Kamis, 05 Januari 2017

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

‼ *Dicari, Lelaki ”Luqmanul Hakim!”* ‼

Oleh : *Ustadz ADRIANO RUSFI, Psi.*

_"DUHAI Ananda, usah kau sekutukan Allah. Sungguh menyekutukan Allah itu aniaya yang besar"_

πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦TERBAYANG kalimat itu mengalir dari bibir lembut seorang ibu, mengajarkan tauhid pada Sang Buah Hati sambil mengusap rambutnya dengan penuh cinta. Terbayang raut wajah teduh keibuan, berbekal sayang bercampur cemas menasihati anaknya yang manja dipangkuan, agar terhindar dari murka Allah.

πŸ‘³πŸ½Tapi tidak. Itu ternyata bukan petuah bunda. Itu ternyata adalah *nasihat seorang ayah yang sedang menjalani tanggung jawab kelelakiannya sebagai Muslim untuk mendidik anaknya.* Petuah itu mengalun dari hati seorang lelaki sejati bernama *Luqmanul Hakim*, yang sadar penuh akan titah syariah bahwa kelelakiannya bukan hanya untuk membuahi dan mencari nafkah, tapi juga sebagai pendidik.

⁉Lalu, ke mana Luqman-Luqman itu kini? Ke mana kaum lelaki dan sang Ayah ketika narkoba mengepung anak-anaknya, ketika putranya tertangkap dalam huru-hara tawuran, atau ketika putrinya positif hamil di luar nikah? Yang tampak hanyalah para ibu yang tergopoh tunggang-langgang mengemasi beribu masalah dengan kedua tangan halusnya, sementara suaminya duduk manis di beranda menikmati layanan sehabis pulang kerja. Ketika itu para ibu memang memilih untuk tergopoh, tinimbang memikul rasa pilu dihardik suami dituduh tak becus mendidik anak.

πŸ™πŸ»Tergopoh mungkin menjadi takdir seorang istri masa kini, ketika Luqman-Luqman hilang entah ke mana. Yang tersisa tinggallah para suami yang telah mendegradasi perannya sebatas pencari nafkah keluarga belaka, sedangkan peran lainnya telah didelegasikan kepada sang istri. Seakan hak seorang lelaki tersaji dari langit begitu besarnya, bahkan hak untuk mendelagasikan tanggung jawab domestik apa pun. Karena sepertinya kiprah di dunia publik terasa lebih seksi dan bergengsi.

🏦Ruang publik memang seksi. Terasa lebih lapang dan warna-warni bagi para lelaki yang memang tercipta dengan kaki panjang-panjang. Dan menjadi pencari nafkah lebih menjanjikan martabat, karena segepok uang di saku bisa membeli kepatuhan dan memaksakan ketergantungan orang-orang di rumah. Daya pikat dunia luar rumah itu menggoda, bahkan bagi kaum ibu. Karena, bisa menjadi alasan jitu untuk keluar dari kepengapan domestik yang seringkali berakhir tragis, sambil sesekali berjalan di mal-mal membeli harga diri dari uang yang dicari sendiri.

🏑Maka, tersisalah rumah-rumah sunyi dihuni para istri yang ibu rumah tangga, berteman keluh kesah yang terpaksa didengarnya sendiri. Ia mengeluh tentang anak yang keras kepala, atau pornografi yang bersembunyi di kamar tidur, atau tetangga yang gemar bergunjing, atau tentang uang belanja yang makin susut oleh inflasi. Lalu, sang suami membalasnya tak berdaya, "Gajiku hanya segitu". Ia memang hanya bisa mengeluh, karena ia tak lagi punya suami yang piawai berdiskusi tentang anak yang masih mengompol atau tentang kenapa harga bawang melambung.

❓Entah siapa yang mulanya bersalah, sehingga lelaki tak lagi menjadi Luqmanul Hakim yang cakap memimpin, mencari nafkah, menjadi suami dan menjadi ayah. Mungkin saja itu bermula ketika lelaki memutuskan untuk mendegradasikan peran tradisionalnya. Atau barangkali ketika majelis ta'lim tak menawarkan kajian kerumahtanggaan kepada kaum ayah. Sementara, buku dan seminar tentang keluarga tak menganggap laki-laki adalah pasarnya.

