dipersepsikan negatif, jelek, dan tidak baik. Ego diidentikkan dengan egoisme. Padahal sangat berbeda. Membangun ego jauh berbeda dengan membangun egoisme. Lalu apa yang dimaksud dengan ego?

Ego berasal dari bahasa Yunani, bahasa Jermannya “Ich”, bahasa Inggrisnya “I”, bahasa arabnya “Ana”, bahasa Indonesianya “Aku”. Suka atau tidak suka, aku (gue – ich – ana - i) itu pada dasarnya memang ada. Karena setiap manusia itu adalah sosok pribadi, sosok individu. Anak kembar pun namanya berbeda, kepribadiannya juga berbeda. Hanya manusia makhluk yang tiap-tiap orang namanya berbeda. Binatang tidak memiliki nama. Malaikat, munkar atau nakir itu ada banyak, malik atau ridwan itu ada banyak. Tapi yang memiliki nama per individu hanya manusia. Fitrah manusia itu memang punya individualitas. Dalam bahasa sehari-hari pun dibedakan; aku, kamu, kita, kami.

Jika bicara tentang ego, yang dimaksud ego adalah kepribadian. Berasal dari kata pribadi. Disebut kepribadian karena sifatnya pribadi, orang per orang. Karena itu disebut kepribadian. Maka kepribadian si A beda dengan si B. Jangan alergi dengan kata ego, sebagaimana dengan kata kepribadian.

Saat ini berkembang pendidikan karakter, padahal sesungguhnya itu adalah pendidikan kepribadian. Karakter itu khas, unik, beda satu dengan yang lain. Dalam bahasa arab karakter adalah Qosois. Karakteristik dakwah = Qosoisud Dakwah. Qos, khas, berbeda dengan yang lain. Itulah karakter. Tidak bisa disamakan pendidikan karakter di tiap daerah, di tiap sekolah, atau di tiap kampus. Pemerintah juga sedang ingin menyamakan tentang pendidikan karakter. Padahal pendidikan karakter harus khas, di Bekasi berbeda dengan di Depok, Bogor atau Tangerang. Di Jingga Lifeschool tentu pendidikan karakternya berbed, khas Bekasi.

Kepribadian. Orang yang tidak punya ego berarti tidak punya kepribadian. Sama seperti orang lain. Maka jangan pernah alergi dengan kata ego. Karena ego bicara tentang Aku. Anak yang punya ego adalah anak yang punya kepribadian. Kalau tidak mendidik dan melatih ego anak,berarti anak itu tidak memiliki kepribadian. Tidak menjadi pribadi. Maka dia menjadi “we”, menjadi “kita”.

Jangan sampai anak kehilangan jati diri, tidak lagi berani tampil sebagai “aku”. Anak harus berani “tandang ke gelanggang walau seorang”, tidak takut walau tampil sendiri dan itu butuh ego. Berani tampil sendirian walau semua orang penegak kebatilan, jika punya ego anak akan berani “tandang ke gelanggang walau seorang” sebagai penegak al-haq.

Ego adalah identitas diri. Anak yang tidak punya ego tidak bisa membedakan dirinya dengan orang lain. Orang Indonesia sangat hobi dengan keseragaman. Ego harus muncul agar anak bisa membedakan diri. Agar anak tidak larut dan terbawa. Ketika temannya pakai baju biru, sementara anak ingin baju merah, karena tidak punya ego, anak merasa tidak enak, takut dibilang tidak kompak, sehingga ia ikut pakai baju biru. Padahal biru bukan dia banget. Lalu merembet ke hal lain. Temannya merokok, karena tidak punya ego, takut dimusuhi dll serba taku akhirnya ikut larut. Hampir 100% pengguna narkoba awalnya merokok. Rokok pintu menuju narkoba. Walau tidak selalu perokok adalah pengguna narkoba. Tapi setiap pengguna narkoba selalu diawali dengan merokok. Ikut-ikutan karena khawatir dimusuhi, khawatir dijauhi. Jika ego kuat, maka anak akan mengatakan,”saya sih nggak ingin cari musuh, tapi kalo gara2 begini dimusuhi sih ga masalah.”

Ego masyarakat Indonesia lemah, menyebabkan perubahan2 sulit terjadi. Karena saat ada hadangan, tantangan sedikit saja membuat kita mundur. Kita atau anak2 kita mau beda sedikit saja kemudian ada yang menghadang langsung mundur. Ego orang Indonesia mudah larut, mudah terpengaruh. Sehingga hypnotherapy laku keras. Karena orang Indonesia mudah dihipnotis. Terapi ini efektif tapi sekaligus merusak orang Indonesia. Berbagai hypno (parenting, marketing,dll.) sangat laku. Ustadz Adriano Rusfi sangat menguasai teori2 tentang psikoanalisis sehingga sadar akan efektivitas hipno2.

