Kamis, 16 Maret 2017

Aliran Rasa Game Kemandirian

Game kedua kelas Bunda Sayang kali ini adalah melatih kemandirian.
Mengapa kita perlu melatih kemandirian?
Jawabannya, sejatinya tugas orangtua adalah mampu mempersiapkan anak untuk berpisah dengan orangtuananya.

Anak akan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.
Tanpa dia harus mengandalkan bantuan dari orangtuanya.

Kami pun demikian, ingin kami membuat anak-anak kami mampu mandiri sesuai dengan usianya.
Untuk kali ini, kami baru melatih Chacha (3y11m), karena Aluna masih bayi, belum bisa dilatih. Bayi masih tergantung penuh pada bantuan orang lain, terutama orangtuanya.

Ada empat
 jenis kemandirian yang akan kami latih, yaitu
1. Kemandirian keterampilan hidup
Pada kemandirian jenis ini kami berusaha melatih kemandirian Chacha untuk mampu melakukan :
* Makan sendiri
* Pakai Baju Sendiri
* Mencuci piring makannya sendiri
* Membereskan mainan sendiri

2. Kemandirian Psikososial
Kami ingin melatih kemandirian Chacha dalam menyelesaikan konflik.
Kami akan membiarkannya menyelesaikan konfliknya sendiri, baik konflik dengan adiknya ataupun dengan teman sebayanya.

3. Kemandirian Belajar
Kami tidak akan memintanya untuk belajar sesuatu.
Kami berikan padanya kebebasan untuk belajar.

4. Kemandirian Emosional
Pada kemandirian ini, kami berharap Chacha mengenali dirinya sendiri.
Mampu mengungkapkan apa yang dirasakannya.
Mengenali beragam emosi yang dia miliki.

Prosesnya tidak mudah.
Banyak sekali hambatannya.
Mulai dari mood Chacha yang up and down, kami yang kurang sabar atau juga intervensi dari mama utinya.

Yang paling sering tidak berhasil adalah melatih Chacha untuk makan sendiri.
Jika waktu berangkat sekolah dan dia belum selesai sarapan, ini yang membuat kami sering menyerah.
Kami buru-buru menyuapinya.
Lalu kami siasati dengan memberi waktu sarapan lebih lama.
Dan alhamdulillah ini berhasil.

Jika untuk mencuci piring makannya sendiri, dia selalu antusias.
Tapi jadi tak terlaksana saat saya sedang bekerja atau tidak ada di rumah.
Saat saya tidak ada, mama utinya tidak membolehkan Chacha untuk mencuci piring kotornya sendiri.
Saya maklumi itu, mungkin karena mama tidak bisa mengawasi dan menciptakan situasi aman yang mendukung Chacha untuk cuci piring sendiri.
Sebab jika saya tidak ada di rumah, mama tidak hanya mengawasi Chacha tapi juga adiknya.

Untuk memakai pakaian sendiri, Chacha juga juara.
Ya walaupun kadang menurut saya bajunya nggak matching,, hi hi
Dan korbannya, baju di lemari jadi berantakan.
Its okay, next time kami akan latih Chacha membereskan lemari bajunya sendiri.

Setiap bermain, sekarang Chacha tidak lupa untuk selalu membereskan mainannya sendiri.
Alhamdulillah, pekerjaan says berkurang satu.

Kemandirian psikososialnya mulai mantap.
Dia mulai bisa menyelesaikan konflik yang dihadapi.
Khususnya konflik dengan adiknya.
Bila adiknya memegang mainan yang dia inginkan, dia tak lagi marah-marah.
Dia ambil dengan baik-baik, sambil ditukar dengan mainan lainnya.
Alhamdulillah.
Di rumah kami, tidak ada aturan " Kakak harus mengalah sama adik "
Karena setiap anak memiliki hak milik.
Apalagi usia pra latih, sesuai dengan fitrahnyacmasih berada pada egosentris belum sosiosentris.
Kami ingin anak-anak kami tumbuh sesuai dengan fitrahnya.

Chacha sudah mandiri belajar.
Dia yang menentukan ingin belajar apa hari ini.
Kami tak pernah memaksanya belajar.
Apalagi untuk belajar calistung.

Untuk kemandirian emosional, Chacha juaranya.
Dia sudah bisa mengungkapkan segala jenis emosi yang dirasakan.
Mulai dari senang, sedih, marah sampai ngambek.

Alhamdulillah..
Semoga kami konsisten untuk terus melatih kemandiriannya sesuai dengan perkembangan usianya.
Jalan yang dilalui memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa.
Teruslah tumbuh bidadari kecilku.
Tumbuh berdasarkan fitrah yang kau miliki.

Yes I Can.
Yes We Can

Tidak ada komentar:

Posting Komentar