❓Siapakah yang bersalah ketika seorang suami tak lagi peka membaca kerling kehendak sang istri yang disiratkan dalam kata bersayap khas perempuan? Majelis Taklim angkat bahu, karena ajakannya untuk mengaji kepada para lelaki selalu ditampik atas dalih waktu yang tersita di perburuan nafkah. Lalu siapakah yang bertanggung jawab kala ayah tak lagi bisa menemani keluh anaknya yang ditikam rasa jatuh cinta dengan teman sekelas? Pengelola seminar dan penerbit buku pun geleng kepala, karena yang selama mereka tahu itu memang urusannya para ibu.

✊🏻Hanya zaman yang tahu seberapa digdayakah seorang perempuan untuk mengemasi seluruh masalah rumah tangga dengan satu tangan, karena tangan yang satu lagi disibukkan oleh pengabdiannya bagi suami tercinta. Beban berat itu hanya dapat mereka adukan kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karena mereka tak dapat mengadu kepada suami yang telah berubah menjadi tuhan-tuhan kecil, tapi tanpa kasih sayang. Pernah mereka mengadukan hasrat untuk bersekolah lagi, tapi tuhan-tuhan kecil itu melarangnya tanpa sedikitpun empati, beralasan bahwa ibadah perempuan ada di dapur. Pernah mereka merayu untuk turut membantu mencari nafkah, namun lagi lagi tuhan-tuhan kecil itu menampiknya, mengutip firman Tuhan Yang Maha Besar bahwa perempuan harus tinggal di rumah.

Tuhan-tuhan kecil itu merasa telah mendapat mandat dari Tuhan Yang Maha Besar, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, untuk menjadi wakilNya di rumah tangga. Ya, mandat ketuhanan, namun tanpa sifat kasih dan sayang yang justru menjadi akhlaq utama Allah Subhanahu wa Ta'ala. Lalu, jadilah mereka diktator kecil yang memegang firman Tuhan di tangan kanannya, dan tangan kirinya menuding-nuding seisi rumah. Tuhan-tuhan kecil tanpa kasih-sayang ini kemudian membungkam suara-suara kebumian yang merengek dari dalam kamar, menyumpalnya dengan suara-suara langit. Tuhan-tuhan kecil ini minta ditaati secara absolut, berbekal kemampuannya memelintir dan memanipulasi firman Allah yang memang absolut itu.

Tinggallah para orang rumah yang tertindih dan tak dapat mengadu kepada siapa pun kecuali Allah. Tragis, karena mereka justru dituduh oleh orang yang Allah ciptakan sebagai teman mengadu. Dan adalah masuk akal jika tragedi yang lahir dari paradoks pada akhirnya akan berbuah keputusasaan. Dan keputusasaan yang tragis akan melahirkan tragedi-tragedi berkelanjutan. Keputusasaan yang hampa itulah yang akhirnya menakdirkan istri-istri yang bunuh diri, ibu-ibu yang membakar anaknya, atau perempuan-perempuan yang berjualan narkoba.

Tapi itu tak sepenuhnya kesalahan para lelaki. Kita, lingkungan, dan budaya patriarki kita yang feodal tak dapat cuci tangan sepenuhnya, karena kitalah yang telah mendegradasikan peran lelaki hanya sebatas pencari nafkah. Lingkunganlah yang menciptakan para suami yang rasional, namun sekaligus miskin emosional dan kepekaan batin. Budayalah yang melahirkan ayah-ayah yang besar kepala, namun kecil hati. Allah, rasulNya dan agama sama sekali tak dapat dipersalahkan dan turut bertanggung jawab. Karena titah agama teramat jelas, bahwa lelaki adalah pemimpin, suami, ayah, dan teman dalam rumah tangganya. Sedangkan mencari nafkah hanyalah alat bantu untuk menjalankan segala peran dan tanggung jawab itu.