The most sugestable people in the world adalah orang Indonesia. Sehingga siapapun bisa mempengaruhi orang Indonesia. Jika ada orang duduk di depan saat di bis, kemudian dia iseng saja berdiri dan melihat ke kiri, maka yakinlah bahwa orang-orang yang duduk di belakangnya semua ikut berdiri dan melihat ke kiri.

Lionel Messi saat bermain bola di umur 5 tahun, bolanya asyik digocek saja sendiri. Pelatihnya berteriak menyuruhnya berbagi bola kepada temannya. Tapi Messi tidak mau. Itu sesuai fitrahnya. Tapi saat usianya melewati 7 tahun, Messi rajin berbagi bola kepada temannya. Maka wajar Messi sangat jago menggocek bola, tapi ia juga sosok yang rajin berbagi bola dengan rekan setimnya saat ini. Banyak gol yang diciptakan Suarez adalah umpan dari Messi. Tapi saat Messi mengeluarkan kemampuan individunya, ia sulit dihentikan. Kemampuan berbagi penting, kemampuan individual itu juga penting. Pada saat anak tidak ingin berbagi, maka biarkan saja. Sesuatu yang pada umurnya. Jangan dari kecil anak dipaksa untuk berbagi. Biarkan dia mempertahankan hak milik. “Ini milikku, kamu tidak boleh walaupun kamu adik kandungku. Itu bagus”. Belajar untuk berjuang mempertahankan hak milik sejak kecil agar saat besar dalam mempertahankan prinsip ia bisa memegangnya dengan kuat.

Tapi jika dari kecil sudah dididik dan dipaksa untuk berbagi, sehingga ia tidak memiliki hak atas propertinya, hak untuk mempertahankan hak miliknya, sehingga ia gampang melepaskan haknya, properti pribadinya. Itu sangat berbahaya, anak yang mudah melepaskan hak. Dalam kitab hak asasi dalam Islam karya DR. Abdul Karim Zaidah, dikatakan bahwa Islam lebih mengutamakan hak daripada kewajiban. Kenapa? Karena yang pertama Haq itu adalah nama Allah. Yang kedua haq itu artinya kebenaran. Yang ketiga hak itu artinya esensi, hakikat. Dan yang keempat hak itu artinya kewajiban. Maka haqqul muslim alul muslim artinya kewajiban muslim atas muslim lainnya. Ada hak fakir miskin pada hartamu, ada hak orang lain pada hartamu, maksudnya kamu punya kewajiban lho pada fakir miskin, pada orang lain. Kenapa Allah lebih suka membaca bahasa hak? Karena manusia lebih suka bicara hak daripada kewajiban. Egoisme manusia membuat manusia lebih asyik jika diajak bicara hak.

Biarkan anak untuk belajar mempertahankan haknya. Jika anak,”ini mainanku, aku nggak mau berbagi sama kamu.” Itu benar jika terjadi di usia sebelum 7 tahun. Jika ia sudah berusia di atas 7 tahun, maka itu salah. Karena di atas umur 7 tahun sudah bicara tentang kewajiban, kebersamaan, sosiabilitas, berbagi. Sebelum ia berumur 7 tahun biarkan ia bicara tentang hak-haknya. Belajar mempertahankan haknya, tidak mudah menyerah, tidak mudah melepaskan properti pribadinya. Agar ia kelak tidak mudah saja properti pribadinya, melepaskan keperawanan, kegadisan, dll. Didik anak dari awal untuk punya ego. Sehingga saat dicolek sedikit, ia bisa melawan,”enak aja lho colek2, tabokin juga nih.”

Salah satu cara mendidik ego anak adalah jangan terbiasa mengintervensi anak pada saat anak sedang mempertahankan haknya, propertinya. Biarkan ia berjuang sejak kecil untuk itu. Hal-hal semacam ini terlihat sepele, tapi sangat berpengaruh.

Wallahu'alam bisshowab.

πŸš¦πŸš—πŸš™πŸš¦πŸš—πŸš™πŸš¦πŸš—πŸš™πŸš¦πŸš—πŸš™

*Sesi Diskusi*

πŸ•΅πŸ»‍♀ *Host*
Saya buka dulu ,yah..

Assalamu'alaikum wrwb.

Dengan semangat belajar ayahbunda HEbAT Surabaya yang menggelora, hari ini kita akan mendapat sharing ilmu tentang keayahbundaan yang ditunggu2, yaitu tentang Egosentris, dg judul :
_"peran ayah membangun ego anak "_

Bersama bapak *Marsahid* yang telah siap disini , monggo  pakSahid .. kami persilahkan ..

πŸ‘³‍♀ *Ayah Syaheed*
Waalaikumsalam wr wb.

Sebagai pembuka,
Dari status FB ustadz Adriano Rusfi :

Ayah, Sang Ego
(Ust. Adriano Rusfi, Psi.)

