Rabu, 17 Mei 2017

Ketakutan Saya

Tema pertama di writing challenge ini membuat saya sedikit membongkar memori tujuh belas tahun yang lalu.
Kala saya masih berusia 13 tahun, usia awal menapaki masa remaja.
Saya yang remaja adalah pribadi yang biasa-biasa saja.
Menjalani masa remaja dengan sewajarnya.

Suka nonton bioskop bareng teman.
Beli majalah ataupun kaset terbaru dari penyanyi idola.
Jika ditanya apa yang bikin saya takut saat remaja,, jawabannya adalah : takut dimarahi Abi.

Abi, panggilan yang saya tujukan pada Almarhum kakek saya.
Sejak kelas 4 SD saya tinggal bersama Abi dan Umi (Kakek -Nenek).
Abi sangat disiplin dan dulu saya seringcmenganggapnya kolot.
Sebagai cucu perempuan banyak sekali aturan yang harus saya terima.
Tidak boleh pulang lebih dari jam 6 sore.
Adalah aturan yang paling menyiksa bagi saya.
Mengapa? Namanya juga anak remaja, lagi suka-sukanya nongkrong bareng teman.
Tapi aturan jam malam itu membuat gerak saya terbatas.

Ada juga aturan lain : tidak boleh memakai baju yang terlalu terbuka.
Kalau ini saya sepakat, saya memang tidak punya baju yang terlalu terbuka.
Ya iyalah,, secar tiap beli baju juga sama Abi, pasti sudah disortir duluan.
Namun, ketika saat SMP saya pernah bergabung dengan cheerleader.
Dan tentu saja kostum cheerleader itu gimana.
Saya selalu menyimpan baik-baik kostum saya, jangan sampai ketauan Abi.
Tapi apes, suatu ketika kostum itu ditemukan Abi.
Itulah akhir karir saya sebagai pemandu sorak.

Seiring berjalannya waktu, sikap Abi mulai berubah.
Saya memiliki banyak kelonggraan ketika kelas 2 SMA.
Saat itu, Abi mengijinkan saya aktif di berbagai kegiatan sekolah.
Dan memaklumi jika saya pulang larut karena mengurusi acara sekolah.

Kepercayaan yang Abi berikan tidak saya sia-siakan.
Saya jaga kepercayaan Abi.
Dengan tetap berprestasi walaupun sibuk di OSIS.
Abi semakin senang dan percaya ketika saya memutuskan untuk berhijab.








Sejak saat itu Abi selalu menjadi pendukung setiap keputusan saya.
Termasuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Universitas.
Di keluarga besar saya, saya menjadi perempuan pertama yang kuliah.
Cukup membuat banyak keluarga heran.
Kenapa saya tidak menikah saja saat lulus SMA.
Kenapa perempuan harus sekolah tinggi-tinggi.
Ya, karena di keluarga besar saya kebanyakan perempuan menikah setelah lulus SMA.

Ahh,, menulis kisah ini membuat saya semakin merindukan Abi.
Sudah 7 tahun Abi pergi.
Terimakasih Abi, atas kasih sayang yang telah diberikan.
Terimakasih, atas semua larangannya.

#day1
#30DayWritingChallenge

Tidak ada komentar:

Posting Komentar