🏑Dunia domestik memang tak mudah. Dan itulah yang membuat para suami, istri, dan anak-anak berlomba dan berpacu untuk meninggalkannya, masuk ke dunia publik yang lebih menggairahkan dan penuh penghargaan. Dunia domestik adalah dunia tanpa pujian, publikasi dan penghargaan, sehingga hanya manusia-manusia tulus yang mengidamkan ridhaNyalah yang akan sanggup bertahan di dalamnya. Dunia domestik itu rutin, monoton dan tanpa imbalan, yang modal dasarnya adalah keikhlasan. Sementara, dunia telah menyebabkan para lelaki menjadi terlalu maskulin, profesional, pragmatis, dan publikatif.

πŸ“Padahal, nun di Madinah sana lima belas abad silam, ketika Allah menurunkan ayat-ayat khusus untuk perempuan, ketika turun ayat ayat tentang rumah tangga dan pendidikan anak, Rasulullah Saw justru mengumpulkan para lelaki di masjidnya. Beliau sampaikan isinya dan beliau jelaskan maksudnya.. Lalu pada akhirnya beiau bersabda, _*"Pulanglah kalian, dan sampaikanlah kepada istri-istri dan anak-anak perempuan kalian".*_ Beliau, Shalallahu 'alaihi wassalam, adalah suami yang menumbuk tepung, mencuci pakaian, dan tahu cara menyenangkan istri-istrinya.

*Adalah kita yang harus memulai perubahan dan melahirkan kembali Luqmanul Hakim-Luqmanul Hakim yang baru.* Khotbah-khotbah Jumat perlu membahas tentang menjadi suami. Kantor-kantor tempat lelaki mencari nafkah perlu mengadakan kajian kerumahtanggaan. Masjid-masjid pasar tempat sang ayah berdagang perlu berceramah tentang pendidikan anak. Seminar-seminar komersial dan para penerbit buku perlu peduli dengan tema lelaki dan rumah tangga.

πŸ‘³πŸ½Penulis adalah psikolog, konsultan pendidikan, Dewan Pakar Masjid Salman ITB, dan konsultan SDM

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

πŸ‘€ *host* ‬:
Assalamu alaikum ustadz ahlan wa sahlan

πŸ‘³πŸ» *Ustadz Adriano Rusfi* :
Wa alaikumus salam

Mohon maaf terlambat, karena tadi masih di jalan

πŸ‘€ *host* :
Ahalan wa sahlan di Aceh kembali dengan ruang yang berbeda ustazd πŸ™πŸ»πŸ˜Š
πŸ‘³πŸ» *Ustadz Adriano Rusfi*:
Ahlan... Wa iyyaka....

πŸ‘€ *host* : Alhamdulillah ustadz Aad telah hadir di tengah2 kita. Dan membawa kabar gembira bahwa beliau akan datang ke Aceh pertengahan bulan ini πŸ˜€. Pucuk di cinta ulam tiba ustad, krn teman2 fasilitator Aceh tlh merencanakan kopdar pula
Semoga nanti dpt bersua pula dg Ustadz

Baik Ustadz, apakah dpt kita mulai diskusi santai malam ini?

πŸ‘³πŸ» *Ustadz Adriano Rusfi* :
Silakan
πŸ‘€host : Baik Ayah Bunda... bersama saya bunda Deasy selaku host malam ini akan ditemani juga oleh bunda Fitri, bunda Khazanatul Khairat sebagai co host, serta bunda Cici yg akan merangkum diskusi kita mlm ini.

Mari kita buka majelis ini dg basmalah.
*Bismillahirrohmaanirrohiim...*

Ustadz, izinkan kami membuka diskusi dengan pernyataan yg tertuang dlm materi pokok kita ini Ustadz πŸ™πŸ½

πŸ‘³πŸ» *Ustadz Adriano Rusfi* :
Silakan

πŸ‘€ *host* :
πŸ’ "Memulai HE adalah memulai utk mendidik diri kita sbg orangtua. *Memulai mendidik diri kita sbg ortu adalah diawali dg membaca ayat2 Allah, baik Qouliyah maupun Kauniyah*, kemudian mensucikan diri kita untuk mengembalikan fitrah fitrah yg baik yg Allah telah karuniakan kepada kita. *Mengemblikan kesadaran* akan peran peran kesejatian kita sbg ortu. Pekerjaan mendidik adalah pekerjaan para nabi sepanjang sejarah".