Seorang ibu kemarin bertanya : "Pak, anak saya sering pulang ke rumah membawa ucapan-ucapan kotor dari teman-temannya. Bagamana cara memisahkan anak saya dari teman-teman semacam itu ?"

Saya menjawab : "Memisahkan anak dari teman-temannya tak menjawab persoalan. Andai kita punya anak dengan ego yang kuat, tentulah sang anak tak terpengaruh, tapi bahkan mempengaruhi (influencer)"

Lalu saya tercenung sendiri. *Bagaimana mungkin menghasilkan anak berego kuat, mempengaruhi dan tak terpangaruh, jika ayah absen dalam pendidikan anak-anaknya ? Bukankah ayah adalah sang ego ?*

Sumber : Status FB Ustadz Adriano Rusfi

πŸ•΅πŸ»‍♀ *Host*
Sudah tidak sabar utk bertanya,yah...
Bisa langsung tanya ya,PakSahid?

πŸ‘³‍♀ *Ayah Syaheed*
Silakan, bu

πŸ•΅πŸ»‍♀ *Host*
Terima kasih, Pak Sahid..

Utk bertanya ,silahkan ayahbunda beri tanda ❓ sebelumnya,yah..

1⃣❓ *Novi, Surabaya*
Ayah adalah sang ego. sang ego ini yg dimaksud seperti apa?
terima kasih.

πŸ‘³‍♀ *Ayah Syaheed*
1⃣ Bunda Novi, yang dimaksud adalah bahwa ayah sebagai sosok yang bisa mengajarkan ego.
Kenapa? Karena sebagai pemimpin rumah tangga, ayah adalah sosok yg memiliki ego. ✅

2⃣❓ *Fitri, Sidoarjo*
1. Kl anak kita berebut ssuatu dgn anak lain krn misalnya barangnya direbut.. sebaiknya sikap kita bagaimana ya?
2. Ada sedikit kekhawatiran  anak dr kecil dibiarkan tdk berbagi sampai besar (>7 thn ) mereka terbawa sulit berbagi..  apakah hal tsb bs terjadi? Dan bagaimana mengatasi masalah sulit berbagi pd anak2 yg sudah besar?

πŸ‘³‍♀ *Ayah Syaheed*
2⃣ Bunda Fitri di Sidoarjo,
1. Sikap kita tidak mengintervensinya, biarkan anak mempertahankan haknya, properti pribadinya.
2. InsyaAllah tidak, bu. Jika egosentrisnya terpuaskan, insyaAllah dengan sendirinya saat mulai dikenalkan dengan sosialisasi dan berbagi akan dengan mudah menerimanya. Mendekati usia 7 tahun bisa mulai dikenalkan tentang berbagi dan sosialisasi dengan inside out. Bisa melalui kisah atau dongeng atau film ttg kedermawanan, indahnya persahabatan, dll.

Jika sulit berbagi pada anak2 yg sudah besar, bisa dengan berikan mereka program live in, project based learning, bedah film, dll. ✅

3⃣❓ *Mardiyah, Sidoarjo*
1. Anak sy 6,5 thn (SD kelas 1), dari kecil yg tampak menonjol adalah rasa berbagi dan empati kepada yg lain(gak tau,apa ini termasuk yg ego-nya blm kuat,ya?). misalnya, ketika bermain sepeda,trus ada temen yg minjam, dia rela meminjamkan sepeda temennya walaupun dia harus berlari2 sendiri.bgitu jg dg mainan,makanan dll..klo sy amati, istilah jawanya dia selalu ngalah.
Hal ini pernah sy diskusikan dg suami, klo sy berpendapat ini kurang pas krn seakan2 dia tdk mempertahankan haknya..tp klo suami,gak pa2.. Justru dia bersifat itsar (mendahulukan yg lain).bagaimana ustadz memandang tentang kasus ini?dan bagaimana sbaiknya yg saya lakukan?

2.Suami sy spertinya produk dr pendidikan yg tdk memunculkan ego..sy lihat hal itu jg dr sikap keluarga besarnya, ngalah,menjauhi konflik dan tdk mempertahankan hak,padahal itu sesuatu yg benar.dan ketika berdiskusi ttg masalah ini, suami sy selalu berdalih, gak pa2 mi,insyaalloh ketika kita melakukan hal baik,insyaalloh kebaikan itu kembalinya ke qta lagi.bagaimana ini ustadz..dan spertinya anak pertama sy ini sangat meniru sifat ini.

πŸ‘³‍♀ *Ayah Syaheed*
3⃣ Bunda Mardiyah di Sidoarjo,
1. Sifatnya baik, tapi jika egosentrisnya tidak muncul akan berbahaya. Sahabat2 Rasul itsar, tapi juga punya ego yang kuat sehingga bisa berkata tidak jika tidak atau iya jika iya.
Sebaiknya mulai ditumbuhkan sikap asertifnya, ajarkan kepada ananda untuk bisa berkata tidak jika memang tidak. Tidak selalu harus mengalah. Butuh peran ayah, bu.

2. Minta suami untuk membaca tulisan2 dan status ustadz Adriano Rusfi tentang peran ayah, bu. Minta beliau juga untuk membaca kisah2 para ayah di Al Quran. Bagaimana para Ayah seperti Lukmanul Hakim, Imran, Nabi Ibrahim mengajar anak2 mereka. ✅

4⃣❓ *Riva, Magetan*
1. Anak saya yang pertama (33 bulan) kadang suka ngusilin adeknya, ntah terlalu gemas atau gimana, yang bentuknya sampai menyakiti fisik (misal mencubit, meremas) sampai adiknya (4 bln) nangis kejer. Nah karena sampai menyakiti fisik, kadang saya rada keras, kalo sudah gitu dia lari dan sembunyi. Respon lari dan sembunyi ini sebenernya awalnya karena dia pernah dimarahi oleh tantenya, saya lihat ada semacam efek trauma.

Yang saya tanyakan, apakah sikap saya yang agak keras itu mencederai fitrah anak dalam hal ini pembentukan ego anak?

2. Apakah hukuman kurungan di kamar itu juga mencederai ego anak?

Terimakasih

πŸ‘³‍♀ *Ayah Syaheed*
4⃣ Bunda Riva,
1. Bukan hanya mencederai ego, tapi juga bisa mencederai fitrahnya. Karena sampai menimbulkan trauma. Terkait keisengannya, selama tidak membahayakan nyawa adiknya, itu hanya hal biasa, bu. Tidak layak diperlakukan seperti itu. Tangani dengan metode Bahasa Bunda Bahasa Cinta.

2. Lebih dari mencederai ego, bu. Bisa mencederai fitrahnya. Apalagi jika usianya masih di bawah 10 tahun. Bahkan terkait sholat pun, Allah baru izinkan berikan konsekuensi berupa orangtua boleh memukul anak di usia 10 tahun. πŸ™πŸΌ✅

5⃣❓ *Lya, Surabaya*
1. Menambahkan pertanyaan bunda Novi ☝... Ayah berperan penting dlm penempatan ego. Bila ego identik dgn kepribadian, identitas diri dan ke "aku"an ... Ini pun dimiliki setiap orang, artinya ibu pun punya ego ...

2. bedakah peran ego antara ayah dan ibu ?
Bila yg bnyk berperan di ranah ego ini ibu apa dampaknya ?

Terima kasih

πŸ‘³‍♀ *Ayah Syaheed*
5⃣ Bunda Lya,

Benar setiap orang punya ego. Tetapi dalam pendidikan anak, biasanya ibu dengan bahasa bunda bahasa cintanya, lebih mengajarkan sosiabilitas, perdamaian.

Ibu bisa berperan, tapi tidak sekuat jika ayah yg mengajarkan tentang Ego.

Peran Ayah adalah mengajaran individualitas, menumbuhkan egonya. Ayah adalah sosok yang bisa mengajarkan itu. Karena ayah adalah orang yang bisa mengajarkan keberanian, untuk berkata semacam "lawan saja kalo ada yang memaksa," atau "Bilang tidak kalau tidak".

Seorang ibu punya kecenderungan membangun sosiabilitas anak. Ibu akan mendidik anak agar mudah diterima masyarakat. Anak yang santun, ramah, anggun, tidak  pernah berantem, dan kompak adalah hasil didikan ibu. Karena ibu biasanya bilang, "udah nak, yang akur, yang damai2 aja sama teman".

Karena sosok ibu biasanya sosok yang penuh damai, bersahabat, dan tidak suka konflik.

Namun jika ayah tidak ikut mendidik, anak mudah terbawa arus pergaulan yang buruk. Penyebabnya anak tidak punya individualitas. Anak yang tidak punya individualitas tidak punya ego. Dia tidak punya keberanian untuk berbeda. Dia tidak punya keberanian untuk menunjukkan, ‘Ini saya. saya memang beda dengan kamu.’ Ayah yang bisa mengajarkan individualitas.

Hal lain yang bisa menumbuhkan ego anak adalah dengan membiarkan anak memilih sendiri pakaiannya, makanannya, dan segala keperluan kebutuhannya. Tidak menyeragamkan baju anak juga salah satu contoh untuk membantu anak memiliki keunikan. ✅

6⃣❓ *Widya, Tangerang*
assalamualaikum,  mohon pencerahan pak syaheedπŸ™πŸ»,  anak saya laki umur 12 tahun.  sedang lagi masa2 senang bermain,  bagaimana caranya agar di usia abege ini ananda tidak ikut2an teman-teman ya pak,  terkadang dirumah adalah anak yang diam  ternyata saat ngumpul dengan temannya suka diluar kontrol dan melupakan aturan dr rumah.  trimakasih pak.  πŸ™πŸ»

πŸ‘³‍♀ *Ayah Syaheed*
6⃣ Waalaikumsalam wr wb, Bunda Widya...