Bagaimana pandangan Ustadz terkait hal ini, Ustadz?
πŸ‘³πŸ» *Ustadz Adriano Rusfi*: Allah tak pernah kikir memberikan ilmuNya kepada hamba-hambaNya. Namun demikian, ilmu-ilmuNya selalu Ia turunkan dalam bentuk tanda dan isyarat (ayat). Hanya fitrah-fitrah yang bersihlah yang mampu menangkap segala isyarat IlmuNya.

Lalu, kenapa disamping menurunkan AlQur'an Allah juga mengutus RasulNya ? Karena dibutuhkan pendidik untuk mengajarkan kitabNya. Maka, sampai kapanpun kita tetap butuh sosok pendidik yang tak bisa digantikan oleh Google, Wikipedia dsb ✅

πŸ‘€ *host*: πŸ˜€πŸ˜€ Na'am Ustadz
πŸ‘€ *host* :
Dalam kondisi bagaimana Ustadz kita sbg orangtua mampu menangkap tanda dan isyarat tsb?

πŸ‘³πŸ»  *Ustadz Adriano Rusfi*:
Sudah dijelaskan dalam Surah Ali Imran ayat 190-191, bahwa orang yang mampu menangkap tanda dan isyarat Rabbani adalah orang-orang yang senantiasa berdzikir mengingat Allah, dan berfikir tentang penciptaan langit dan bumi

Di ayat lain Allah mengingatkan bahwa yang mampu menangkap isyarat Allah adalah orang-orang yang hatinya siaga (tidak berpaling) ✅

Beberapa ayat menyebutkan bahwa :

"Sungguh pada yang demikian itu terdapat isyarat-isyarat bagi mereka yang berakal, berfikir dan berilmu" ✅
πŸ‘€ *host* :
Allahu akbar..
Baik Ustadz, penanya berikutnya ada bunda Yulianti. Silahkan Bun...

πŸ‘©πŸ» *Yulianti* : Assalamu'alaikum Ustadz, bagaimana cara untuk mengatasi ketiadaan sosok ayah dalam keluarga karena bekerja diluar kota. Apakah harus dgn menghadirkan sosok ayah pengganti atau cukup dgn cerita dari saya sebagai ibu nya saja ttg ayahnya? Karena ketika ayahnya ada anak akan sangat manja, dan ketika ayah nya tidak ada, anak seolah tidak perduli dgn ketiadaan ayahnya. Apakah itu tidak akan merusak fitrahnya?

πŸ‘³πŸ» *Ustadz Adriano Rusfi* :
Bunda Yulianti, peran ayah dalam pendidikan anak tidak harus dalam bentuk kehadiran fisik. Ayah-ayah pada jaman salafush shalih pun sangat banyak yang tak hadir secara fisik karena berdagang, berdakwah. menuntut ilmu dsb. Sayapun adalah orang yang jarang dirumah.

Yang dituntut pada seorang ayah adalah tanggung jawabnya dalam pendidikan, pendampingannya terhadap istri, solusi-solusi strategisnya, yang semuanya dapat ia titipkan atau delegasikan kepada istrinya.

Di samping itu, ayah harus memanfaatkan secara optimal media-media komunikasi dan interaksi modern untuk melakukan pendidikan jarak jauh terhadap anak-anaknya.

Bahkan pada dasarnya ayah yang hatinya senantiasa bersama anak-anaknya akan mampu melakukan pendidikan "telepatik" terhadap anak-anaknya. Sebagaimana Umar ra mampu menginstruksikan pasukannya dari jarak ribuan km dalam peperangan melawan Persia.

Minimal, apakah seorang ayah masih menyertakan anak-anaknya saat ia berdoa kepada Allah dari tempat yang jauh ? ✅
πŸ‘©πŸ» *Laila* ‬:

Aslm wr wb...
Izin bertanya Ustz.
Mulai dari hal apa sang ayah mengambil perannya sebagai sang pendidik?