Usia 12 tahun memang fase grouping (peer group). Maka bisa dibantu dengan mencarikan komunitas yg bisa membantu anak tumbuh rasa percaya dirinya dan tidak membawa pengaruh buruk.

Tumbuhkan jati dirinya, individualitasnya agar ia tidak mudah terbawa arus.
Bisa dimulai dari hal-hal kecil untuk menumbuhkannya. Dengan meminta mereka memilih sendiri semua keperluan dan kebutuhannya. Misal minta dia membeli pakaiannya sendiri yang ia suka atau menu kesukaannya saat makan. Anak2 yg tidak punya jati diri dan individualitas biasanya akan selalu bertanya kepada orangtuanya, untuk menentukan pilihan. Maka orangtua dengan bijak mengarahkan agar ia memilih sendiri.

Selain itu, bisa juga dengan memberinya proyek kecil di rumah misal menentukan menu makanan di rumah selama sepekan atau trip ke tempat pilihan. Tumbuhkan kepercayaan dirinya, berikan ruang untuk menunjukkan keunikannya, individualitasnya.

Ajarkan ia untuk melawan jika dipaksa, minta ia berpendapat jika tidak setuju. Hal2 seperti itu insyaAllah bisa membantu ananda tumbuh individualitasnya.

InsyaAllah masih bisa jika ayah mau terlibat bersama anaknya. Akan sangat sulit jika ayah tidak bonding dengan anaknya. Sering2 beri anak project, tantangan dan belajar bersama maestro. ✅πŸ™πŸΌ

7⃣❓ *Yardha, Surabaya*
1. Pak, berdasarkan pengalaman pribadi Pak Sahid, bagaimana cara bapak mengelola diri jika melihat ada dua anak di bawah 7 tahun yang sedang berebut/bertengkar?

2. Bagaimana cara bapak menanamkan ego positif kepada anak?

πŸ‘³‍♀ *Ayah Syaheed*
7⃣ Bunda Yardha,

1. Kakak adik atau bukan? Jika bukan, saya memilih tidak mengintervensinya, dan akan membela anak yang mempertahankan haknya. Sembari mengajarkan kepada keduanya tentang barang milik pribadi dan bukan.

Kalau kakak adik,
Butuh peran Ayah disini, bu.

Ustadz Aad pernah menyampaikan, pertengkaran kakak dan adik itu sangat baik dalam mendidik anak. Kita disarankan untuk tidak melerai pertengkaran kakak dan adik, membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kecuali : sudah menggunakan alat/senjata tajam, membully, dan membahayakan.

Itu akan efektif untuk mereka belajar menyelesaikan konflik, dan jadi pelajaran bagi mereka jika menghadapi situasi demikian. Contohnya, ustadz Aad pernah mendapat laporan dari putranya bahwa ia tadi di sekolah memukul preman sekolah. Ustadz Aad lalu bertanya darimana adik belajar hal itu? Putranya menjawab bahwa ia pernah diperlakukan demikian oleh kakaknya. πŸ˜…

Tinggal peran ayah untuk memberikan insight peristiwa pertengkaran tersebut.

Jika kakaknya sudah berusia 7 thn ke atas, mungkin kita bisa mulai mengajarkan ia untuk sosialisasi dan pentingnya berbagi. Kalaupun kakaknya belum mau, tidak perlu dipaksakan juga. Kita kondisikan adiknya juga untuk tidak memaksa meminta barang yang bukan miliknya.

Ayah harus terlibat terkait mendidik egosentris ini.

2. Sudah terjawab di beberapa pertanyaan sebelumnya ya. Bisa dengan membiarkan anak memilih sendiri pakaian, makanan, warna, kebutuhannya. Memberikan nama yang khas dan unik, panggilan yang baik, tidak mengganggu privasi mereka dan mengintervensi hal2 pribadi mereka.

Ohya, egosentris beda dengan egoisme ya, bu. Bisa dibaca di pengantar. Egoisme mungkin negatif, egosentris itu lebih kepada jati diri, individualitas, ke-aku-an.✅

8⃣❓ *Aprilia, Surabaya*
Assalamu'alaikum bpk syaheed, saya ingin bertanya, jika dlm sebuah keluarga, ego ibu lebih tinggi daripada ego ayah, maka bagaimana anak-anak akan belajar tentang ego dirinya, apakah dari ibunya atau ayahnya?
Matur nuwun pak πŸ™πŸ»

πŸ‘³‍♀ *Ayah Syaheed*
8⃣ Waalaikumsalam wr wb, Bunda Aprilia...

Kalau kasusnya begitu, Bapak Ibunya dulu yang belajar. Saling Tazkiyatun Nafs dulu untuk menempatkan posisi dan sikap sebagai orangtua.

Ibunya bisa mengajarkan egosentris, tapi peran ayah tetap harus lebih besar. Supaya anak tidak salah menilai dan memandang peran ayah ibu kelak. Meski Bapak Ibunya salah latar belakangnya, tidak boleh berlanjut pada anak. πŸ™πŸΌπŸ˜Š✅

9⃣❓ *Suci, Sby*
Asslkm,  Pak sy ingin bertanya
1. Bagaimana cara meredam emosi anak laki2 4th apabila minta sesuatu ato tidak bisa melakukan sesuai hatinya selalu disertai rengekan/tangisan dan susah dirayunya kalo keinginannya blm dipenuhi.  Dikasihtau bundanya lari ke ayahnya dan memang biasanya yg lbh bs meredam emosi si kk adalah ayahnya.

2. Apakah rengekan tsb pengaruh karena ada si adek?  Skrng usia adek 15bln perempuan.  Padahal wkt msh bayi adek sayang bgt si kk, sekarang jadi agak susah mengalah dan dikasih pengertian. Sebagai ortu bagaimana utk sebaiknya adil?
Trmksh sblmnya .  πŸ™

πŸ‘³‍♀ *Ayah Syaheed*
9⃣ Waalaikumsalam wr wb.

1. Wah, ini materi bahasa bunda bahasa cinta nih... Peran ayah memang dibutuhkan jika anak tantrum begini. Ayah yang memberikan pengertian kepada ananda.

2. Apakah sejak kehamilan, si kakak dikenalkan dan didekatkan kepada calon adik yang ada di perut? Karena utk menumbuhkan ikatan, salah satu caranya adalah itu.
Keduanya masih usia egosentris, jadi agar adil adalah memperlakukannya secara proporsional sesuai kebutuhan mereka. ✅

πŸ”Ÿ❓ *Febi, Pacitan*
1.Bagaimana cara mengatasi anak saya yg pertama 3 th sulit sekali untuk berbagi sesuatu dengan adiknya 1 th, dan begitu jg adiknya juga tidak mau mengalah selalu menangis dan merengek?
2. Bagaimana menjelaskan untuk usia anak segitu jika keinginannya tidak selalu bisa di penuhi, karena sering di jelaskan atau di nasehati tidak bisa dan kalaupun bisa besok di ulangi lagi.
Terimakasih

πŸ‘³‍♀ *Ayah Syaheed*
πŸ”Ÿ Bunda Febi di Pacitan,

1. Keduanya masih usia egosentris, bu. Jangan intervensi agar keduanya bisa saling mengalah. Yang penting adalah ajarkan keduanya tentang barang yg menjadi haknya, dan barang milik orang lain.

2. Usia balita sih wajar jika harus dijelaskan setiap hari, bu. Memori mereka belum seperti orang dewasa. Jelaskan saja dengan bahasa yang bisa mereka memgerti. Dengan bahasa bunda bahasa cinta ajak mereka bicara. ✅

1⃣1⃣❓ *Upik, Pandaan*

1.Apa sebab anak keras kepala ?

2.Bagaimana membedakan antara teguh pendirian dan keras kepala?

πŸ‘³‍♀ *Ayah Syaheed*
1⃣1⃣ Keras kepala seperti apa contohnya ya Bunda? Jika anak mempertahankan haknya dan pendapatnya sebaiknya kita label dengan positive labeling, seperti kuat pendiriannya. Sejatinya manusia harus memiliki sikap ini jadi bersyukur kita ketika ananda berpendirian kuat. Memang pada awalnya kita kesulitan beradaptasi dengan sifat ini. Kuncinya pertama adalah memohon pada Allah agar kekuatan pendirian ini membawa ananda akan kekuatan iman.

Potensi "keras" ini yg sebaiknya kita arahkan pada berkembangnya fitrah iman dan fitrah belajar. Teguh pendirian dan keras kepala serupa, tapi yang satu dari kacamata positif yang satu negatif. ✅

1⃣2⃣❓ *Yarda, Surabaya*
Ada beberapa kondisi tidak ideal dalam keluarga, salah satunya ayah bekerja di luar kota dan hanya bertemu dengan anak sebulan sekali. bagaimana cara ayah untuk tetap menumbuhkan egosentris anak? Pada kondisi ini apa sang ibu masih belum bisa berperan menumbuhkan ego tersebut?

πŸ‘³‍♀ *Ayah Syaheed*
1⃣2⃣ Bisa, bu.
Tapi sekali lagi peran ayah tetap harus ada.
Jika kondisinya sudah sedemikian terpaksa. Ayah harus hadir walau hanya lewat alat komunikasi. Saat ini zaman sudah canggih, video call paling pas utk interaksi ayah dan anak utk menguatkan pertumbuhan egonya.