Apakah sebatas Peran yang tak bisa didelegasikan ke istri seperti peran2 sosok egosentris, sang tega, dan lainnya?

Atau setiap peran lainnya pun dapat diambil alih sang ayah?

Apakah kualitas dan kuantitas sama pentingnya dalam kehadiran sosok ayah ini?

Membaca Hajar RA yang mendidik Ismail AS bayi seorang diri,  kapan peran Ibrahim Mengejawantah dalam diri Ismail AS?.

πŸ‘³πŸ» *Ustadz Adriano Rusfi*:

Untuk Bunda Laila :
Pada dasarnya peran utama ayah dalam pendidikan anak-anaknya ada empat :

Pertama, penanggung jawab secara keseluruhan pendidikan terhadap anak, walau pelaksananya adalah bunda.

Kedua, merumuskan dan mengajarkan strategi pendidikan anak kepada istri

Ketiga, menjadi pendamping dan konsultan istri atas masalah-masalah yang dihadapi dalam pendidikan anak.

Keempat, melakukan eksekusi pendidikan khusus yang memang tak bisa didelegasikan kepada istri, seperti membangun ego, mencari nafkah, membentuk akal dsb.

Tentang Hajar ra, memang terkesan bahwa dia mendidik Ismail as sendirian. Padahal kalau disimak dari ayat-ayat AlQur'an, justru peran Ibrahim sangat besar. Tentunya tidak secara kuantitatif, tapi

Mari kita perhatikan doa-doa Ibrahim, bukankah ia sangat peduli dengan keluarganya ? Bahkan ketika Ibrahim as mendapat predikat sebagai "imam sekalian manusia", ia tetap memohon pada Allah agar anak-cucunyapun mendapat predikat serupa.

Dan setiap Ibrahim as mendapat perintah Allah untuk meninggalkan keluarganya, ia selalu menitipkan keluarganya kepada Allah. Di sinilah pentingnya "remote education" seorang ayah terhadap anak-anaknya. ✅


πŸ‘©πŸ» *Febrin* ‬: Assalamualaikum..ust. izin bertanya.
Bagaimana bila ada seorang ayah yg selalu hadir utk anaknya, mencontohkan kebaikan dan memerintahkannya. tetapi dimasa anak dewasa tdk mampu mjd spt yg diharapkan ortu bahkan salah jalan. Mohon pencerahan ttg apa yg harus diperbaiki Ustadz. Terimakasih.


πŸ‘³πŸ» *Ustadz Adriano Rusfi*:

Bunda Febrin :
Tugas ayah dan bunda hanyalah mendidik. Sedangkan hidayah adalah hak prerogatif Allah. Jangankan kita, bahkan nabi Nuh pun memiliki anak yang durhaka.

Oleh karenanya, yang bisa kita ikhtiarkan hanyalah upaya-upaya pendidikan sebagai berikut :

Pertama, menjadi teladan yang baik dalam perilaku sehari-hari

Kedua, membersihkan segala makanan, minuman, pakaian dsb untuk anak-anak kita dari hal yang haram, agar jiwanya bersih untuk menerima kebaikan

Ketiga, tak bosan-bosan untuk senantiasa berdoa pada Allah agar Ia mendidik anak-anak kita. Karena sejatinya Allah lah pendidik alam semesta (rabbul 'aalamiin) itu

Keempat, jangan pernah putus asa. Anak yang sekarang bermasalah boleh jadi kelak adalah anak shaleh yang membanggakan. Sebelum ajal tiba, banyak perubahan yang dapat terjadi ✅
πŸ‘©πŸ» *Fitri* ‬:
Izin bertanya...Lg ustadz..

Hal2 apa saja yang dapat merusak fitrah keayahbundaan kita ust?

Bagaimana kiat2 memelihara fitrah keayahbundaan kita?
trima kasih Ustadz...