Ayah sebaiknya menunaikan kewajiban dalam moment istimewa yg selalu dinantikan dan diingat anak.
Tdk harus tiap saat, Namun ananda memiliki "date" dengan ayah yg sdh dinantikan. ✅

1⃣3⃣❓ *Niar, Sulawesi*
Anak saya perempuan berusia 2,5 thn sangat suka merespon sesuatu dengan menggunakan tangan/sentuhan.contoh : dia sering memeluk teman sebayanya tapi lalu kemudian dilanjutkan dengan mendorong atau memukul temannya tsb.hasilnya teman2 sebaya/sodaranya takut bermain dengan dia.
Bagaimana cara menasehati atau mengarahkan anak saya dengan tidak mencederai masa tumbuh kembang egonya?πŸ™

πŸ‘³‍♀ *Ayah Syaheed*
1⃣3⃣ Ananda bisa jadi memiliki kecendrungan bahasa cinta sentuhan. Namun, belum bisa mengendalikan diri. Coba bunda ajak ananda berempati dengan standard sentuhan yg "menyakitkan", misalnya melalui permainan, cerita, dan lagu.

Nanti kapan2 bahas tentang bahasa cinta disini.

Contoh: permainan, "ayo tebak, ini sentuhan sayang atau sentuhan yang membuat sakit?" Lihat reaksi anak. Jika jawaban keliru, kita tunjukan dengan ekspresi. "Bunda ngga suka kalau ada anak yang pukul-pukul, karena pukulan membuat sakit dan Marah."

Juga berikan reaksi yg tepat. Ketika anak menyentuh dengan sentuhan baik seperti mencium, memeluk, menggandeng, maka Ortu dan orang sekitarnya harus tersenyum dan respon yg positif. Sebaliknya, ketika anak memukul walau tujuannya bercanda, maka kita perlu memperlihatkan bahwa hal tersebut tdk baik, dengan ekspresi sedih. "Bercandanya tidak sambil memukul. Ayah jadi sakit". ✅

πŸš¦πŸš—πŸš™πŸš¦πŸš—πŸš™πŸš¦πŸš—πŸš™πŸš¦πŸš—πŸš™

*Penutup Diskusi*

πŸ•΅πŸ»‍♀ *Host*
Alhamdulilah.. Luarbiasa, speechless saya...

Baik, senang sekali kita dpt mendapatkan ilmu manfaat dari bp.Sahid..

Jazakallah bapakMarsahid,semoga menjadi amal jariyah buat Bapak dan keluarga ..

Karena waktu telah melewati jadwal yang ditentukan.. maka saya tutup dulu dengan bacaan alhamdulillahirobbill aalamiin..

Jazakumulloh ayahbunda HEbAT semua..

Mungkin ada kata2 penutup dari bapak Marsahid ?

πŸ‘³‍♀ *Ayah Syaheed*
Ayah harus hadir dalam mendidik anak, bu.
Karena bagaimanapun tanggung jawab pendidikan ada di ayah.
Lihat bagaimana kisah Lukman, Imran, Nabi Ibrahim dalam mendidik anak di Al Quran.
Peran Ayah dlm menumbuhkan ego hanyalah satu dari sekian banyak peran yang harus ayah jalankan dalam mendidik anak. ✅

〰〰〰〰〰
Saya mau cerita sedikit pengalaman membersamai selama 14 hari terakhir.

Kamis, 15 Desember, saat harus menyiapkan 3 macam raport, istri minta ditemani di rumah karena merasakan kontraksi. Tapi sampai sore belum ada tanda2 lagi. Kami justru dapat telepon sore dari guru klub renang anak2, bahwa putri kami, Khalila, terjatuh di kolam renang dan berdarah di bibirnya. Akhirnya khalila diantar pulang, saya menunggunya di depan pintu. Saat datang, putri saya masih menangis, dan saya mencoba menenangkannya. Di dalam rumah, bundanya juga sudah siap menyambut. Saya menawarkan khalila minuman dingin kesukaannya. Bundanya sebagai dokter di rumah memeriksa keadaan Khalila. Saya membantu membukan pakaian renangnya dan mengganti bajunya. Tangisnya berhenti, ia hanya bercerita sedikit. Bundanya memberikan beberapa herba untuk Khalila. Saya lalu memasakkan mie dan membuatkan coklat hangat untuk Khalila. Setelah itu khalila berangsur tenang kembali.

Keesokan harinya, kembali lagi saya harus menemani istri. Tapi menjelang siang mereda. Sampai menjelang sore belum ada tanda2.
Sehingga Jumat sore saya memutuskan mengerjakan raport hingga malam di sekolah.
Sabtu Pagi, istri saya merasakan kontraksi sudah mulai sering, sehingga saya harus menemaninya lagi. Melewatkan Parenthood Education Series (PES) bersama Ustadz Adriano Rusfi dan membagikan raport ke orangtua.

Kemudian saya mengantar istri ke bidan, sudah pembukaan 2. Istri langsung ditawarkan utk menunggu di bidan saja. Akhirnya kami pun menunggu di bidan. Namun rasa mules tanda kontraksinya justru hilang menjelang sore. Bidan menyarankan untuk pulang dulu. Kami pun pulang, barang2 ditinggal di bidan.

Malamnya, istri mencoba mondar mandir dan meminum sari kurma-minyak zaitun. Setelah itu, mulai kontraksi lagi. Semakin sering, tapi kami mengingat pesan bu bidan,"kalau 5 menit 2x ya..."
Maka sambil menyaksikan pertandingan sepakbola Thailand vs Indonesia, mencuci pakaian, saya mendampingi istri mondar mandir dan memeluk sambil mengusap pinggangnya saat kontraksi. Sambil melihat jam, menghitung....

Melihat kondisi istri, saya tawarkan untuk ke bidan, tapi istri bilang, belum sekarang. 20 menit setelah final piala AFF usai, kontraksi makin sering. Akhirnya saya langsung membawa istri ke bidan.

Sampai di bidan, oleh bu bidan langsung dibawa ke ruang bersalin. Setelah dicek, ternyata pembukaan 7-8. Saya diminta untuk menyiapkan pakaian ganti untuk istri, pakaian bayi dan kain.

Setelah itu, saya diminta bidan untuk duduk di samping ranjang bersalin dengan beberapa instruksi. Selama menemani istri melewati proses persalinan, saya memegangi tangan istri, mengusap kepalanya, memberikan motivasi dengan senyum dan bisikan2, serta memberikan minum. Hingga 45 menit kemudian bayinya lahir.

Setelah bayi lahir, proses belum usai. Karena ternyata ari2 bayi sebagian kecil hancur di dalam. Sambil IMD, saya mengadzani Bagas, putra saya. Saya pun masih berlanjut menemani istri saya sampai akhirnya dipindah ke kamar perawatan.

Setelah itu, saya menunggui istri dan putra saya. Ternyata bleeding-nya berlanjut. Selama satu malam hingga pagi, 4x saya membantu istri ke kamar mandi untuk mengganti pakaian. Saya mengelap darah istri yg tercecer di lantai.

Kami memilih nama Bagas yang artinya adalah Tangguh, kuat. Karena proses persalinan yang luar biasa. Saya merasakan ngantuk dan lelah yang luar biasa, tapi saya memilih untuk siaga.

Ahad sore, 18 Desember istri sudah diperbolehkan pulang. Karena rumah kami harus menggunakan tangga untuk masuk, maka kami memutuskan sementara tinggal di rumah orangtua istri saya. Hari-hari berlanjut dengan tugas sebagai ayah dan suami siaga. Karena kondisi istri setelah persalian ketiga ini Luar Biasa. Akibat dari kejadian2 tidak biasa selama proses persalinan. Sehingga istri saya belum bisa duduk dan sering bangun dari tempat tidur.

Maka, urusan mengganti popok, memandikan, membersihkan dan menggendong Bagas pun menjadi tugas saya.  Agenda Teacher Camp pun terpaksa saya lewatkan, demi menemani dan membantu istri saya mengurus Bagas. Saya berikan istri herba2 terbaik yg dibutuhkan. Gamat Emas, Spirulina, Madu dan Mengkudu. Alhamdulillah biidznillah, kondisi istri saya berangsur membaik. Bahkan di hari kesepuluh istri saya dan Bagas sudah bisa ikut survey tanah wakaf di daerah Bogor yg medannya luar biasa.

Selama menemani istri dan Bagas, kedua kakak Bagas (Khalila dan Ibrahim) juga membantu kami. Mengambilkan air hangat, mengambilkan popok dan pakaian dari rumah kami, mengambilkan minum untuk bundanya, dll. Kami merasakan kebersamaan yang luar biasa. Sambil menemani Bagas, saya manfaatkan waktu juga untuk banyak berdiskusi dan bercanda dengan kedua kakaknya.

Ada hikmah dibalik semua peristiwa, ada makna dibalik semua pertanda. Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana.

Bekasi, 28 Desember 2016
〰〰〰〰〰

Saya pamit ya, Ayah Bunda semua.

Jazakumullah khoir atas sambutan dan jamuannya...


Wassalamu'alaikum wr wb

πŸš¦πŸš—πŸš™πŸš¦πŸš—πŸš™πŸš¦πŸš—πŸš™πŸš¦πŸš—πŸš™

Tidak ada komentar:

Posting Komentar