πŸ‘³πŸ» *Ustadz Adriano Rusfi* :

 Bunda Fitri :
Hal-hal yang dapat merusak fitrah keayahbundaan diantaranya adalah :

Pertama, ambisi akan dunia, dan menjadikan simbol-simbol duniawi sebagai indikator keberhasilan. Akhirnya ayahbunda akan mendidik anaknya bukan atas fitrah, tapi atas ambisi. Ia ingin anaknya menjadi konglomerat, profesor dsb.

Kedua, hilangnya kerpercayaan diri dalam mendidik anak-anaknya, sehingga cenderung menjadi robot-robot parenting sebagaimana yang diajarkan oleh para pakar parenting. Fitrahnya tak digunakannya lagi. Ia mendidik secara mekanistik. Padahal pendidikan adalah perpaduan antara ilmu, seni dan intuisi (fitrah)

Ketiga, ia kurang mengenal dan mendekatkan diri kepada Tuhannya. Sehingga Allah tak dilibatkannya dalam pendidikan anak-anaknya. Fitrahnyapun menjadi tumpul, karena Allah berfirman "Fitrah Allah-lah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrahNya itu" ✅
πŸ‘©πŸ» Assalamualaykum ustad, trmksh sdh berbagi di Aceh...
Banyak sekali ilmu yg kmi dpt
Ijin bertanya Ustadz, tentang artikel di atas...
Ustadz ada menyebut tuhan2 kecil utk analogi bagi suami, klw yg saya fahami ini berkonotasi negatif ya ustadz,
yg sy ingin tanyakan, bagaimana sisi negatif seorang suami, atau ayah yang berciri apa saja bisa dikategorikan tuhan2 kecil...
Oia ustadz, afwan sebetulnya sy kurang sreg disebut tuhan2 kecil, krn blum pernah sy dapati dicontohkan oleh Rasulullah saw. Bgmn penjelasan Ustadz ttg hal ini.
Mohon pencerahannya ustad. Trmksh byk, jazakallaahu khairal jaza' Ustadz ya...


πŸ‘³πŸ» *Ustadz Adriano Rusfi*:
 Tentang "tuhan-tuhan kecil", Allah beberapa kali menyebutnya dalam AlQur'an melalui ungkapan "arbaaban" (rab-rab kecil) atau "aalihatan" (ilah-ilah kecil)

Seseorang atau ayah dikatakan telah menjadi "tuhan-tuhan kecil" jika telah mengambil hak-hak ketuhanan untuk dirinya, seperti : sewenang-wenang, tak boleh dibantah, dilayani tapi tak melayani, sepihak tidak timbal balik, selalu merasa benar dan tak mau disalahkan dsb.

Istilah "tuhan-tuhan kecil" dalam tulisan yang saya muat di koran pada tahun 2006, mengacu pada kasus real yang saya hadapi saat itu, di mana seorang istri telah membunuh tiga orang anaknya, diantaranya karena sang suami telah berperilaku sebagai "tuhan kecil" dalam rumahtangga. ✅
πŸ‘¦πŸ» :
Assalamu'alaikum Ustadz, ada pertanyaan titipan nih.

Bagaimana menghadapi istri yang sangat cuek terhadap anak-anak?

~ Widya, Aceh ~


πŸ‘³πŸ» *Ustadz Adriano Rusfi*:
Istri yang cuek dengan anak-anaknya adalah hal yang aneh dan janggal. Dapat dikatakan tercerabut dari fitrahnya. Banyak hal yang dapat menyebabkan hal tersebut :

Pertama, pendidikan rumahtangga yang memberikan keteladanan yang buruk dan miskin empati terhadap anak-anaknya. Sehingga anak-anaknya juga tumbuh sebagai orang yang miskin empati

Kedua, pendidikan sekolah yang terlalu berorientasi pada rasionalitas, sehingga melahirkan ibu-ibu yang rasional, logis, maskulin, miskin emosi, empati, cinta, ketulusan dsb.

Ketiga, ambisi-ambisi keduniaan yang luar biasa, seperti pencapaian karir, target kinerja di kantor, hasrat-hasrat material dsb. Sehingga fokusnya bukan lagi pada anak-anak.

Keempat, perkawinan yang tak diinginkan. Mungkin karena terpaksa, hamil di luar nikah dsb. Bagi perempuan semacam ini, anak-anak adalah sesuatu yang tak diharapkan ✅
πŸ‘©πŸ»‬ :
Jazakumullah khairan ustad atas pencerahannya...
Klw blh ijin bertanya lg Ustadz
Lalu bgmn, jika seandainya tuhan2 kecil tesebut hadir d rmh tangga, apa yg mesti diperbuat oleh istri, krn semua serba sepihak saja, kmudian klw dikaitkan dg pendidikan anak yg dpt kita lakukan agar seimbang lg tarbiyahnya, walopun peran ayah bs dikatakan sangat minim seperti itu, trmksh byk Ustadz


πŸ‘³πŸ» *Ustadz Adriano Rusfi*:
 Menghadapi "tuhan kecil" dalam rumah tangga bisa dilakukan dengan beberapa cara :

Pertama, jangan dilawan

Kedua, justru hadapi dengan kelembutan. Sebagaimana Musa menghadapi Fir'aun. Maskulinitas yang berlebihan hanya dapat dicairkan lewat femininitas yang penuh cinta, ketulusan, empati, kasih sayang, bahkan air mata. ✅
πŸ‘€ *host*: Alhamdulillah, jazakallah, Ustadz.

Sudah lewat 15 menit dari waktu Kulwap. Apakah mau dilanjutkan atau dicukupkan, Ustadz ?

 πŸ‘³πŸ» *Ustadz Adriano Rusfi*:
Saya rasa cukup dulu ya

πŸ‘€ *host* :
Baik, Ustadz.
Jazakallah khoir atas keluangan waktu dan ilmunya malam ini.

πŸ‘³πŸ» *Ustadz Adriano Rusfi*:
Wa iyyakum. Semoga bermanfaat

πŸ‘€ *host* :
Ustad, di zaman sekarang...visi hidup (keluarga) yang bagaimana yg semestinya dimiliki seorang ayah sehingga mampu mengatakan:

_"DUHAI Ananda, usah kau sekutukan Allah. Sungguh menyekutukan Allah itu aniaya yang besar"_?
πŸ‘³πŸ» *Ustadz Adriano Rusfi*:
Visi utama dalam pendidikan adalah syukur. Itulah yang dua kali disebutkan dalam Surah Luqman saat ia akan mendidik anaknya

πŸ‘€ *Host :*: Alhamdulillah...
Begitu banyak pencerahan dan ilmu yang kita dapatkan malam ini dari Ustadz Adriano Rusfi.

Sekali lagi, Jazakallah khoir atas ilmunya, Ustadz.

Semoga menjadikan kami sebagai orangtua2 pendidik peradaban bagi anak-anak.

πŸ‘³πŸ» *Ustadz Adriano Rusfi*: Wa iyyaka

Sama-sama. Bahkan sebagian besar yang saya sampaikan di sini adalah pengingat untuk diri saya sendiri
Aamiin

πŸ‘€ *host*:
Baiklah Ayah Bunda hebat pendidik peradaban, mari kita tutup kulwap  malam ini dengan doa kafaratul majelis :

Ψ³ُΨ¨ْΨ­َΨ§Ω†َΩƒَ Ψ§Ω„Ω„َّΩ‡ُΩ…َّ وَΨ¨ِΨ­َΩ…ْΨ―ِΩƒَ Ψ£َΨ΄ْΩ‡َΨ―ُ Ψ£َΩ†ْ Ω„Ψ§َ Ψ₯ِΩ„Ω‡َ Ψ₯ِΩ„Ψ§َّ Ψ£َΩ†ْΨͺَ Ψ£َΨ³ْΨͺَΨΊْفِΨ±ُΩƒَ وَΨ£َΨͺُوْΨ¨ُ Ψ₯ِΩ„َيْΩƒَ

“Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allailahailla anta astaghfiruka wa’atubu ilaik”

Artinya : “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada tiada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi, Shahih)

Aamiin Yaa Rabb...

Dari kami yang bertugas, mohon maaf atas segala khilafπŸ™πŸ™

Wassalaamu'alaikum wr.wb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar